S SAMODRO STORIESWEBSERIES
BULAN SEKARAT
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 7

BULAN SEKARAT

August 30, 2026

“Puisi?”

Nisya mengangguk.

Pak Adrian belum mengangkat wajah. Ia masih membaca lembar proposal yang baru saja Nisya letakkan di mejanya.

Ruangan dosen itu dingin berlebihan. AC tua menggantung di atas lemari arsip dan mengembuskan udara dengan bunyi seperti orang tidur pilek. Di luar, suara motor dari parkiran kampus masuk melalui jendela yang tidak menutup sempurna.

Pak Adrian membalik halaman.

“Kenapa puisi?”

Pertanyaan kedua.

Nisya mulai curiga pertanyaan pertama tadi bukan pertanyaan.

“Lebih pendek, Pak.”

Pak Adrian akhirnya menatapnya.

“Lebih pendek?”

“Iya.”

“Supaya skripsinya lebih pendek?”

“Kalau bisa.”

Pak Adrian melepas kacamatanya.

Nisya menahan senyum.

Sejak semester enam ia sudah mendengar berbagai cerita tentang skripsi. Ada yang mengganti judul tiga kali. Ada yang dosen pembimbingnya menghilang berminggu-minggu. Ada yang proposalnya dikembalikan hanya karena margin. Ada pula yang katanya hampir setahun tidak maju dari Bab Dua.

Nisya tidak punya kemewahan semacam itu.

Setiap semester berarti uang.

Setiap bulan berarti uang.

Bahkan setiap perjalanan dari rumah Bude ke kampus berarti bensin, makan, fotokopi, dan sesekali pesan dari bagian administrasi yang membuat perutnya mulas sebelum dibuka.

Pak Adrian memasang kembali kacamatanya.

“Kalau mau pendek, bikin status Facebook.”

Nisya tertawa.

Pak Adrian tidak.

Ia menunduk lagi.

“Percy Bysshe Shelley.”

“Iya, Pak.”

“Kenapa Shelley?”

Nah.

Yang ini Nisya belum punya jawaban bagus.

Ia sudah menyiapkan jawaban untuk mengapa puisi, mengapa intrinsic elements, bahkan sudah mencari beberapa jurnal yang judulnya cukup rumit untuk dimasukkan ke daftar pustaka sementara.

Tetapi kenapa Shelley?

“Karena saya suka puisinya.”

“Yang mana?”

Nisya membuka map bening di pangkuannya. Beberapa lembar print-out ada di dalam. Salah satunya penuh stabilo kuning.

Ia menyerahkannya.

Pak Adrian membaca judulnya.

The Waning Moon.

Hening sebentar.

Kemudian ia membaca beberapa baris pertama.

Nisya sudah hafal bagian itu.

Bukan karena puisinya panjang.

Justru karena pendek.

Bulan muncul dari timur yang muram seperti seorang perempuan yang sedang sekarat—kurus, pucat, terbungkus kain tipis, berjalan terhuyung keluar dari kamarnya.

Pertama kali membacanya, Nisya merasa Shelley keterlaluan.

Orang normal melihat bulan lalu berpikir bulan.

Penyair melihat bulan lalu melihat perempuan hampir mati.

“Menarik,” kata Pak Adrian.

Nisya sedikit tegak.

“Tapi kalau cuma intrinsic elements, kamu akan selesai terlalu cepat.”

Bukankah itu bagus?

Nisya tidak mengatakannya.

“Imagery, personification, metaphor, diction. Terus?”

“Theme?”

“Terus?”

Nisya diam.

Pak Adrian mengembalikan kertas itu.

“Jangan bedah puisi seperti membongkar motor. Ini karburatornya, ini businya, ini bannya. Selesai. Kamu harus tahu kenapa gambaran seperti itu lahir.”

Ia mengetuk lembar puisi dengan telunjuk.

“Shelley hidup kapan?”

“Romantic period.”

“Siapa yang ada di sekelilingnya?”

Nisya menyebut beberapa nama yang masih tersisa dari mata kuliah British Literature.

“Byron.”

“Ya.”

“Keats.”

“Ya.”

Ia berpikir.

“Mary Shelley.”

“Nah.”

Pak Adrian bersandar.

“Buka dunianya. Lihat karya orang-orang sezamannya. Lukisan kalau perlu. Cara mereka melihat alam, tubuh, kematian. Baru kamu punya konteks untuk mengatakan kenapa bulan bisa berubah menjadi dying lady.”

Nisya melihat lagi lembar itu.

Ia sebenarnya hanya ingin lulus.

Itulah seluruh rencana besarnya.

Lulus.

Punya ijazah.

Cari pekerjaan yang ada meja, komputer, jam makan siang, mungkin kartu identitas yang digantung di leher. Pekerjaan yang kalau seseorang bertanya, kerja di mana?, ia bisa menjawab tanpa perlu memikirkan siapa yang bertanya.

“Pak.”

“Hm?”

“Kalau saya ambil ini, Bapak mau membimbing?”

Pak Adrian menatapnya beberapa detik.

“Kamu sedang memilih topik atau memilih pembimbing?”

“Dua-duanya.”

Kali ini Pak Adrian tertawa.

“Kurang ajar.”

Nisya ikut tertawa.

“Bikin proposalnya lagi. Jangan terlalu luas. Minggu depan bawa.”

“Berarti Bapak mau?”

“Saya bilang bawa minggu depan.”

Itu cukup.

Nisya memasukkan kembali kertas-kertasnya ke map.

Ketika berdiri, telepon di dalam tasnya bergetar.

Satu pesan.

Ia tidak membukanya.

“Dan Nisya.”

Ia berhenti di pintu.

“Ya, Pak?”

“Jangan pilih objek penelitian hanya karena pendek.”

“Iya, Pak.”

“Kadang yang pendek justru paling susah diterangkan.”

Nisya tersenyum.

“Siap.”


Di koridor ia baru membuka telepon.

Pesan dari Bude.

Pulang jam berapa?

Nisya mengetik:

Sore. Mau beli apa?

Tiga titik muncul.

Benang obras putih 2. Jangan salah lagi.

Nisya terkekeh.

Iya Bu Bos.

Ia memasukkan ponsel ke tas dan berjalan menuju tangga.

Di lantai bawah beberapa mahasiswa duduk bergerombol. Ada yang membahas jadwal sidang. Dua perempuan berfoto di depan papan pengumuman. Seseorang berlari sambil membawa map yang hampir sama dengan miliknya.

Dunia terasa sangat biasa.

Nisya menyukainya.

Di kampus, persoalan terbesar bisa berupa dosen yang sulit ditemui, nilai C, uang semester, atau judul skripsi yang ditolak.

Ia ingin persoalan hidupnya sesederhana itu.

Di parkiran, sebelum memasukkan kunci motor, ponselnya bergetar lagi.

Nomor lain.

Nisya melihat layar cukup lama.

Ia mengenal nomor itu.

Mbak, jadi pikir-pikir pindah ke sini?

Pesan kedua masuk.

Kalau soal uang, di sini beda.

Nisya tidak membalas.

Ia memasukkan ponsel ke saku jaket.

Menghidupkan motor.

Lalu berhenti.

Mengeluarkan ponselnya lagi.

Membaca pesan itu sekali lagi.

Kalau soal uang, di sini beda.

Beberapa bulan sebelumnya, kalimat yang hampir sama pernah membuatnya datang ke sebuah ruko di Cikalong.

Dan untuk pertama kalinya melihat dua belas perempuan menunggu di satu ruangan.

Ada yang sedang makan.

Ada yang tidur.

Ada yang menggambar alis di depan kaca.

Ada yang tertawa keras sambil menghitung uang.

Di dekat pintu, tiga lelaki muda bermain gim di telepon mereka.

Salah satunya kemudian mengangkat kepala dan tersenyum ramah kepadanya.

“Baru, Mbak?”

Nisya mengangguk.

Lelaki itu berdiri dan membukakan pintu.

“Masuk aja. Jangan takut.”

Nisya masuk.

Kelak ia tahu lelaki itu salah satu orang yang menjaga tempat tersebut.

Kelak ia juga tahu bahwa kalimat jangan takut di Cikalong bisa mempunyai terlalu banyak arti.

Tetapi sore itu ia belum tahu apa-apa.

Ia hanya tahu satu hal.

Gajinya hampir dua kali lipat.

Dan uang kuliahnya belum lunas.

◉ 2 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads
Diskusi Pembaca

Tulis komentar

Komentar pertama butuh moderasi. Komentar berikutnya langsung tayang.

Tulis komentar