S SAMODRO STORIESWEBSERIES
SUARA MESIN
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 9

SUARA MESIN

August 30, 2026

Tiga bulan setelah pindah, Nisya berhenti menghitung penghasilannya setiap malam.

Bukan karena uangnya sudah banyak.

Karena ia mulai tahu polanya.

Senin biasanya sepi.

Jumat sulit ditebak.

Sabtu bisa membuat dua belas terapis bergantian masuk kamar tanpa sempat makan.

Tanggal muda selalu lebih baik.

Hujan terlalu deras buruk.

Hujan kecil bagus.

Dan laki-laki yang bilang cuma pijat belum tentu cuma pijat.

Sebaliknya, laki-laki yang sejak resepsionis sudah banyak bertanya kadang justru tertidur dua puluh menit setelah tengkurap.

Nisya belajar semua itu tanpa pernah diajarkan.

Ia juga belajar bahwa Rere makan sambal terlalu banyak, Syam bisa membuat foto perempuan biasa terlihat seperti iklan parfum, dan Mira selalu tahu siapa yang sedang berbohong hanya dari cara seseorang meletakkan tas.

Namanya pun sudah berhenti diperdebatkan.

Nisya Cika.

Kadang Cika.

Kadang Nis.

Kalau Syam sedang menyebalkan:

“Cikalong.”

Padahal mereka semua berada di Cikalong.

Tidak masuk akal.

Justru karena itu bertahan.


Hari terakhir Bude tidak terlihat seperti hari terakhir.

Pagi itu Nisya bangun karena suara mesin jahit.

Tak-tak-tak-tak-tak.

Berhenti.

Kemudian cepat lagi.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak.

“BUDE!”

Tidak ada jawaban.

“Berisik!”

Mesin berhenti.

Dari depan terdengar suara Bude.

“Jam delapan!”

Nisya menarik selimut.

“Semalam pulang jam dua!”

“Makanya jangan kerja malam.”

“Kerjaannya memang malam!”

“Ya jangan kerja.”

“Terus bayar kuliah pakai daun?”

Hening sebentar.

Lalu mesin menyala lagi.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Nisya menutup kepala dengan bantal.

“BUDEEEE!”

Dari ruang depan terdengar tawa.

Itulah percakapan terakhir mereka.

Bukan aku sayang Bude.

Bukan nasihat.

Bukan firasat.

Nisya bahkan tidak ingat apakah sebelum berangkat ia sempat melihat wajahnya.

Ia mandi terburu-buru, mengambil tas, menyambar sepotong tempe dari meja makan dan keluar sambil masih mengunyah.

“Pulang jangan pagi!”

“Iya!”

“Benang obras!”

“Iya!”

“Putih!”

“IYAAA!”

Pintu ditutup.

Motor menyala.

Selesai.


Pukul 14.26, Nisya sedang duduk di ruang belakang spa ketika telepon dari tetangga masuk.

Ia tidak langsung mengangkat.

Tangannya masih berminyak.

Baru setelah panggilan kedua ia menggeser layar dengan siku.

“Halo?”

“Nisya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu di mana?”

“Kerja.”

“Bisa pulang sekarang?”

Ada sesuatu pada suara itu.

Bukan menangis.

Justru terlalu pelan.

Nisya berdiri.

“Kenapa?”

Tidak langsung dijawab.

“Bu?”

“Nis…”

“Bude kenapa?”

Di seberang terdengar orang bicara.

Kemudian suara perempuan itu kembali.

“Pulang dulu ya.”

Nisya sudah mengambil tas.

“Bude kenapa?”

“Nanti di rumah—”

“BUDE KENAPA?”

Semua orang di ruangan menoleh.

Rere menghentikan kuas maskaranya.

Mira keluar dari kasir.

Nisya tidak ingat jawaban lengkapnya.

Hanya beberapa kata.

jatuh

mesin jahit

rumah sakit

dan sebuah kalimat yang membuat semua kata setelahnya tidak lagi mempunyai arti.


Syam yang mengantar.

Nisya tidak boleh membawa motor sendiri.

Mira yang memutuskan.

“Lu gemeteran.”

“Gue bisa.”

“Lu nggak bisa.”

“Motor gue—”

“Besok.”

Syam sudah mengambil helm.

“Ayo.”

Sepanjang jalan Nisya tidak bicara.

Ia duduk di belakang motor dengan kedua tangan mencengkeram besi pegangan.

Lampu merah.

Angkot.

Truk.

Orang menyeberang.

Penjual buah.

Anak sekolah.

Semuanya tetap berjalan.

Nisya marah melihatnya.

Seharusnya kalau sesuatu sebesar itu terjadi, dunia berhenti sebentar.

Ternyata tidak.


Bude sudah meninggal ketika Nisya sampai.

Sesederhana itu.

Ada kalimat-kalimat yang tidak membutuhkan metafora.

Bude meninggal.


Rumah penuh orang sampai malam.

Tetangga datang membawa kursi.

Ada yang membuat teh.

Ada yang mengatur makanan.

Ada yang memindahkan mesin jahit sedikit ke pojok karena ruangan depan dibutuhkan.

Nisya melihatnya.

“Jangan.”

Laki-laki yang sedang mengangkat meja berhenti.

“Kenapa, Nis?”

“Mesinnya jangan dipindah.”

“Biar lega.”

“Jangan.”

Nada suaranya membuat orang itu menurunkannya kembali.

Mesin itu tetap di sana.

Benang putih masih terpasang.

Sepotong kain bermotif bunga masih terjepit di bawah sepatu mesin.

Jahitannya berhenti di tengah.

Nisya berdiri di depannya cukup lama.

Seseorang memegang bahunya.

Ia tidak tahu siapa.


Tiga hari kemudian rumah sepi.

Lima hari kemudian makanan kiriman mulai habis.

Seminggu kemudian kursi-kursi tetangga sudah dikembalikan.

Dua minggu kemudian tidak ada lagi orang yang mengetuk pintu untuk bertanya apakah Nisya sudah makan.

Dan barulah rumah itu berubah.

Bukan karena Bude tidak ada.

Karena tidak ada suara mesin jahit.

Selama bertahun-tahun Nisya mengira suara itu mengganggu.

Ketika belajar:

tak-tak-tak-tak.

Ketika menonton:

tak-tak-tak-tak.

Ketika tidur siang:

tak-tak-tak-tak.

Ketika sedang menelepon:

“Bude, kecilin dong!”

“Mesin jahit mana ada volumenya!”

Sekarang tidak ada.

Nisya pulang dari spa.

Membuka pintu.

Menyalakan lampu.

Dan rumah tetap diam.

Ia baru mengerti.

Selama ini ia tidak tinggal di sebuah bangunan.

Ia tinggal di dalam suara itu.


Malam ketujuh belas setelah kematian Bude, Nisya terbangun pukul 02.13.

Matanya terbuka.

Gelap.

Ia tidak tahu apa yang membangunkannya.

Kemudian terdengar lagi.

Tak.

Nisya menahan napas.

Sunyi.

Ia duduk.

Mungkin tikus.

Atau kayu.

Atau tetangga.

Ia hampir berbaring ketika—

tak-tak-tak-tak.

Nisya membeku.

Suara itu dari depan.

Bukan mesin jahit tetangga.

Ia mengenal iramanya.

Kaki Bude selalu menekan pedal terlalu dalam ketika memulai jahitan.

Cepat.

Lalu melambat.

Tak-tak-tak-tak-tak—

Berhenti.

Nisya turun dari tempat tidur.

“Bude?”

Begitu kata itu keluar, ia merasa bodoh.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan ke pintu kamar.

Tangannya menyentuh sakelar.

Lampu menyala.

Ruang depan kosong.

Mesin jahit berada di tempat yang sama.

Kain bunga masih terjepit di bawahnya.

Nisya mendekat.

Tidak ada apa-apa.

Ia jongkok.

Kabel mesin tergulung di lantai.

Tidak terpasang.

Nisya berdiri.

Menatap mesin itu.

“Jangan lucu-lucu, Bud.”

Ia menunggu.

Tidak ada suara.

Nisya kembali ke kamar.

Lampu depan tidak dimatikannya.


Suara itu datang lagi empat malam kemudian.

Kali ini Nisya tidak keluar.

Ia menarik selimut sampai leher.

Tak-tak-tak-tak.

Berhenti.

Tak-tak.

Lalu diam.

Pagi harinya Nisya memasukkan mesin jahit ke dalam kain penutup.


Lelaki itu datang dua minggu kemudian.

Umurnya sekitar empat puluh.

Nisya pernah melihat wajahnya.

Entah kapan.

Ia berdiri di depan pagar bersama seorang perempuan dan seorang anak laki-laki.

“Nisya?”

“Iya.”

“Saya Aris.”

Nisya menunggu.

Lelaki itu tersenyum canggung.

“Anaknya Ibu.”

Baru Nisya ingat.

Ada sebuah foto lama di lemari Bude.

Laki-laki yang sama.

Jauh lebih muda.

“Mas Aris?”

“Iya.”

Nisya membuka pagar.

“Masuk.”

Aris melepas sandal.

Ia berhenti cukup lama di ruang depan.

Melihat mesin jahit yang tertutup kain.

Kemudian foto Bude.

“Maaf saya baru bisa datang.”

Nisya tidak bertanya kenapa baru datang setelah ibunya sudah dikuburkan.

Ia membuat teh.

Mereka duduk.

Pembicaraan pertama tentang Bude.

Pembicaraan kedua tentang pekerjaan Nisya.

Pembicaraan ketiga tentang rumah.

Aris menyampaikannya dengan hati-hati.

Tidak kasar.

Tidak mengusir.

Justru itu yang membuat semuanya lebih sulit.

Sertifikat masih atas nama Bude.

Ia anak kandung.

Ada beberapa urusan yang harus dibereskan.

Mungkin rumah akan dijual.

Mungkin akan dipakai.

Belum tahu.

“Mbakyu nggak perlu buru-buru,” kata istrinya.

Nisya hampir tertawa mendengar dirinya dipanggil Mbakyu oleh orang yang baru ditemuinya.

“Kalau masih mau tinggal ya tinggal dulu.”

“Berapa lama?”

Aris dan istrinya saling melihat.

“Ya… sampai dapat tempat.”

Nisya mengangguk.

“Okay.”

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada perebutan kunci.

Tidak ada orang jahat.

Hanya satu kenyataan sederhana:

rumah itu memang bukan miliknya.

Bude pernah memberinya tempat tinggal.

Bukan hak milik.


Nisya mencari kos keesokan harinya.

Bukan karena Aris mengusirnya.

Ia hanya tiba-tiba tidak ingin menunggu sampai seseorang harus melakukannya.

Ia mencari yang dekat tempat kerja.

Satu kamar.

Kamar mandi dalam.

Ada jendela.

Motor bisa masuk.

Tidak terlalu mahal.

Tidak ada mesin jahit.

Kos ketiga yang ia lihat cocok.

Pemiliknya meminta uang satu bulan di muka.

Nisya membayar.

Selesai.


Barang-barangnya ternyata sedikit.

Pakaian.

Buku kuliah.

Kosmetik.

Sepatu.

Helm.

Beberapa foto.

Map.

Dan sebuah tumbler yang entah sudah berapa kali jatuh.

Ia tidak membawa perabot.

Tidak membawa televisi.

Tidak membawa mesin jahit.

Sore terakhir, Nisya berdiri di ruang depan sendirian.

Kain penutup mesin ia buka.

Tangannya menyentuh meja kayu.

Dingin.

“Gue pergi, Bud.”

Tidak ada jawaban.

Bagus.

Ia tersenyum kecil.

“Jangan ngikut.”

Nisya menutup mesin itu lagi.

Mengangkat tas.

Keluar.

Kali ini ia tidak menoleh.


Kos barunya hanya tujuh menit dari spa.

Bukan spa Cikalong yang pertama.

Bukan pula tempat Mira.

Nisya sudah pindah lagi.

Tempat ini lebih kecil, lebih tenang, dan jauh lebih rapi. Terapisnya tidak sebanyak tempat sebelumnya. Aturannya lebih ketat. Tidak ada orang merokok di ruang tunggu. Handuk dipisahkan menurut warna. Sprei dihitung setiap malam.

Di sinilah ia mengenal Rani.

Semua orang memanggilnya Mbak Rani.

Pada malam pertama Nisya bekerja, Rani menyerahkan tumpukan handuk kepadanya.

“Tiga putih.”

Nisya menerimanya.

“Dua krem.”

Ditumpuk di atasnya.

“Sprei satu.”

Nisya melihat tumpukan di tangannya.

“Kenapa kayak ujian praktik?”

Rani tidak tersenyum.

“Karena kalau kurang, yang nyari saya.”

“Oh.”

“Kalau lebih?”

“Bagus dong.”

“Yang bayar laundry saya.”

Nisya mengembalikan satu handuk yang sengaja ia ambil.

Rani akhirnya tersenyum.

“Pinter.”

Ia menunjuk lemari kayu di belakang.

“Yang putih atas. Krem tengah. Sprei bawah.”

Nisya membuka lemari.

“Sudut sprei dilipat masuk,” kata Rani.

“Kenapa?”

“Biar rapi.”

“Kalau nggak?”

“Saya bongkar lagi.”

Nisya menoleh.

Rani sudah berjalan pergi.

“Mbak.”

Rani berhenti.

“Semua harus begini?”

“Iya.”

“Setiap malam?”

“Setiap malam.”

Nisya memandang handuk di tangannya.

Entah kenapa ia menyukai jawabannya.

Setiap malam.

Hal yang sama.

Urutan yang sama.

Jumlah yang sama.

Tidak ada rumah sakit.

Tidak ada ahli waris yang tiba-tiba datang.

Tidak ada mesin jahit yang berbunyi ketika kabelnya tercabut.

Tiga handuk putih.

Dua handuk krem.

Satu sprei.

Hal-hal yang bisa dihitung.

Hal-hal yang bisa dirapikan.

Hal-hal yang, kalau diletakkan pada tempatnya, akan tetap berada di sana.

Setidaknya begitulah yang Nisya kira.

◉ 1 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads
Diskusi Pembaca

Tulis komentar

Komentar pertama butuh moderasi. Komentar berikutnya langsung tayang.

Tulis komentar