S SAMODRO STORIESWEBSERIES
ALAMAT LAMA
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 12

ALAMAT LAMA

September 1, 2026

Nisya bangun pukul sembilan lewat dengan pipi menempel pada buku catatan.

Laptop masih menyala.

Tiga lingkaran berada tepat di bawah wajahnya.

YANG PERGI

YANG MENGENALI

YANG MENJAGA

Tulisan terakhir lebih miring daripada dua lainnya. Seperti dibuat oleh orang yang mulai mengantuk atau kehilangan kendali atas tangannya.

Nisya menutup buku.

Di layar laptop, dokumen skripsinya masih terbuka.

Tiga paragraf.

Hasil terbaik selama seminggu.

Di sebelahnya ada alamat dari foto ulang tahun Rere.

Nisya memasukkannya ke peta.

Jaraknya delapan ratus lima puluh meter dari spa Rani.

Sebelas menit berjalan kaki.

Tujuh menit kalau ia tidak berhenti membeli kopi.

Nisya menyalin alamat itu ke secarik kertas.

Lalu merasa tolol.

Alamatnya sudah ada di ponsel.

Ia meremas kertas tersebut, membuangnya ke keranjang, lalu mengambilnya kembali.

Entah kenapa, ia lebih percaya kertas.


Bangunan itu berada di ujung jalan kecil yang hampir tertutup deretan motor.

Nisya melewatinya dua kali.

Tidak ada papan nama.

Lantai bawah dipakai untuk menjual suku cadang pendingin ruangan. Dua unit kompresor bekas diletakkan di depan seperti bangkai mesin. Di atasnya terdapat dua lantai dengan jendela gelap dan cat krem yang mengelupas.

Nomor bangunan cocok.

Nisya berdiri di seberang jalan sambil memeriksa foto.

Tidak mirip tempat Mira.

Tempat Mira berada di Cikalong. Ruko dua pintu. Tangga di sebelah kiri. Enam kamar di atas.

Bangunan di depannya hanya satu pintu.

Mungkin lokasi pada foto salah.

Mungkin ponsel Rere mencatat tempat foto itu dikirim, bukan tempat foto diambil.

Mungkin artikel semalam membuat otaknya mencari hubungan pada benda-benda yang tidak berhubungan.

Nisya memasukkan ponsel ke tas.

Ia seharusnya pergi ke kampus.

Dosen pembimbingnya ada sampai pukul dua.

Ia baru melangkah ketika seorang laki-laki tua keluar dari toko suku cadang membawa sapu.

“Cari siapa, Neng?”

“Nggak, Pak.”

Laki-laki itu mulai menyapu debu dari ambang pintu.

Nisya berjalan tiga langkah.

Berhenti.

“Pak.”

Laki-laki itu menoleh.

“Di atas masih disewain?”

“Sudah nggak.”

“Dulu apa?”

“Macam-macam.”

“Pernah jadi tempat pijat?”

Sapu berhenti.

Hanya sebentar.

“Siapa yang bilang?”

“Teman.”

“Temannya siapa?”

Nisya tersenyum.

“Pernah, ya?”

Laki-laki itu kembali menyapu.

“Lama.”

“Tahun berapa?”

“Mana saya hafal.”

“Sekitar 2017?”

Sapu berhenti lagi.

Kali ini lebih lama.

Laki-laki itu menatap Nisya dari sandal sampai rambut.

“Kamu kerja di mana?”

“Kenapa?”

“Ya tanya.”

Nisya menunjuk ke ujung jalan.

“Di situ.”

“Yang sekarang?”

“Iya.”

Laki-laki itu mengangguk kecil. Seolah jawaban tersebut memastikan sesuatu yang sudah diduganya.

“Namanya siapa?”

“Nisya.”

Ia langsung menyesal memberikan nama asli.

Namun laki-laki itu tidak bereaksi.

“Bosnya Rani?”

“Mbak Rani.”

“Rani sudah jadi bos sekarang?”

“Bukan bos. Dia yang pegang.”

Laki-laki itu tersenyum tipis.

“Dari dulu juga begitu.”

Nisya mendekat satu langkah.

“Bapak kenal Mbak Rani?”

“Semua yang di atas dulu saya kenal.”

“Termasuk Mira?”

Sapu di tangan laki-laki itu bergerak lagi.

Debu tipis naik dari lantai.

“Mira yang mana?”

“Dari Cikalong.”

Laki-laki itu mengangkat bahu.

“Nama orang banyak.”

Jawaban yang sama seperti Syam.

Nama orang banyak.

Syam bukan hanya milik satu orang.

Mira juga.

Nisya membuka foto di ponselnya.

“Boleh lihat sebentar, Pak?”

Laki-laki itu tidak mendekat.

“Foto apa?”

“Teman-teman lama.”

“Kalau teman kamu, kenapa tanya saya?”

Nisya tidak menjawab.

Laki-laki itu menyandarkan sapu ke dinding.

“Toko mau saya tinggal salat. Kalau mau tanya, tanya Rani.”

Ia masuk.

Pintu kaca ditutup.

Bel kecil di atasnya berdenting.

Nisya masih berdiri di luar ketika kunci diputar dari dalam.

Pukul sebelas kurang sepuluh.

Terlalu pagi untuk salat zuhur.


Ia tidak pergi ke kampus.

Nisya membeli kopi dalam gelas plastik, lalu duduk di warung seberang bangunan.

Dari sana ia dapat melihat tiga jendela di lantai dua.

Jendela kiri tertutup papan dari dalam.

Jendela tengah menggunakan kaca gelap.

Jendela kanan sedikit terbuka.

Tidak ada sesuatu yang bergerak.

Nisya membuka kembali foto.

Delapan perempuan berdiri rapat.

Mira di tengah membawa kue.

Rere mengangkat dua jari.

Syam pertama di ujung kanan.

Pantulan laki-laki kurus di kaca.

Bayangan lain di dekat pintu.

Nisya memperhatikan latarnya.

Dinding hijau muda.

Sebuah kalender.

Ujung sofa cokelat.

Kaca lebar di belakang mereka.

Ia melihat bangunan di seberang.

Jendela tengah di lantai dua tampak cukup lebar untuk menjadi kaca itu.

“Ngapain gue?”

Kopi di tangannya sudah tinggal setengah.

Ia meletakkan uang di meja, menyeberang, lalu masuk ke gang sempit di samping toko.

Di belakang bangunan terdapat pintu besi dan tangga luar.

Pintunya terkunci.

Nisya mendongak.

Tangga itu naik menuju lantai dua. Karat memenuhi pegangan. Beberapa anak tangga basah oleh tetesan pendingin udara.

Ia mencoba gagang pintu.

Tidak bergerak.

“Cari siapa?”

Nisya menoleh.

Seorang perempuan berdiri di belakangnya membawa dua kantong belanja. Usianya sekitar lima puluh. Rambutnya diikat seadanya.

“Saya mau ke atas.”

“Lewat depan.”

“Depannya dikunci.”

“Yang punya toko salat.”

“Nanti saya balik lagi.”

Perempuan itu melihat pintu besi.

“Sudah kosong.”

“Iya, saya mau lihat tempat lama.”

“Mau sewa?”

“Bukan.”

“Kalau bukan, buat apa?”

Hari ini semua orang ingin mengetahui alasan.

Nisya mengeluarkan ponsel.

“Saya pernah ke sini, tapi lupa.”

Perempuan itu tertawa pendek.

“Pernah ke sini kok lupa.”

“Sudah lama.”

“Dulu kerja?”

“Nggak.”

“Kalau tamu?”

“Nggak juga.”

Perempuan itu memiringkan kepala.

Tatapannya turun ke layar ponsel yang masih menampilkan foto.

“Coba lihat.”

Nisya ragu, lalu menyerahkannya.

Perempuan itu mendekatkan layar ke wajah.

Jarinya menyentuh salah satu sisi foto.

“Ini memang di atas.”

Nisya menahan napas.

“Ibu yakin?”

“Itu kacanya.”

“Tempat apa dulu?”

“Ya begitu.”

“Spa?”

Perempuan itu mengembalikan ponsel.

“Katanya tempat pelatihan.”

“Pelatihan apa?”

“Mana saya tahu. Yang datang perempuan semua.”

“Foto ini kapan?”

“Mana saya tahu.”

“Orang-orangnya Ibu kenal?”

Perempuan itu hendak berjalan pergi.

Nisya memperbesar foto.

“Yang ini?”

Ia menunjuk Syam pertama.

Perempuan itu melihat sekilas.

“Yang jaga komputer.”

“Namanya Syam?”

“Kalau kamu sudah tahu, kenapa tanya?”

“Yang ini?”

Nisya menggeser layar ke pantulan laki-laki berkaus hitam.

Perempuan itu menyipitkan mata.

“Gambarnya rusak.”

“Pernah lihat?”

“Orang mondar-mandir banyak.”

“Namanya juga Syam.”

Perempuan itu menatap Nisya.

Untuk pertama kalinya tidak terburu-buru menjawab.

“Bukan.”

“Bukan Syam?”

“Bukan yang itu.”

“Tapi Ibu kenal?”

Dua kantong belanja di tangannya bergesekan.

“Anak baru jangan bongkar tempat lama.”

Perempuan itu melewati Nisya.

“Ibu.”

Ia tidak berhenti.

“Kenapa tempatnya tutup?”

Perempuan itu membuka pagar rumah di belakang gang.

Sebelum masuk, ia berkata tanpa menoleh,

“Bukan tutup.”

Pagar bergeser.

“Dipindah.”


Rani sedang menghitung uang makan ketika Nisya tiba di spa pukul dua belas lewat.

“Kampusnya dekat?”

“Nggak jadi.”

“Kenapa?”

“Dosen nggak ada.”

Nisya berbohong terlalu cepat.

Rani tidak langsung menanggapi.

Ia mengikat uang dengan karet, memasukkannya ke laci, lalu menulis angka pada buku kas.

“Minum dulu.”

Nisya mengambil air dari dispenser.

Syam belum datang.

Tiga terapis duduk di belakang sambil menonton video dari satu ponsel. Seseorang tertawa sampai batuk.

Tempat itu terasa terlalu biasa.

Nisya berdiri di depan kaca dekat kasir.

Lebarnya hampir sama dengan kaca dalam foto lama.

“Dulu spa ini di tempat lain?”

Pulpen Rani berhenti.

“Kenapa tanya begitu?”

“Iseng.”

“Kalau iseng, tanyanya jangan kayak polisi.”

Nisya minum.

“Di ujung jalan ada bangunan kosong.”

Rani menutup buku kas.

“Terus?”

“Katanya dulu tempat pelatihan.”

“Banyak tempat pelatihan.”

“Punya Mira?”

Wajah Rani tidak berubah.

Namun tangannya memindahkan buku kas yang sebenarnya sudah berada tepat di tengah meja.

“Kamu ketemu siapa?”

“Bapak toko AC.”

“Ngomong apa dia?”

“Nggak banyak.”

“Terus kamu tahu nama Mira dari mana?”

Nisya menurunkan gelas.

Pertanyaan itu datang terbalik.

Seharusnya Rani bertanya siapa Mira.

Seperti Syam kedua.

Nisya tersenyum kecil.

“Mbak kenal?”

Rani berdiri.

“Ganti baju. Sebentar lagi ramai.”

“Mbak.”

“Apaan?”

Nisya menunjukkan foto.

Rani tidak mau mengambil ponselnya.

Hanya melihat dari jarak satu langkah.

Mata perempuan itu bergerak cepat.

Mira.

Rere.

Perempuan-perempuan lain.

Syam pertama.

Lalu kaca.

Gerakan matanya berhenti di sana.

“Foto dari siapa?”

“Punya gue.”

“Kamu ada di foto?”

“Nggak.”

“Terus kenapa punya?”

“Dikirim Rere waktu ulang tahun.”

“Rere mana?”

“Teman lama.”

Rani melihat tanggal di bagian bawah.

“Ini sebelum kamu kerja di Cikalong.”

“Iya.”

“Kamu tahu dari mana tempatnya Mira kalau waktu itu belum kerja di sana?”

Nisya terdiam.

Selama ini ia menganggap foto itu diambil di Cikalong karena semua orang di dalamnya bekerja di tempat Mira.

Tidak pernah ada yang mengatakan lokasi pengambilannya.

Otaknya sendiri yang mengisi ruang kosong.

“Foto ini di bangunan ujung jalan,” kata Nisya.

Rani mengembalikan pandangan ke buku kas.

“Terus?”

“Kenapa anak-anaknya Mira ada di sana?”

“Pelatihan.”

“Pelatihan apa?”

“Kerja.”

“Syam yang ini juga ikut?”

Nisya menunjuk Syam pertama.

Rani tidak melihat.

“Semua ikut.”

“Syam satunya?”

Kali ini Rani mengangkat kepala.

“Syam mana?”

“Yang kerja di sini.”

“Apa hubungannya?”

“Dia ada di kaca.”

Nisya memperbesar pantulan laki-laki kurus itu.

Rani melihatnya.

Hanya satu detik.

“Nggak jelas.”

“Kaosnya sama. Gelangnya juga.”

“Orang pakai gelang banyak.”

Jawaban itu terlalu siap.

Nisya meletakkan ponsel di meja.

“Kemarin Syam bilang nggak pernah kerja di tempat Mira.”

“Memang nggak pernah.”

“Tapi dia ada di foto.”

“Foto itu bukan tempat Mira.”

Rani mengambil kembali buku kas.

“Jadi dia kerja di tempat itu?”

“Semua orang pernah datang ke sana.”

“Siapa semua orang?”

“Orang-orang lama.”

“Termasuk Mbak?”

Rani membalik halaman.

Tidak ada tulisan di halaman baru itu.

“Ganti baju, Nis.”

“Apa yang dipindah dari sana ke sini?”

Pulpen Rani jatuh.

Bunyi kecil.

Nyaris tidak berarti.

Rani mengambilnya kembali.

“Siapa yang bilang dipindah?”

“Ibu belakang.”

“Bu Ningsih?”

“Gue nggak tahu namanya.”

Rani berdiri terlalu cepat. Kursinya bergeser.

“Nisya.”

Suaranya rendah.

Anak-anak di belakang masih tertawa. Tidak ada yang memperhatikan mereka.

“Kamu baru empat hari di sini.”

“Terus?”

“Kerja saja dulu.”

“Gue cuma tanya.”

“Orang yang cuma tanya nggak datang ke alamat lama, bawa foto tujuh tahun lalu, terus interogasi orang satu-satu.”

Nisya mengambil ponselnya.

Rani berjalan ke belakang.

“Mbak.”

Perempuan itu berhenti di ambang pintu.

“Syam pertama siapa?”

Rani memejamkan mata sebentar.

“Jangan panggil begitu.”

“Kenapa?”

“Karena dia punya nama lengkap.”

“Siapa?”

Rani menoleh ke belakang. Memastikan tidak ada yang mendengar.

“Syamsul.”

“Yang di sini?”

“Syam.”

“Nama lengkapnya?”

Rani tidak menjawab.

Pintu depan terbuka.

Bel berbunyi.

“Sayaaaang.”

Syam masuk membawa dua gelas kopi dan sebungkus roti.

Kaos hitam.

Celana jeans.

Gelang tipis di pergelangan.

Ia melihat Nisya dan Rani bergantian.

“Kenapa tegang banget?”

Tidak ada yang menjawab.

Syam menaruh salah satu kopi di depan Rani.

“Bunda marah?”

Rani mengambil kopi itu.

“Kamu telat.”

“Tiga menit.”

“Tetap telat.”

Syam menghadap Nisya.

“Cika mau kopi?”

Nisya menunjukkan foto di ponselnya.

“Lu kenal orang ini?”

Syam melihat layar.

Senyumnya tetap ada.

Namun tidak bergerak.

Nisya menunjuk Syamsul.

“Namanya Syam juga.”

“Terus?”

“Lucu aja.”

“Kenapa lucu?”

“Dua orang. Satu nama.”

Syam mengambil roti dari plastik.

“Nama pasaran.”

“Lu pernah ketemu dia?”

“Belum tentu.”

“Belum tentu itu apa?”

“Foto buram.”

“Yang ini jelas.”

Nisya memperbesar wajah Syamsul.

Syam menggigit rotinya.

Mengunyah.

Menelan.

“Nggak kenal.”

Rani masuk ke belakang tanpa membawa buku kas.

Syam mengikuti gerakannya dengan mata.

Nisya melihat itu.

Sangat singkat.

Cukup.

Ia menggeser foto ke bagian kaca.

“Kalau yang ini?”

Pantulan tubuh kurus memenuhi layar.

Syam tertawa.

“Itu siapa?”

“Mirip lu.”

“Semua cowok kurus mirip aku sekarang?”

“Gelangnya sama.”

Syam mengangkat pergelangan tangannya.

Garis tipis berwarna hitam melingkar di kulitnya.

“Gelang lima belas ribuan.”

“Masih punya dari 2017?”

“Ini beli tahun lalu.”

“Yakin?”

Syam menatap Nisya.

Senyumnya menghilang perlahan.

“Kenapa kamu pengin banget itu aku?”

Untuk pertama kalinya, Nisya tidak mempunyai jawaban.

Syam mengambil gelas kopi yang tersisa.

Ia berjalan menuju pantry, lalu berhenti tepat di samping Nisya.

Dekat sekali.

“Kalau ketemu dua orang dengan nama sama,” katanya pelan, “jangan buru-buru cari hubungan.”

Nisya menoleh.

Syam menatap lurus ke depan.

“Kadang satu nama memang sengaja dipakai supaya orang yang asli nggak kelihatan.”

Ia melanjutkan langkah.

Masuk ke belakang.

Nisya berdiri sendiri di dekat kasir.

Di atas meja, buku kas Rani masih terbuka.

Halaman kosong.

Pulpen tergeletak di atasnya.

Nisya hendak menutup buku tersebut ketika melihat sesuatu pada halaman sebelumnya.

Daftar pengeluaran.

Laundry.

Makan.

Air.

Transportasi.

Di bagian paling bawah ada pembayaran rutin yang tidak pernah diperhatikannya.

Hanya dua huruf.

A.S.

Di sampingnya terdapat angka.

Tanggal.

Dan keterangan:

PENJAGAAN

Nisya membuka halaman minggu lalu.

Tulisan yang sama.

A.S. — PENJAGAAN

Minggu sebelumnya lagi.

Sama.

Ia membalik halaman lebih jauh.

Tiga bulan.

Enam bulan.

Setahun.

Tulisan itu selalu ada.

Jumlahnya berubah.

Nama penerimanya tetap.

A.S.

Dari belakang terdengar langkah.

Nisya menutup buku kas.

Terlambat.

Rani berdiri di ambang pintu.

Wajahnya sudah tidak marah.

Itu lebih buruk.

“Apa yang kamu lihat?”

Nisya melepaskan tangannya dari buku.

“Nggak ada.”

Rani berjalan mendekat.

Mengambil buku kas.

Memeluknya ke dada.

“Mulai sekarang,” katanya, “jangan datang sebelum jadwal kamu.”

“Mbak—”

“Dan jangan pernah masuk ke bangunan lama sendirian.”

Nisya menahan napas.

“Kenapa?”

Rani melihat ke arah pantry.

Syam sedang bernyanyi kecil sambil membuka bungkus kopi.

Kemudian Rani menjawab:

“Karena yang dipindahkan dari sana bukan cuma tempat kerjanya.”

◉ 6 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads
Diskusi Pembaca

Tulis komentar

Komentar pertama butuh moderasi. Komentar berikutnya langsung tayang.

Tulis komentar