S SAMODRO STORIESWEBSERIES
DUA KALI LIPAT
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 8

DUA KALI LIPAT

August 30, 2026

“Berapa?”

“Dua.”

Nisya mengira ia salah dengar.

“Dua apa?”

Perempuan di depannya mengembuskan asap rokok ke samping. Namanya Mira. Usianya mungkin tiga puluh, mungkin lebih. Sulit ditebak. Rambutnya dipotong sebahu dan dicat cokelat terang. Kukunya panjang, masing-masing dihiasi serpihan kecil warna emas.

“Dua kali tempat lu sekarang.”

Nisya tidak langsung menjawab.

Mereka duduk di warung kopi yang sebenarnya lebih banyak menjual mi instan daripada kopi, tidak jauh dari pertigaan Cikalong. Motor dan angkot lewat tanpa jeda. Sesekali truk besar membuat gelas plastik di meja bergetar.

“Basic?”

Mira tertawa.

“Lu kerja di bank?”

“Maksud gue, dua kali itu apanya?”

“Kalau rame. Room, tip, OT. Ya pinter-pinter lu.”

“Nggak ada gaji tetap?”

“Emang tempat lu sekarang ada?”

Nisya diam.

“Makanya.”

Mira mengetuk abu rokok ke piring kecil.

“Di sini ceweknya banyak, tamunya juga banyak. Lu jangan lihat bagiannya doang. Yang penting muter.”

“Berapa cewek?”

“Sekarang sebelas. Lu masuk dua belas.”

Dua belas.

Tempat Nisya sekarang tidak pernah punya lebih dari enam orang dalam satu shift. Kalau sore sepi, mereka bahkan bisa tidur bergantian di sofa belakang.

“Room berapa?”

“Delapan.”

“Delapan?”

“Yang atas enam. Bawah dua.”

“Ruko segitu?”

“Lu kira hotel?”

Nisya tersenyum.

“Disekat.”

“Nyaman?”

“Kalau mau nyaman banget ya pijat di Ritz-Carlton.”

Mira kembali tertawa.

Nisya mulai menyukai perempuan itu.

“Gue lihat dulu boleh?”

“Makanya gue ajak lu.”

Mira mematikan rokoknya.

“Ayo.”


Dari luar, tempat itu tidak terlihat istimewa.

Dua ruko digabung menjadi satu. Kacanya gelap. Di atas pintu ada papan nama berwarna merah marun dengan tulisan FAMILY SPA & REFLEXOLOGY.

Nisya berhenti sebentar di trotoar.

“Family?”

Mira sudah membuka pintu.

“Semua orang punya keluarga.”

“Anjing.”

Mira tertawa.

“Cepet masuk.”

Begitu pintu tertutup, suara jalan raya lenyap.

Dingin AC langsung menyergap.

Di meja depan duduk seorang laki-laki muda berkaus hitam. Umurnya mungkin dua puluh tiga. Ia sedang mengedit foto di ponsel.

“Ini yang gue bilang,” kata Mira.

Laki-laki itu menoleh.

Matanya bergerak dari wajah Nisya ke sepatu, lalu kembali ke wajah.

Bukan tatapan kurang ajar.

Lebih seperti orang memeriksa barang kiriman sesuai pesanan.

“Namanya?”

“Nisya.”

“Nanti namanya jangan Nisya.”

“Kenapa?”

“Udah ada.”

Nisya menoleh kepada Mira.

Mira mengangkat bahu.

“Pikirin nanti.”

Laki-laki itu mengulurkan tangan.

“Syam.”

Nisya menjabatnya.

Tangannya kecil. Tidak seperti bodyguard.

Di meja ada laptop, dua powerbank, buku tulis, bungkus rokok, dan tiga telepon genggam. Salah satunya terus berbunyi.

Syam mengambilnya.

“Ya, Bos?”

Ia mendengarkan.

“Available banyak. Mau yang slim apa berisi?”

Nisya melirik Mira.

Mira sudah berjalan ke dalam.

“Ayo.”

Lorong sempit membawa mereka menuju sebuah ruangan yang jauh lebih besar daripada dugaan Nisya.

Dan di situlah ia melihat mereka.

Perempuan.

Di mana-mana.

Dua orang sedang makan nasi Padang di lantai. Seorang tidur memeluk bantal sofa. Tiga perempuan berdesakan di depan cermin panjang, bergantian memakai maskara. Seseorang sedang mengeringkan rambut. Dua lainnya menonton video dari satu ponsel sambil tertawa sampai terbatuk.

“Mir, siapa?”

“Anak baru.”

“Cantik.”

“Masih trial.”

“Namanya siapa?”

“Nisya.”

Dari depan cermin seseorang langsung menyahut.

“Lah, Nisya kan udah ada.”

Ruangan meledak oleh beberapa suara sekaligus.

“Makanya!”

“Ganti nama!”

“Nisa pake S apa Z?”

“Kalau Z jadi Nizwa, goblok.”

Nisya berdiri di pintu, masih membawa tasnya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia tertawa.

Seorang perempuan bertubuh mungil bergeser di sofa.

“Duduk sini, Nis.”

“Belum tentu jadi.”

“Semua juga bilang begitu.”

Tawa lagi.

Nisya duduk.

Di meja panjang ada kosmetik, botol air, sisir, charger, sambal sachet, bedak tabur, parfum murah, tisu basah, minyak kayu putih, dua bungkus gorengan dan sebuah kalkulator.

Aneh.

Tempat itu tidak terasa seperti sarang kejahatan.

Lebih mirip backstage pertunjukan yang tidak pernah selesai.

“Lu kuliah?” tanya perempuan di sebelahnya.

Nisya menoleh.

“Kok tahu?”

“Tas lu.”

Nisya melihat tasnya.

“Apa salahnya?”

“Anak kuliah tasnya banyak kertas.”

Perempuan itu mengulurkan tangan.

“Rere.”

“Nisya.”

“Jurusan?”

“Sastra Inggris.”

Rere membelalakkan mata.

“Wih.”

Seseorang dari depan cermin ikut menoleh.

“Ngapain lu di sini?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Tidak jahat.

Justru itu yang membuat Nisya tidak tahu harus menjawab apa.

Rere menepuk paha perempuan tadi.

“Emang kita semua nggak boleh sekolah?”

“Bukan gitu.”

“Terus?”

“Ya nanya.”

Nisya tersenyum.

“Lagi butuh duit.”

“Oh.”

Selesai.

Tidak ada yang bertanya lagi.

Seolah dua kata itu sudah merupakan biografi lengkap.


Mira mengajaknya naik.

Enam kamar berjajar di lantai dua. Sempit, tetapi bersih. Lampunya redup. Setiap kamar memiliki ranjang pijat, lemari kecil, gantungan pakaian dan shower yang dipisahkan tirai.

“Handuk?”

“Laundry tiap hari.”

“Seprai?”

“Ganti.”

“Kalau tamu rese?”

“Pencet.”

Mira menunjuk tombol kecil di bawah sisi meja.

“Bunyinya di depan.”

“Syam?”

“Syam, Diki, Boy. Malam biasanya ada satu lagi.”

Nisya teringat laki-laki kurus di meja depan.

“Syam bisa berantem?”

Mira berhenti.

“Lu mau nyoba?”

“Bukan.”

“Jangan lihat badannya.”

Mereka turun lagi.

Di lorong dekat kasir, Syam sedang memotret seorang terapis dengan ponselnya.

“Geser dikit.”

Perempuan itu mengubah posisi.

“Jangan senyum lebar. Senyum mahal.”

“Tai lu, Yam.”

“Ya kalau senyum kondangan nggak laku.”

Klik.

Syam memeriksa hasilnya.

“Cakep.”

“Edit perut gue.”

“Lu nggak punya perut.”

“Makanya tambahin.”

Syam mengacungkan jari tengah.

Nisya tertawa.

Mira mendekat.

“Mereka yang pegang medsos.”

“Bodyguard merangkap admin?”

“Namanya efisiensi.”

Di dinding belakang meja kasir ada sebuah papan putih.

Nama-nama ditulis dalam kolom.

AVAILABLE.

ROOM.

OT.

Beberapa nama diberi tanda merah.

Nisya membaca sebentar.

Di sampingnya ada papan lain.

Hasil pemeriksaan kesehatan.

Nama.

Tanggal.

Status.

Dan di bawahnya, dengan huruf besar:

100% CLEAN.

Nisya mengernyit.

“Clean?”

Mira mengikuti pandangannya.

“Buat tamu.”

“Clean dari apa?”

“Ya itu.”

“Itu apaan?”

Mira menatapnya sebentar.

Kemudian terkekeh.

“Lu kebanyakan kuliah.”

Nisya masih melihat papan itu.

Ada sesuatu dalam kalimat tersebut yang mengganggunya.

Bukan karena ia belum mengerti.

Justru karena ia mengerti.


Mereka kembali ke ruang terapis.

Sekarang dua perempuan yang tadi berdandan sudah hilang.

“Room,” kata Rere ketika Nisya mencarinya dengan mata.

Tak lama kemudian Syam masuk.

“Yang bisa Mandarin siapa?”

Tak ada yang menjawab.

“English?”

Beberapa kepala langsung menoleh kepada Nisya.

Nisya mengangkat kedua tangan.

“Gue belum kerja di sini.”

Syam tersenyum.

“Belum.”

Ponselnya berbunyi lagi.

Ia keluar.

Mira duduk di hadapan Nisya.

“Gimana?”

Nisya melihat sekeliling.

Sebelas perempuan.

Delapan kamar.

Empat orang menjaga tempat.

Tamu keluar-masuk.

Dua kali lipat.

Ia memikirkan uang kuliah.

Motor.

Bensin.

Bude.

Dan sesuatu yang selalu datang setiap akhir bulan dengan ketepatan yang jauh lebih baik daripada kebahagiaan:

tagihan.

“Ada training?” tanyanya.

Mira mengangguk.

“Massage lu udah bisa?”

“Bisa.”

“Yang lainnya?”

Nisya tidak menjawab.

Mira memahami.

“Diajari.”

“Apanya?”

“Semua yang dijual di sini.”

Tidak ada perubahan nada ketika ia mengatakannya.

Seolah sedang menjelaskan menu.

“Kalau gue nggak mau?”

“Ya jangan.”

Nisya sedikit terkejut.

“Boleh?”

“Boleh.”

Mira mengambil rokok dari tas.

“Tapi jangan nanti lihat anak-anak bawa pulang tiga kali duit lu terus ngomel.”

Ia menyalakan rokok.

“Asal lu tahu harga keputusan lu sendiri.”

Kalimat itu tinggal beberapa detik di antara mereka.

Nisya mengangguk.

“Gue pikirin.”

Mira tersenyum.

“Pikirin.”


Malam itu, Bude sedang mengobras daster ketika Nisya pulang.

Mesin jahit meraung memenuhi ruang depan.

Nisya melepas sepatu, masuk, kemudian menjatuhkan tubuh di kursi plastik.

Bude tidak berhenti bekerja.

“Dari mana?”

“Kampus.”

“Bohong.”

Nisya menoleh.

Mesin berhenti.

Bude menggigit benang.

“Kampusmu sekarang bau rokok?”

Nisya mencium bajunya sendiri.

Sial.

Bude memasang kain berikutnya.

“Dapat tawaran kerja.”

“Di mana?”

“Cikalong.”

Mesin kembali bergerak.

“Yang sekarang juga Cikalong.”

“Tempat lain.”

“Lebih bagus?”

Nisya berpikir.

“Lebih gede.”

Bude mengangguk.

“Gajinya?”

“Bisa dua kali.”

Mesin berhenti lagi.

Kali ini Bude menatapnya.

Lama.

“Bisa?”

“Katanya.”

“Berarti belum tentu.”

Nisya tersenyum kecil.

“Bude kalau ngomong kayak dosen.”

“Dosenmu lebih cantik dari Bude?”

“Cowok.”

“Ya jangan dibandingin.”

Mesin kembali meraung.

Nisya bersandar.

Beberapa saat mereka tidak bicara.

Kemudian Bude berkata tanpa melihatnya,

“Kalau uangnya lebih besar, biasanya yang dibeli dari kita juga lebih banyak.”

Nisya menoleh.

Bude terus menjahit.

Seolah tidak mengatakan apa-apa.

Nisya memandang perempuan itu—rambut mulai beruban, kacamata turun di ujung hidung, kaki menginjak pedal mesin yang sudah bertahun-tahun menjadi sumber hidupnya.

Di meja dekat jendela ada plastik berisi daster yang belum selesai.

Di atasnya terselip sebuah amplop.

Nisya mengenali tulisan di depan.

Nama Bude.

Tulisan tangan laki-laki.

“Siapa?”

Bude melirik amplop itu.

“Oh.”

“Siapa?”

“Pak Hadi.”

“Yang punya toko material?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Ngajak nikah.”

Nisya langsung duduk tegak.

“HAH?”

Bude menaikkan alis.

“Kenapa kamu yang kaget?”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Bude jawab apa?”

Mesin berhenti.

Bude mengangkat daster yang baru selesai diobras, memeriksa jahitannya, lalu melipatnya dengan tenang.

“Dia sudah punya istri.”

Nisya menunggu.

Bude meletakkan daster itu di tumpukan.

“Bude juga sudah punya hidup.”

◉ 3 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads
Diskusi Pembaca

Tulis komentar

Komentar pertama butuh moderasi. Komentar berikutnya langsung tayang.

Tulis komentar