S SAMODRO STORIESWEBSERIES
SYAM
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 10

SYAM

August 30, 2026

Hari ketiga di tempat baru, Nisya baru sadar ada sesuatu yang aneh.

Bukan pada spa.

Spa itu justru terlalu normal.

Lebih kecil dari tempat Mira. Enam kamar. Terapis yang masuk bergantian, jarang lebih dari delapan orang sekaligus. Tidak ada ruang belakang sebesar Cikalong. Tempat menunggu mereka memanjang di belakang pantry, dengan sofa cokelat yang kulit sintetisnya mulai pecah di beberapa bagian.

Mbak Rani mengatur hampir semuanya.

Handuk.

Laundry.

Jadwal.

Kas kecil.

Siapa yang terlambat.

Siapa yang sudah tiga kali menolak tamu.

Siapa yang belum membayar makan.

Bahkan siapa yang meninggalkan gelas bekas kopi di atas dispenser.

Nisya baru dua hari di sana ketika namanya sudah diteriakkan dari ujung lorong.

“Nisya!”

“Iya, Mbak!”

“Handuk krem jangan dicampur putih!”

“Iya!”

Lima menit kemudian:

“Nisya!”

“Apa lagi?”

“Jangan jawab apa lagi!”

Nisya menjulurkan lidah ke arah pantry.

Mbak Rani muncul.

Nisya langsung tersenyum.

“Kenapa, Mbak?”

Rani menunjuk matanya sendiri dengan dua jari.

“Saya lihat.”

Nisya tertawa.

Ia menyukai perempuan itu.

Belum tiga hari, tetapi sudah tahu.

Rani cerewet kepada semua orang dengan takaran yang hampir sama. Tidak ada anak emas. Tidak ada yang dibiarkan merasa paling laku.

Kalau seorang terapis baru selesai menangis, Rani tidak memeluk.

Ia membuat teh.

Menaruhnya di meja.

Lalu berkata,

“Maskara kamu luntur.”

Begitu saja.


Siang itu Nisya sedang makan bakso ketika seorang laki-laki masuk membawa dua kantong plastik.

“Sayaaaang.”

Empat perempuan langsung menoleh.

“Apaan?”

“Titipan kalian.”

Ia mengangkat plastik.

Ruangan mendadak ramai.

“Punya gue mana?”

“Es kopi siapa?”

“Gue nggak pesen gula!”

“Beb, sedotan gue?”

Nisya tetap memegang sendok.

Laki-laki itu kurus.

Kaos hitam dimasukkan sebagian ke celana jeans. Rambutnya rapi. Kulitnya bersih. Di pergelangan tangan ada gelang tipis. Cara jalannya ringan, dan ketika salah satu terapis mengeluh pesanannya salah, ia meletakkan satu tangan di pinggang.

“Ya Allah, Cynthia. Chat kamu jam sebelas tiga belas kali. Aku bukan cenayang.”

Ruangan tertawa.

Nisya ikut tersenyum.

Kemudian laki-laki itu melihatnya.

Mereka bertatapan.

“Eh.”

Nisya berhenti mengunyah.

Laki-laki itu mendekat.

“Kamu anak baru?”

Nisya menelan baksonya.

“Iya.”

Ia mengulurkan tangan.

“Syam.”

Nisya menatap tangannya.

Lalu wajahnya.

“Siapa?”

“Syam.”

Nisya masih diam.

Salah satu perempuan menyahut.

“Kenapa, Nis?”

“Nggak.”

Ia menjabat tangan itu.

“Gue Nisya.”

“Nisya apa?”

“Nisya.”

“Di sini nggak ada Nisya lain. Aman.”

Syam tersenyum.

Manis sekali.

Terlalu manis.

Nisya melepas tangannya.

“Kenapa?” tanya Syam.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lihat aku kayak lihat setan.”

“Nama lu Syam?”

“Iya.”

“Beneran?”

Syam menoleh kepada perempuan lain.

“Beb, dia kenapa?”

“Baru tiga hari. Masih error.”

Syam tertawa.

“Syam beneran. Mau lihat KTP?”

“Nggak usah.”

Ia berbalik.

Kemudian kembali lagi.

“Kenapa emang?”

Nisya menggeleng.

“Pernah kenal orang namanya Syam.”

“Ganteng?”

“Lumayan.”

“Berarti bukan aku.”

Tawa lagi.

Syam berjalan ke depan membawa sisa pesanan.

Nisya mengikutinya dengan mata.

Bukan Syam.

Jelas bukan.

Syam di tempat Mira lebih pendiam. Badannya sedikit lebih berisi. Cara bicaranya pendek-pendek. Kalau sedang bekerja di kasir, matanya lebih sering menempel ke layar.

Yang ini…

Nisya mencari kata yang tepat.

“Melambai,” katanya.

Rere tidak ada di sana untuk tertawa.

Perempuan di sebelahnya justru bertanya,

“Siapa?”

“Nggak.”

Nisya kembali makan.

Kebetulan.

Nama Syam bukan cuma milik satu orang.

Selesai.


Ternyata Syam adalah penjaga.

Nisya baru tahu malamnya.

“Dia?”

Mbak Rani mengangguk.

“Kenapa?”

“Kirain admin.”

“Admin juga.”

“Konten?”

“Kadang.”

“Belanja?”

“Kalau anak-anak malas.”

Nisya melihat ke depan.

Syam sedang duduk sambil mengoleskan sesuatu ke kukunya.

“Dia security?”

“Kenapa?”

“Nggak meyakinkan.”

Rani melipat handuk.

“Memangnya security harus punya kumis?”

“Enggak sih.”

“Terus?”

Nisya tidak punya jawaban.

Syam mengangkat kukunya ke lampu.

“Mbak Rani, bagus nggak?”

“Bagus.”

“Kurang glossy ya?”

“Syam.”

“Iya?”

“Kerja.”

“Iya, Bunda.”

Rani melempar handuk.

Syam menghindar sambil tertawa.


Pukul sembilan lewat, kamar lima bermasalah.

Nisya sedang merapikan pantry ketika terdengar suara laki-laki.

Tidak terlalu keras.

Kemudian lebih keras.

“Lah, tadi katanya segitu!”

Suara perempuan menjawab.

Tidak jelas.

Laki-laki itu keluar dari kamar sambil memasang kancing kemeja.

Seorang terapis mengikutinya.

“Mbak udah bilang dari awal, Pak.”

“Bilang apaan?”

“OT-nya beda.”

“Gue nggak bayar.”

Mbak Rani keluar dari belakang.

“Pak, kita cek dulu ya.”

“Nggak usah cek. Saya tahu saya bayar berapa.”

Syam masih duduk di depan.

Ponsel di tangannya.

Seolah tidak mendengar.

“Panggil bos lu,” kata tamu itu.

Rani tetap tenang.

“Bisa saya bantu.”

“Lu bukan bos.”

Syam berdiri.

Tidak tergesa.

Ia memasukkan ponsel ke saku.

“Pak.”

Suaranya berubah.

Hanya sedikit.

Nisya sampai tidak yakin apa yang berbeda.

Tidak lebih keras.

Tidak lebih berat.

Hilang saja lengkungan manis di ujung kalimatnya.

Tamu itu menoleh.

“Apaan?”

“Duduk dulu.”

“Gue mau pulang.”

“Boleh.”

Syam menunjuk kursi.

“Bayar dulu.”

Tamu itu menatapnya dari kepala sampai kaki.

Mungkin memikirkan hal yang sama seperti Nisya tadi.

Ini?

“Kalau gue nggak mau?”

Syam tersenyum.

Bukan senyum yang sama.

“Jangan bikin saya pegang Bapak.”

Ruangan menjadi diam.

Bahkan Rani tidak bicara.

Laki-laki itu melangkah mendekat.

Syam tidak mundur.

Nisya melihat tangannya.

Tidak mengepal.

Tetap santai di sisi tubuh.

Tamu itu berhenti.

Mereka bertatapan beberapa detik.

Kemudian laki-laki tersebut merogoh dompet.

“Berapa?”

Rani menyebut angka.

Uang diletakkan di meja.

“Kapok gue ke sini.”

Syam kembali tersenyum manis.

“Jangan dong, Pak.”

Nisya hampir tertawa.

Pintu ditutup.

Motor tamu terdengar menyala di luar.

Syam langsung mengambil ponselnya.

“Eh, siapa tadi yang minta nail polish bening?”

Seisi ruangan meledak.

“GILA LU, YAM!”

“Kirain mau berantem!”

“Gue udah siap video!”

Syam mengibas tangan.

“Najis. Masa aku berantem.”

Nisya tertawa paling keras.

Tetapi ada sesuatu yang ia catat.

Cara Syam berdiri tadi.

Entah kenapa terasa pernah ia lihat.


Malam itu Nisya pulang ke kos pukul sebelas lewat.

Tujuh menit.

Benar kata pemilik kos.

Kalau lampu merah sedang baik hati, enam.

Ia mandi.

Menggantung seragam.

Membuka laptop.

Proposal skripsi belum bergerak sejak dua hari lalu.

THE INTRINSIC ELEMENTS IN PERCY BYSSHE SHELLEY’S—

Nisya berhenti.

Judulnya bahkan belum selesai.

Ia membuka puisi.

Membaca lagi beberapa baris.

Bulan.

Perempuan sekarat.

Pucat.

Langit timur yang keruh.

“Kenapa sih lu nggak nulis bulan aja, Shel?”

Ia menutup laptop.

Kamar langsung sunyi.

Nisya berbaring.

Lalu duduk lagi.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Bukan Shelley.

Syam.

Ia mengambil ponsel.

Membuka galeri lama.

Scroll.

Foto kampus.

Screenshot.

Foto makanan.

Bude.

Nisya berhenti.

Bude sedang duduk di depan mesin jahit sambil mengangkat satu tangan ke kamera.

Nisya menelan ludah.

Scroll lagi.

Lebih lama.

Foto dari tempat Mira jarang ia simpan. Ia tidak suka memotret di sana.

Tetapi pasti ada.

Satu foto ulang tahun Rere.

Bukan.

Video seseorang menyanyi.

Bukan.

Foto nasi Padang.

Kemudian—

Nisya berhenti.

Foto grup.

Delapan perempuan berdesakan di ruang belakang.

Mira di tengah membawa kue.

Rere mengangkat dua jari di belakang kepala seseorang.

Di ujung kanan ada Syam.

Syam yang pertama.

Nisya memperbesar.

Wajahnya pecah menjadi piksel.

Tetap jelas bukan orang yang ia temui siang tadi.

Ia hendak menutup foto ketika melihat sesuatu.

Di belakang Syam ada kaca.

Pantulan ruangan.

Kasir.

Pintu.

Dan seorang laki-laki berdiri membelakangi kamera.

Hanya separuh tubuhnya terlihat.

Kurus.

Kaos hitam.

Satu tangan di pinggang.

Nisya memperbesar.

Piksel.

Lebih besar.

Pecah.

Tidak mungkin mengenali wajah karena memang tidak terlihat.

Tetapi di pergelangan tangannya—

Nisya mendekatkan layar ke wajah.

Sebuah garis tipis.

Seperti gelang.

“Ah.”

Ia menurunkan ponsel.

Cikalong penuh orang.

Gelang dijual di mana-mana.

Orang kurus juga bukan fenomena langka.

Nisya mengunci layar.

Berbaring.

Lima detik.

Layar dibuka lagi.

Foto diperbesar.

Ia memperhatikan tanggalnya.

14 Juni 2017.

Jauh sebelum ia bekerja di tempat sekarang.

Nisya mengambil screenshot bagian pantulan itu.

Entah untuk apa.

Kemudian mematikan ponsel.


Besoknya Syam sedang menyusun botol minuman ketika Nisya datang.

“Pagi, Cika.”

Nisya berhenti.

Syam tetap membelakanginya.

“Apa?”

Syam menoleh.

“Pagi.”

“Bukan.”

“Apa?”

“Tadi lu panggil gue apa?”

Syam mengernyit.

“Cika.”

Nisya tidak bergerak.

“Kenapa?”

“Siapa yang bilang nama gue Cika?”

Syam menunjuk ke belakang.

“Mbak Rani.”

Nisya melihat Rani yang sedang mencatat laundry.

“Mbak.”

Rani mengangkat kepala.

“Mbak bilang ke Syam gue dipanggil Cika?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Kemarin.”

“Kenapa?”

“Biar dia nggak manggil kamu Nis terus.”

“Kenapa nggak boleh?”

Rani kembali menulis.

“Karena kedengarannya kayak manggil kucing.”

Nisya diam.

Masuk akal.

Sangat masuk akal.

Syam menyodorkan satu botol air kepadanya.

“Minum, Cikalong.”

Nisya menatapnya.

Syam tersenyum.

“Nah. Itu baru lengkap.”

Nisya mengambil botol itu.

“Lu pernah kerja di tempatnya Mira?”

“Siapa Mira?”

“Cikalong.”

“Emang kita di mana?”

“Spa lain.”

“Banyak.”

“Yang rukonya dua. Atas enam room.”

Syam berpikir.

Kemudian menggeleng.

“Nggak.”

“Yakin?”

Syam tertawa.

“Kenapa sih dari kemarin kamu interogasi aku?”

“Nggak.”

“Jangan-jangan kamu suka.”

“Najis.”

Syam memegang dada.

“Jahat.”

Nisya pergi ke belakang.

Selesai.

Kebetulan lagi.

Ia tidak akan memikirkannya.


Malam berikutnya Nisya mendapat room terakhir pukul 22.08.

Selesai hampir satu jam kemudian.

Ia mandi sebentar, berganti pakaian, lalu membantu Rani membereskan belakang.

Tiga handuk putih.

Dua krem.

Satu sprei.

“Sudutnya.”

“Iya, Mbak.”

“Masuk.”

“Iya.”

“Jangan cuma iya.”

Nisya melipat ulang.

Syam sudah pulang lebih dahulu.

Dua terapis lain sedang bersiap pergi.

Pukul 22.43, Nisya memasukkan sprei terakhir ke lemari.

Persis seperti yang diajarkan Rani.

Sudut dilipat masuk.

Telapak tangan menekan permukaan kain.

Tumpukan sejajar.

Rani memeriksanya.

“Besok bisa sendiri.”

“Dari kemarin juga bisa.”

“Dari kemarin miring.”

“Perfeksionis.”

“Bayar laundry pakai uang kamu kalau mau abstrak.”

Nisya tertawa.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Satu kali.

Nomor tidak dikenal.

Nisya melirik.

Diam.

Bergetar lagi.

Rani sedang mematikan lampu pantry.

“Angkat aja.”

“Paling sales.”

“Jam segini?”

Nisya melihat layar.

Nomor Jakarta.

Ia mengangkat.

“Halo?”

Tidak ada suara.

“Halo?”

Rani menoleh.

Nisya menunggu.

Lalu seseorang di seberang berkata pelan,

“Avee?”

Senyum Nisya hilang.

Rani melihat wajahnya.

“Siapa?”

Nisya tidak menjawab.

Karena hanya ada sedikit orang yang memanggilnya dengan nama itu.

Dan tidak satu pun dari mereka seharusnya memiliki nomor ini.

◉ 1 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads
Diskusi Pembaca

Tulis komentar

Komentar pertama butuh moderasi. Komentar berikutnya langsung tayang.

Tulis komentar