NEGARA DALAM BAHAYA
24 SEPTEMBER 1999
05.17
Hujan sudah berhenti ketika Firman terbangun.
Ia tidak langsung bangkit.
Di punggungnya masih ada satu tangan kecil.
Nisya tertidur di samping tikar, pipinya menempel pada lengan sendiri. Botol minyak kayu putih terbuka di dekat lututnya. Televisi menyala tanpa suara.
Firman menoleh ke arah jendela.
Langit belum terang.
Ia mengambil kaus dari sandaran kursi, lalu menyelimuti anaknya.
Gerakannya membangunkan Nisya.
“Ayah mau ke mana?”
“Kerja.”
“Masih gelap.”
“Nanti juga terang.”
“Pulang sore?”
Firman diam sesaat.
“Kalau jalan enggak ditutup.”
Nisya belum mengerti kenapa jalan bisa ditutup.
Ia hanya tahu ayahnya pergi dengan kemeja kotak-kotak, tas selempang cokelat, dan kamera yang bukan miliknya.
Kamera itu selalu dibungkus kain.
Seperti benda yang tidak boleh diketahui orang.
—
07.06
Mesin cetak mulai berputar.
Suara logam beradu memenuhi bangunan sempit di belakang pertokoan Palmerah. Udara berbau tinta, kertas basah, dan rokok yang diisap terburu-buru.
Firman berdiri di depan tumpukan kertas.
Huruf-huruf hitam keluar satu demi satu.
TOLAK UU PENANGGULANGAN KEADAAN BAHAYA
Di bawahnya terdapat lima baris tulisan yang lebih kecil.
Firman tidak membaca semuanya.
Ia sudah membacanya semalam.
Keadaan darurat.
Kewenangan tentara.
Pembatasan berkumpul.
Penggeledahan.
Penahanan.
Kata-kata resmi selalu dicetak rapi.
Akibatnya tidak.
“Man.”
Pemilik percetakan muncul dari balik pintu.
“Ini terakhir.”
Firman tidak menghentikan mesin.
“Masih dua rim.”
“Berhenti.”
“Sudah dibayar.”
“Bukan soal dibayar.”
Pemilik percetakan menutup pintu depan, lalu menurunkan separuh tirai besi.
“Semalam sudah disahkan.”
Firman menoleh.
“Makanya harus selesai.”
“Mereka bisa datang.”
“Siapa?”
“Jangan goblok.”
Firman menarik satu lembar dari mesin.
Tinta pada kata BAHAYA belum kering.
“Kalau mereka datang karena selembar kertas,” katanya, “berarti kertasnya memang penting.”
“Lo punya anak.”
Firman memandang huruf-huruf di tangannya.
“Makanya gue cetak.”
—
08.32
Nisya duduk di lantai dapur.
Di depannya ada selembar kertas dan tiga pensil pendek.
Ia menggambar ayahnya.
Kepala.
Rambut.
Dua mata.
Mulut yang terlalu lebar.
Kemudian tubuh berbentuk kotak.
Ibunya berdiri di dekat radio.
Suara penyiar tersendat oleh desis.
“…mahasiswa kembali bergerak menuju gedung DPR…”
Ibunya memutar kenop.
“…menolak Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya…”
Desis lagi.
Nisya mengangkat gambarnya.
“Mirip Ayah?”
Ibunya tidak melihat.
“Masuk kamar dulu.”
“Kenapa?”
“Main di kamar.”
“Aku lagi gambar.”
“Nisya.”
Nada suara itu membuatnya berhenti bertanya.
Ia membawa kertas dan pensil ke kamar.
Gambar Firman belum memiliki tangan.
—
09.48
Truk bak terbuka berhenti dua ruas sebelum kompleks parlemen.
Jalan di depan dipenuhi manusia.
Jaket almamater bergerak seperti potongan warna di antara bus kota, spanduk, dan barisan petugas.
Firman turun membawa dua kardus.
Seorang mahasiswa menyambutnya.
“Dari Bang Seno?”
Firman mengangguk.
“Semua?”
“Dua ribu.”
Mahasiswa itu mengangkat salah satu kardus.
“Bapak enggak ikut masuk, kan?”
“Kenapa?”
“Katanya hari ini bakal keras.”
“Katanya siapa?”
“Semua orang.”
Firman melihat ke kejauhan.
Di atas kepala massa, sebuah spanduk terbentang.
NEGARA BUKAN BARAK
Ia mengeluarkan kamera dari tas.
Mahasiswa itu memperhatikannya.
“Wartawan?”
“Bukan.”
“Terus motret buat siapa?”
Firman memeriksa sisa film.
“Buat nanti.”
—
11.23
Toko-toko mulai menutup pintu.
Bus menurunkan penumpang sebelum Semanggi. Orang-orang melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kabar berpindah lebih cepat daripada kendaraan.
Tentara ditambah.
Mahasiswa mengepung.
Ada yang membawa bom.
Ada yang ditembak.
Belum ada yang tahu mana yang benar.
Firman berdiri di tepi kerumunan.
Kameranya mengarah pada barisan tameng.
Klik.
Seorang mahasiswa membagikan pasta gigi untuk dioleskan di bawah mata.
Klik.
Ibu-ibu menyerahkan kantong air minum dari atas gerobak.
Klik.
Seorang laki-laki berteriak bahwa Reformasi telah dikhianati.
Firman tidak memotret laki-laki itu.
Ia memotret seorang petugas yang masih sangat muda.
Tangan pemuda itu gemetar di balik tameng.
—
13.04
Nisya kembali ke dapur.
Radio masih menyala.
Ibunya sedang mengupas bawang, tetapi tak satu pun bawang masuk ke penggorengan.
“Bahaya itu apa?”
Pisau berhenti.
“Kata siapa?”
“Yang di radio.”
Ibunya mengecilkan suara.
“Enggak usah didengar.”
“Kalau negara bahaya, rumah kita ikut bahaya?”
“Siapa bilang negara bahaya?”
“Radio.”
Ibunya meletakkan pisau.
“Negara enggak sedang bahaya.”
“Terus?”
“Orang-orang sedang bertengkar soal siapa yang boleh mengatakan negara dalam bahaya.”
Nisya mengangguk meskipun tidak paham.
“Kalau Ayah boleh?”
Ibunya menatap pintu.
“Tidak.”
—
14.37
Gas pertama ditembakkan.
Massa pecah.
Firman melihat orang berlari ke segala arah sambil menutup wajah dengan kaus. Sebuah sandal tertinggal di tengah jalan. Spanduk diinjak. Kardus berisi selebaran terbalik ke selokan.
Ia mengangkat kamera.
Klik.
Seseorang menabrak bahunya.
Klik.
Barisan petugas bergerak maju.
Klik.
Kemudian dunia berubah putih.
Firman batuk sampai kehilangan keseimbangan.
Matanya seperti disiram air cabai. Ia meraba-raba aspal, menemukan tangan seseorang, lalu menariknya berdiri.
“Ke kampus!” teriak seseorang.
Mereka berlari menuju Atma Jaya.
Firman tidak tahu siapa yang ditolongnya.
Pemuda itu juga tidak tahu siapa Firman.
Di tengah gas air mata, nama tidak banyak berguna.
Tangan masih berguna.
—
16.11
Telepon umum di ujung gang berdering.
Ibunya Nisya berlari keluar.
Nisya mengikuti sampai pintu, tetapi dilarang mendekat.
Percakapan itu pendek.
“Halo?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Man, pulang.”
“Firman.”
Sambungan terputus.
Ibunya tetap memegang gagang telepon.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
“Halo?”
—
17.42
Langit Jakarta menguning oleh asap.
Mahasiswa membawa orang-orang yang terluka melewati gerbang kampus. Meja, papan pengumuman, dan pintu yang dilepas berubah menjadi tandu.
Firman berdiri di dekat dinding.
Kemejanya robek pada bagian bahu.
Ada darah di lengan kanannya.
Bukan darahnya.
Seseorang berteriak meminta kendaraan.
Seseorang yang lain berteriak bahwa peluru yang digunakan peluru tajam.
Lalu terdengar letusan.
Satu.
Dua.
Orang-orang merunduk.
Firman tidak.
Di seberang pagar, ia melihat laras senjata bergerak.
Kameranya terangkat.
Klik.
Seorang mahasiswa menarik kemejanya.
“Tunduk, Pak!”
Letusan berikutnya lebih dekat.
Dinding di belakang mereka memuntahkan serpihan.
Firman jatuh.
Kamera terlepas dari tangannya.
Mahasiswa tadi meraih kamera itu.
“Mau mati, Pak?”
Firman mengambilnya kembali.
“Belum.”
Ia membuka bagian belakang kamera.
Mengeluarkan gulungan film.
Memasukkannya ke dalam kaus kaki.
Kamera kosong dikembalikan ke tas.
—
19.28
Nama Yap Yun Hap belum masuk berita.
Di radio, yang terdengar baru bentrokan.
Korban.
Tembakan.
Pemerintah meminta masyarakat tenang.
Nisya duduk di depan pintu rumah.
Gambar ayahnya sudah selesai.
Kini Firman memiliki tangan.
Jari-jarinya dibuat panjang sampai menyentuh lutut.
“Kok tangannya begitu?” tanya ibunya.
“Biar bisa nolong orang dari jauh.”
Ibunya memalingkan wajah.
—
22.16
Firman pulang tanpa kamera.
Ia berjalan pincang.
Kemejanya kotor. Salah satu kancingnya hilang. Ada garis merah di bawah mata dan luka terbuka pada siku.
Nisya berdiri di ambang pintu.
Ia tidak langsung mengenali ayahnya.
Bukan karena wajah Firman berubah.
Cara berjalannya yang berubah.
“Ayah kenapa?”
“Jatuh.”
“Di mana?”
“Jalan.”
“Kok darah?”
“Bukan punya Ayah.”
Ibunya menarik Firman masuk.
“Kameranya?”
“Hilang.”
“Filmnya?”
Firman tidak menjawab.
Ia melepas sepatu.
Dari kaus kaki kirinya, ia mengeluarkan gulungan film kecil berwarna hitam.
Ibunya menatap benda itu.
“Apa yang kamu foto?”
“Yang mereka lakukan.”
“Buang.”
“Tidak.”
“Kita punya anak.”
Firman menoleh kepada Nisya.
Anak itu masih memegang gambar yang dibuatnya sejak pagi.
“Ayah jelek,” kata Nisya.
Firman tersenyum.
“Gambarnya atau orangnya?”
“Orangnya.”
“Kalau gambarnya?”
“Bagus.”
Firman berjongkok untuk melihatnya.
Gerakan itu membuatnya meringis.
Nisya memperhatikan bahu ayahnya.
“Sakit?”
“Sedikit.”
“Dipijat?”
“Nanti.”
Nisya menarik tangan Firman.
“Sekarang.”
—
22.43
Firman tengkurap di atas tikar.
Kemeja kotak-kotaknya tergeletak di lantai. Ia masih memakai kaus tipis yang telah berubah kelabu oleh debu dan keringat.
Nisya duduk di sampingnya.
Kedua telapak tangannya menekan bahu kanan.
Turun ke tengah.
Menyilang ke kiri.
Firman mendesis.
“Yang ini sakit?”
“Bukan.”
“Bohong.”
Firman tertawa pendek.
“Sedikit.”
Di bawah kain, Nisya menemukan bagian yang selalu dikenalnya.
Cekungan kecil di bawah tulang belikat kiri.
Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.
Otot di sekitarnya keras.
Napas Firman tertahan ketika ditekan.
“Ayah takut?”
Pertanyaan itu membuat Firman membuka mata.
“Kenapa tanya begitu?”
“Punggung Ayah bilang.”
Firman menoleh kepadanya.
Dari radio terdengar nama tempat yang belum dipahami Nisya.
Semanggi.
DPR.
Atma Jaya.
Keadaan bahaya.
Kata-kata itu masuk ke rumah mereka, bercampur dengan bau minyak kayu putih dan pakaian yang basah oleh keringat.
Firman meraih gambar di samping tikar.
“Kenapa tangan Ayah panjang?”
“Biar bisa nolong orang dari jauh.”
Firman memandangnya lama.
Lalu ia melipat gambar itu menjadi empat.
Gulungan film dimasukkan di dalam lipatannya.
“Simpen.”
“Di mana?”
“Di tempat barang-barang kamu.”
“Kenapa?”
“Supaya Ayah enggak lupa.”
“Kalau aku yang lupa?”
Firman tersenyum.
“Tanganmu enggak gampang lupa.”
—
25 SEPTEMBER 1999
06.10
Koran pagi menampilkan foto bentrokan.
Asap.
Tameng.
Mahasiswa berlari.
Seorang laki-laki tergeletak.
Tidak ada Firman di dalam foto.
Namanya tidak muncul di bawah gambar.
Ia bukan mahasiswa.
Bukan wartawan.
Bukan orang penting.
Ia hanya pekerja percetakan yang menyelesaikan dua ribu selebaran setelah diperintahkan berhenti.
Ia hanya seorang ayah yang memotret ketika orang lain merunduk.
Ia hanya satu tubuh tanpa nama di antara ribuan tubuh yang berlari, batuk, jatuh, lalu bangkit lagi.
Namun pagi itu Nisya mulai mengenali ayahnya secara utuh.
Bukan dari wajah.
Bukan dari pekerjaannya.
Bukan dari kata-kata yang tidak dimengertinya.
Dari punggung.
Dari bagian tubuh yang menanggung semua hal yang tidak pernah Firman ceritakan.
Bertahun-tahun kemudian, Nisya akan melupakan suara radio malam itu.
Ia akan lupa gambar yang pernah dibuatnya.
Ia bahkan akan lupa di mana gulungan film itu disimpan.
Tetapi kedua tangannya tetap mengingat ketakutan yang bersembunyi di bawah tulang belikat kiri Firman.
Bahu kanan.
Turun ke tengah.
Menyilang ke kiri.
Berhenti pada cekungan kecil.
Di sanalah ayahnya menyimpan rasa sakit.
Di sanalah sejarah pertama kali menyentuh Nisya.

Tulis komentar