JIWA DI DALAM JIWA
“Avee?”
Nisya memutus sambungan.
Satu sentuhan.
Selesai.
Ia memasukkan ponsel ke tas, mengambil jaket, lalu membantu Rani mematikan lampu depan.
“Siapa?” tanya Rani.
“Nggak tahu.”
“Kenal nama itu?”
Nisya menarik ritsleting tas.
“Kenal.”
Rani menunggu kelanjutannya.
Tidak ada.
Perempuan itu akhirnya mengunci laci kasir.
“Besok masuk jam berapa?”
“Siang.”
“Kuliah?”
“Skripsi.”
“Sudah sampai mana?”
Nisya membuka pintu.
“Sudah sampai laptop.”
Rani menatapnya datar.
“Hebat.”
Udara malam masuk dari luar. Dingin dan berbau asap kendaraan.
Nisya tertawa kecil, mengucapkan selamat malam, lalu berjalan menuju kos.
Ia tidak membuka ponselnya sepanjang perjalanan.
Tidak mencari nomor itu.
Tidak menelepon balik.
Kalau orang tersebut memang mengenalnya, ia akan menelepon lagi.
Kalau tidak, Nisya tidak perlu memberikan kesempatan kedua.
Tetapi satu kata itu ikut pulang bersamanya.
Avee.
Nama yang hanya hidup di tempat-tempat tertentu.
Nama yang tidak pernah dibawanya ke kampus.
Tidak tercetak pada kartu mahasiswa.
Tidak dikenal Rani.
Tidak pernah disebut di tempat baru ini.
Setidaknya, seharusnya begitu.
Kamar kosnya masih menyimpan panas siang hari.
Nisya membuka jendela, menyalakan kipas, lalu menggantung seragam di belakang pintu. Ponselnya diletakkan di bawah bantal.
Bukan karena takut berdering.
Ia hanya tidak ingin melihatnya.
Laptop menyala dengan suara kipas kecil yang mulai kasar.
Dokumen terakhir terbuka.
THE INTRINSIC ELEMENTS IN PERCY BYSSHE SHELLEY’S—
Kursor berkedip setelah tanda apostrof.
Dua hari.
Judulnya bahkan belum selesai.
Nisya mengetik:
“THE WANING MOON”
Ia membaca seluruh judul.
Terlalu sekolah.
Ia menambahkan:
A STUDY OF IMAGERY AND PERSONIFICATION
Lebih sekolah lagi.
“Biarin.”
Setidaknya sekarang ada judul.
Ia membuka puisi itu.
Bulan yang menyusut.
Pucat.
Terhuyung di langit timur seperti perempuan sekarat yang keluar dari balik tirai.
Nisya sudah membacanya belasan kali. Malam ini puisi itu terasa berbeda.
Mungkin karena kata waning.
Berkurang.
Menyusut.
Ada, tetapi semakin sedikit.
Seperti ingatan.
Ia mencoba mengingat wajah Firman tanpa bantuan foto.
Dahi.
Alis.
Mata.
Semuanya datang sebagai bagian-bagian terpisah.
Tidak pernah menjadi satu wajah utuh.
Yang paling jelas justru punggungnya.
Firman duduk di lantai dengan kaus putih. Nisya kecil menekan-nekan bahunya menggunakan dua telapak tangan. Ayah mengaduh terlalu keras agar ia tertawa.
Setelah itu ingatan melompat.
Rumah ramai.
Orang-orang bicara pelan.
Ibunya tidak keluar kamar.
Tidak ada jenazah.
Tidak ada kuburan yang dapat ditunjuk sambil berkata: Firman ada di sini.
Hanya kata-kata orang dewasa yang berubah setiap kali Nisya bertanya.
Pergi.
Hilang.
Belum ditemukan.
Jangan tanya sekarang.
Lama-kelamaan ia berhenti bertanya.
Nisya kembali melihat puisi Shelley.
Bulan itu juga tidak diberi wajah. Shelley memberinya tubuh, gerak, dan keadaan. Pembaca mengenalinya melalui sesuatu yang dilakukan tubuh tersebut.
Nisya membuka dokumen baru.
Menulis:
The body appears before identity.
Ia membaca kalimatnya.
Kemudian menambahkan:
The reader recognizes suffering before knowing the woman.
Lumayan.
Untuk pertama kalinya malam itu, kursor bergerak lebih dari satu baris.
Ia mulai mencari artikel tentang personifikasi tubuh dalam puisi Shelley. Hasilnya puluhan. Sebagian terkunci. Sebagian meminta akun kampus. Sebagian lagi terdiri atas kalimat-kalimat panjang yang membuat Nisya lupa kata pertama sebelum mencapai titik.
Ia mempersempit pencarian.
body and identity in Shelley poetry
Lalu:
body before identity romantic poetry
Lalu:
recognition through body Percy Shelley
Satu artikel membawa Nisya ke Epipsychidion.
Ia pernah mendengar judul itu di kelas. Dosen menyebutnya sekali sambil menulis cepat di papan. Nisya tidak sempat mencatat ejaannya dan terlalu malas bertanya.
Ia membuka puisinya.
Panjang.
Lebih panjang daripada kesabarannya.
Nisya menggulir sampai menemukan kata soul.
Banyak sekali.
Jiwa, cahaya, bayangan, cinta, cermin.
Ia mencari arti judulnya.
Beberapa penjelasan muncul.
Psyche: jiwa.
Epi: di atas, di luar, menyertai.
Jiwa tambahan.
Jiwa yang berada dekat dengan jiwa.
Salah satu tulisan menerjemahkannya sebagai:
a soul within the soul
Jiwa di dalam jiwa.
Nisya mengucapkannya pelan.
“Jiwa di dalam jiwa.”
Terdengar seperti kalimat orang mabuk.
Ia hampir menutup tab itu ketika menemukan pembahasan tentang seseorang yang merasa tidak lengkap, lalu mengenali bagian dirinya pada manusia lain.
Nisya membaca ulang.
Mengenali.
Kata yang sama kembali muncul.
Ia teringat Syam di tempat Rani.
Bukan wajahnya.
Bukan suaranya.
Cara laki-laki itu berdiri menghadapi tamu kamar lima.
Tubuh Nisya mengenali gerakan tersebut sebelum pikirannya menemukan alasan.
Ia membuka foto ulang tahun Rere.
Syam pertama berdiri di ujung kanan.
Badannya sedikit lebih berisi. Tatapannya mengarah ke kamera, tetapi wajahnya seperti ingin berada di tempat lain.
Di belakangnya ada kaca.
Pantulan kasir.
Pintu.
Dan tubuh kurus yang membelakangi kamera.
Kaos hitam.
Satu tangan di pinggang.
Garis tipis pada pergelangan.
Nisya memperbesar gambar sampai semuanya pecah menjadi kotak-kotak warna.
Wajah laki-laki dalam pantulan itu tidak terlihat.
Tubuhnya sudah cukup untuk mengganggu.
Nisya memindahkan foto ke sebelah artikel Shelley pada layar.
Dua Syam.
Dua tubuh.
Satu nama.
Ia mengambil buku catatan dan menggambar dua lingkaran.
Lingkaran pertama diberi angka 1.
Lingkaran kedua 2.
Ia hendak menulis nama Syam di bawah keduanya, tetapi urung.
Kelihatan bodoh.
Ia menutup buku.
Lima detik kemudian membukanya kembali.
Di antara dua lingkaran itu ia membuat garis.
Apa yang berpindah ketika dua orang memakai nama yang sama?
Tidak ada.
Nama dapat dimiliki siapa saja.
Tubuh berbeda.
Wajah berbeda.
Suara berbeda.
Kebetulan.
Selesai.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam penjelasan itu.
Syam kedua sudah berada di pantulan foto lama.
Jauh sebelum Nisya datang ke tempat Rani.
Mungkin juga sebelum ia meninggalkan Cikalong.
Ia melihat tanggal foto.
14 Juni 2017.
Nisya menuliskannya di bawah dua lingkaran.
Kemudian kembali mencari.
two bodies one soul recognition
Hasil pencarian berubah menjadi ramalan jodoh, kuis pasangan, meditasi berbayar, dan perempuan-perempuan berpakaian putih yang menjanjikan pertemuan dengan twin flame.
Nisya menutupnya satu per satu.
Ia mengganti kata-katanya.
body recognizes someone before memory
Kali ini hasilnya membahas trauma, ingatan indrawi, pengenalan tanpa kesadaran, dan sesuatu yang disebut memori somatik.
Tubuh dapat bereaksi terhadap sesuatu yang tidak berhasil dipanggil oleh pikiran.
Bau.
Nada suara.
Tekanan tangan.
Cara seseorang mendekat.
Nisya membaca satu halaman, lalu halaman lain.
Penjelasannya masuk akal sampai contoh-contohnya mulai membuat dadanya sesak.
Seorang anak menangis ketika mendengar lagu yang tidak diingatnya.
Seseorang merasa takut pada ruangan yang tampak asing.
Tubuh menegang beberapa detik sebelum ingatan muncul.
Ia melihat kedua telapak tangannya.
Tangan yang kadang berhenti sendiri di atas punggung tamu.
Tangan yang menemukan satu titik nyeri sebelum orang itu memberi tahu bagian mana yang sakit.
Itu keahlian.
Jam kerja.
Kebiasaan.
Seharusnya.
Nisya menggulir lebih jauh.
Di bagian bawah halaman terdapat daftar tulisan terkait.
Satu judul membuat jarinya berhenti.
THE BODY THAT RECOGNIZES: SEPARATED SOULS AND PRE-CONSCIOUS MEMORY
Tidak ada nama jurnal.
Tidak ada tahun terbit.
Hanya nama penulis:
A. S.
Nisya membukanya.
Halaman putih.
Lalu muncul teks hitam dengan tampilan buruk seperti blog yang sudah lama ditinggalkan.
Paragraf pertamanya membahas mitos jiwa yang terbelah.
Nisya hampir menutup halaman.
Cerita yang sama.
Satu jiwa.
Dua tubuh.
Saling mencari.
Saling melengkapi.
Materi jualan gelang pasangan.
Namun paragraf berikutnya berbeda.
Artikel itu menyebut gagasan jiwa kembar telah dipersempit menjadi kisah cinta. Dalam sejumlah cerita lama, dua jiwa yang berasal dari sumber sama justru dapat saling menghindari. Kedekatan mereka menimbulkan rasa tidak nyaman karena tubuh mengenali sesuatu yang tidak dapat diterima pikiran.
Nisya membaca lebih lambat.
Pertemuan tidak selalu melahirkan cinta.
Kadang-kadang tubuh merespons dengan takut.
Marah.
Sedih.
Atau rindu kepada sesuatu yang tidak pernah dialami.
Ia teringat tangisnya sendiri.
Datang mendadak ketika telapak tangannya menyentuh punggung seorang laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya.
Nisya mengecilkan tampilan halaman agar lebih banyak teks terlihat.
Artikel itu mengutip Shelley.
Jiwa di dalam jiwa.
Lalu Plato.
Manusia yang dibelah.
Kemudian kisah-kisah dari tempat lain yang tidak pernah dipelajari Nisya: seseorang lahir dengan ingatan yang bukan miliknya, dua anak dari keluarga berbeda menggambar rumah yang sama, seorang perempuan mengenali luka di tubuh orang asing.
Nisya terus membaca.
Ada pola yang disebutkan berulang kali.
Seseorang pergi.
Seseorang tertinggal.
Seseorang menyaksikan.
Ia mengernyit.
Tiga orang?
Judulnya mengatakan jiwa yang terpisah. Seharusnya dua.
Nisya menggulir kembali.
Di tengah artikel terdapat gambar tiga lingkaran. Kualitasnya buruk. Tulisan di dalamnya nyaris tidak terbaca.
Lingkaran pertama:
THE WANDERER
Pengembara.
Lingkaran kedua:
THE MIRROR
Cermin.
Lingkaran ketiga tertutup ikon gambar rusak.
Nisya memperbesar halaman.
Hurufnya pecah.
Ia hanya dapat membaca bagian akhir:
—KEEPER
Penjaga sesuatu.
Ia menekan gambar itu.
Tidak terjadi apa-apa.
Di bawah diagram ada penjelasan pendek.
Pengembara membawa sesuatu menyeberangi waktu.
Cermin mengenalinya tanpa memahami apa yang sedang dikenali.
Yang ketiga menjaga agar keduanya tidak bertemu terlalu cepat.
Nisya membaca kalimat terakhir dua kali.
Menjaga agar keduanya tidak bertemu terlalu cepat.
“Kenapa?”
Ia melanjutkan.
Halaman mendadak bergerak sendiri ke atas.
Nisya mengembalikannya.
Teks berkedip.
Koneksi internet kos memang sering buruk malam-malam. Ia segera menyalin tiga paragraf ke dokumen sebelum halaman hilang.
Ketika kembali ke artikel, bagian selanjutnya sudah muncul.
Recognition begins in the body. Memory comes later.
Pengenalan bermula pada tubuh.
Ingatan datang kemudian.
Nisya menyalinnya.
Artikel itu menyebut beberapa tanda: perubahan suhu kulit, tekanan di dada, gerakan yang terasa akrab, rasa sedih tanpa sumber, dan ketertarikan pada bagian tubuh tertentu.
Bagian tubuh tertentu.
Kursor Nisya berhenti.
Ia menekan Ctrl+F.
Mengetik:
back
Satu hasil.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia menekan Enter.
Halaman melompat ke sebuah paragraf pendek.
Dalam beberapa catatan kasus, pengenalan muncul ketika satu orang menyentuh tubuh orang lain. Lokasi sentuhan sering berkaitan dengan cedera, kematian, atau ingatan terakhir yang dibawa oleh jiwa sebelumnya.
Nisya menarik tangannya dari laptop.
Kipas tua terus berputar.
Dari kamar sebelah terdengar orang tertawa menonton sesuatu. Motor melintas di gang. Sebuah panci jatuh di lantai bawah.
Dunia tetap biasa.
Hanya layar di depannya yang terasa semakin dekat.
Ia membaca satu kalimat berikutnya.
The body does not explain. It repeats.
Tubuh tidak menjelaskan.
Tubuh mengulang.
Nisya membuka buku catatan.
Dua lingkaran tadi masih ada.
Ia menambahkan lingkaran ketiga di bawahnya.
Tangannya menulis tanpa rencana:
YANG PERGI
YANG MENGENALI
YANG MENJAGA
Ia menatap tiga lingkaran itu.
Firman masuk ke kepalanya.
Bukan wajah.
Punggung.
Selalu punggung.
Nisya mencoret lingkaran pertama.
Terlalu cepat.
Terlalu bodoh.
Ini artikel internet tanpa nama jurnal dan tanpa identitas penulis yang jelas. Bisa saja ditulis orang gila. Bisa saja fiksi. Bisa saja salinan dari buku murahan yang dijual bersama kartu tarot.
Ia menutup tab.
Kamar menjadi lebih gelap karena cahaya layar berkurang.
Nisya kembali ke skripsinya.
THE INTRINSIC ELEMENTS IN PERCY BYSSHE SHELLEY’S “THE WANING MOON”
Ia mencoba menulis paragraf pembuka.
Dua kalimat.
Berhenti.
Kursor berkedip.
Nisya membuka kembali riwayat peramban.
Artikel tadi ada di urutan paling atas.
Ia menekannya.
PAGE NOT FOUND
Nisya memuat ulang.
Hasilnya sama.
Ia menyalin judul artikel ke mesin pencari.
Tidak ada hasil.
Menyalin satu kalimat dari paragrafnya.
Tidak ada.
Mencari nama penulis.
A. S.
Tidak mungkin.
Ia membuka dokumen tempat kutipan tadi disimpan.
Teksnya masih ada.
Di bagian paling bawah, ikut tersalin alamat halaman:
/archive/triad/AS-1999-17
Nisya mendekat ke layar.
Triad.
Ia belum pernah mencari kata itu malam ini.
Seharusnya mesin pencari juga tidak membawanya ke sana.
Ponsel di bawah bantal bergetar.
Sekali.
Nisya tidak mengambilnya.
Ia menatap tiga lingkaran di buku catatan.
Getaran kedua datang.
Lebih panjang.
Nisya mengangkat bantal.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada pesan baru.
Hanya notifikasi bahwa sebuah foto baru saja selesai dicadangkan.
Foto ulang tahun Rere.
Nisya membuka galeri.
Gambar itu memenuhi layar.
Delapan perempuan.
Mira membawa kue.
Syam pertama di ujung kanan.
Pantulan laki-laki kurus di belakangnya.
Nisya memperbesar kaca.
Kaos hitam.
Tangan di pinggang.
Gelang tipis.
Kali ini ia melihat sesuatu yang tadi terlewat.
Di samping pantulan Syam kedua, ada satu bayangan lain.
Seseorang berdiri lebih dekat ke pintu.
Hanya bahu dan sebagian kepala.
Wajahnya tertutup kilatan lampu kamera.
Nisya memperbesar sampai gambar benar-benar pecah.
Tidak ada yang dapat dikenali.
Namun orang itu sedang melihat ke arah kaca.
Ke arah kamera.
Ke arah Nisya yang bahkan belum bekerja di sana.
Nisya memeriksa tanggalnya sekali lagi.
14 Juni 2017.
Di bawah foto muncul keterangan lokasi yang dibuat otomatis.
Nisya membacanya.
Lalu duduk tegak.
Foto itu tidak diambil di tempat Mira.
Alamatnya berada di Jakarta.
Kurang dari satu kilometer dari spa tempat Rani bekerja sekarang.

Tulis komentar