NAMA PEMILIK
Nisya membaca pesan itu tiga kali.
> **Sekarang tidak salah.**
Di sekelilingnya, kantin tetap ramai.
Nala sedang menghitung uang kembalian.
Dimas berdebat soal siapa yang harus membawa laptop minggu depan.
Seseorang di meja belakang memanggil penjual mi ayam.
Tidak ada yang memperhatikan wajah Nisya.
Ia membuka rincian transfer sekali lagi.
Rp1.
Catatan:
> **Untuk Avee.**
Nisya menekan kolom balasan.
Mengetik:
**Siapa ini?**
Ia tidak langsung mengirim.
Jempolnya berhenti di atas tanda panah.
Ada pertanyaan yang kalau tidak diajukan, jawabannya masih bisa dianggap tidak ada.
Nisya menghapusnya.
Memasukkan ponsel ke tas.
“Nis.”
“Hm?”
“Lo denger enggak?” tanya Nala.
“Denger.”
“Gue ngomong apa?”
Nisya menatapnya.
Nala tertawa.
“Gue bilang juga apa.”
“Maaf.”
“Kenapa sih dari tadi?”
“Laper.”
“Rotinya kan ada.”
Nisya mengeluarkan roti tawar yang sudah gepeng dari tas.
Nala memandangnya dengan iba.
“Kadang gue enggak ngerti cara lo memperlakukan diri sendiri.”
“Kenapa?”
“Itu bukan makan siang.”
“Kalau dimakan siang-siang, namanya makan siang.”
“Logika orang miskin memang sulit dibantah.”
Nisya tersenyum kecil.
Ia membuka plastik roti.
Ponselnya bergetar dari dalam tas.
Sekali.
Ia tidak memeriksanya.
—
Pesan itu baru dibuka di toilet kampus.
Nisya memilih bilik paling ujung, menutup pintu, lalu duduk di atas kloset tanpa melepas celana.
Nomor yang sama.
> **Aku mencari pemilik nomor ini sebelum kamu.**
Nisya membaca kalimat itu perlahan.
Bukan orangnya.
Nomornya.
Ia mengetik:
**Saya sudah pakai nomor ini lebih dari tiga tahun.**
Mengirim.
Balasan datang sebelum tanda centang kedua berubah warna.
> **Aku tahu.**
Nisya menahan napas.
Di bilik sebelah terdengar bunyi keran kecil. Seseorang menggulung tisu. Pintu dibuka, lalu langkah kaki menjauh.
Ia mengetik lagi.
**Kalau cari pemilik lama, tanya operator. Jangan ganggu saya.**
Kali ini balasan tidak langsung datang.
Lima detik.
Sepuluh.
Dua puluh.
Nisya menunggu sambil memperhatikan tulisan spidol di pintu toilet.
**JANGAN LUPA BAHAGIA**
Huruf A terakhir hampir terhapus.
Ponselnya bergetar.
> **Namanya Avee.**
Nisya berdiri terlalu cepat.
Kepalanya membentur kait tas di belakang pintu.
“Anjing.”
Suara itu keluar lebih keras daripada yang ia inginkan.
Seorang perempuan di dekat wastafel bertanya, “Mbak, enggak apa-apa?”
“Iya.”
Nisya memasukkan ponsel ke saku.
Membuka pintu bilik.
Perempuan di depan cermin menatapnya sebentar, lalu kembali merapikan jilbab.
Nisya mencuci tangan.
Air mengalir dingin melewati jari-jarinya.
Di cermin, wajahnya terlihat biasa.
Sedikit pucat.
Sedikit kurang tidur.
Tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa satu nama baru saja berpindah tempat.
Dari layar pembayaran.
Ke mulut orang lain.
—
Pukul 14.06 Nisya tiba di spa.
Mbak Rani sedang berdiri di belakang meja resepsionis sambil memindahkan jadwal dari buku besar ke kertas kecil.
“Telat enam menit.”
“Angkotnya ngetem.”
“Alasan klasik.”
“Karena masalahnya klasik.”
Mbak Rani menyerahkan kertas jadwal.
“Jam tiga member baru. Minta pijat sembilan puluh menit.”
“Yang cerewet?”
“Belum tahu. Tapi mintanya banyak.”
Nisya membaca catatan di bawah nama pelanggan.
**Tekanan sedang. Bahu kanan. Jangan terlalu banyak bicara.**
“Bagus.”
“Apanya?”
“Jangan terlalu banyak bicara.”
Mbak Rani mendengus.
“Ganti baju sana.”
Di ruang loker, Nisya melepas kemeja kampus dan menggantinya dengan seragam cokelat. Rambutnya digulung lebih tinggi. Kartu nama di saku apron masih berada di tempat yang sama.
**NISYA CIKA**
Ia menyentuh ujung kartu itu dengan ibu jari.
Lalu teringat pesan tadi.
**Namanya Avee.**
Nisya memasukkan kartu lebih dalam.
Menutup loker.
—
Pelanggan baru datang tepat pukul tiga.
Laki-laki sekitar lima puluh tahun.
Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi langkahnya berat. Ia memakai kemeja biru muda yang bagian punggungnya lebih gelap oleh keringat.
“Pertama kali, Pak?” tanya Mbak Rani.
“Iya.”
“Dengan Nisya, ya.”
Laki-laki itu menoleh kepada Nisya.
“Nisya?”
“Iya, Pak.”
“Nama lengkap?”
“Nisya Cika.”
“Cika itu nama belakang?”
Nisya tersenyum.
“Bukan.”
Laki-laki itu menunggu penjelasan.
Nisya tidak memberikannya.
Mbak Rani menyerahkan formulir.
“Bapak isi dulu keluhannya.”
Mereka masuk ke ruang pijat nomor dua tujuh menit kemudian.
Lampu diredupkan.
Musik instrumental dinyalakan pelan.
Laki-laki itu berbaring tengkurap, wajah masuk ke lubang kecil di ujung ranjang.
“Bahu kanan, Pak?”
“Iya. Sampai bawah sedikit.”
Nisya menuangkan minyak ke telapak tangan.
Menggosokkannya perlahan sampai hangat.
Lalu meletakkan kedua tangan di punggung pelanggan.
Tubuh laki-laki itu menegang sebentar.
Nisya menunggu.
Biasanya setiap tubuh memerlukan beberapa detik untuk menerima tangan orang asing.
Setelah ototnya mengendur, Nisya mulai bekerja.
Telapak tangan bergerak dari pinggang ke bahu.
Kembali turun.
Naik lagi dengan tekanan lebih dalam.
Ia hafal tubuh manusia sebagai peta.
Bagian yang sakit selalu memberi tanda.
Otot mengeras.
Napas memendek.
Jari kaki bergerak sedikit.
Bahu kanan laki-laki itu memang lebih kaku.
Namun di bawah tulang belikat kiri, Nisya menemukan sesuatu yang lain.
Bukan benjolan.
Bukan cedera.
Hanya bentuk.
Satu lekukan kecil di dekat tulang belakang.
Tangannya berhenti.
Sangat sebentar.
Cukup singkat untuk tidak disadari pelanggan.
Nisya menekan bagian itu dengan ibu jari.
Seketika sebuah perasaan muncul.
Bukan ingatan.
Tidak ada wajah.
Tidak ada tempat.
Hanya rasa akrab yang terlalu utuh.
Seolah-olah tangannya sudah pernah berada di sana.
Bukan di punggung yang mirip.
Di punggung itu.
Nisya menarik tangannya.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu.
“Enggak apa-apa, Pak.”
“Sakit?”
“Bukan.”
Ia menuangkan minyak lagi, meskipun tangannya masih cukup licin.
Mencari waktu.
Mencari alasan agar tidak menyentuh tempat yang sama.
Namun pekerjaan harus diselesaikan.
Nisya kembali meletakkan telapak tangan di punggung pelanggan.
Kali ini tidak ada apa-apa.
Kulit.
Tulang.
Otot.
Tubuh seorang laki-laki yang baru pertama kali datang.
Itu saja.
“Tekanannya cukup?” tanya Nisya.
“Cukup.”
Napas pelanggan kembali teratur.
Beberapa menit kemudian ia tertidur.
Nisya melanjutkan pijatan sambil menghitung gerakannya.
Delapan kali bahu kanan.
Delapan kali bahu kiri.
Tiga kali sepanjang tulang belakang.
Dua kali pinggang.
Angka lebih bisa dipercaya daripada perasaan.
—
Sesi selesai pukul 16.38.
Laki-laki itu keluar dari kamar dengan wajah lebih ringan.
“Enak,” katanya kepada Mbak Rani. “Tangannya kecil, tapi pas.”
Mbak Rani tersenyum seperti pujian itu ditujukan kepadanya.
“Kalau cocok nanti bisa minta Nisya lagi.”
“Boleh.”
Laki-laki itu membayar di meja resepsionis.
Kemudian menoleh kepada Nisya.
“Bisa minta kode buat tip?”
Nisya membuka aplikasi pembayaran.
Menunjukkan kode di layar.
Laki-laki itu memindainya.
Wajahnya berubah sedikit.
“Kok Avee, bukan Nisya?”
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih sempit.
Nisya tetap tersenyum.
“Di sini enggak ada yang pakai nama asli, Om.”
Laki-laki itu tertawa kecil.
“Rahasia semua, ya?”
“Biar aman.”
Ia mengetik sesuatu, lalu menekan kirim.
Ponsel Nisya bergetar.
**Pembayaran diterima.**
Rp100.000.
“Terima kasih, Om.”
“Sama-sama.”
Laki-laki itu pergi.
Bel di atas pintu berdenting satu kali.
Mbak Rani menunggu sampai ia benar-benar keluar.
“Seratus?”
Nisya mengangguk.
“Member baru rasa member lama.”
“Apaan.”
“Cocok sama lo.”
Nisya mengambil botol air.
Minum tanpa menjawab.
Tangannya masih mengingat lekukan kecil di punggung laki-laki itu.
Padahal pikirannya tidak.
—
Pukul 17.02, saat menyiapkan ruang untuk pelanggan berikutnya, ponsel Nisya bergetar.
Nomor yang sama.
Ia hampir tidak membukanya.
Hampir.
> **Kamu tidak perlu takut.**
Nisya mengetik cepat.
**Berhenti hubungi saya.**
Balasan datang.
> **Aku cuma ingin memastikan satu hal.**
**Apa?**
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Nisya berdiri sendirian di ruang pijat nomor dua. Sprei sudah diganti. Handuk tersusun di ujung ranjang. Musik instrumental masih memainkan lagu yang sama seperti lima menit sebelumnya.
Pesan berikutnya masuk.
> **Kamu pernah mengenali seseorang hanya dari punggungnya?**
Nisya menjatuhkan ponsel.
Benda itu mengenai lantai dengan layar menghadap ke atas.
Tidak pecah.
Tidak mati.
Kalimat itu tetap menyala.
Menunggu seperti tubuh yang belum selesai disentuh.

Tulis komentar