YANG IKUT PINDAH
“Karena yang dipindahkan dari sana bukan cuma tempat kerjanya.”
Nisya tidak bergerak.
Rani juga.
Dari pantry terdengar Syam merobek bungkus gula.
Suara plastik kecil.
Biasa sekali.
Justru itu yang membuat kalimat Rani terasa semakin aneh.
“Apaan?”
Rani menatapnya.
“Yang dipindahin apaan?”
“Sudah.”
“Mbak.”
“Ganti baju.”
“Orangnya?”
Rani mengambil buku kas dari meja.
“Orang apa?”
“Yang pindah dari tempat lama.”
“Nisya.”
“Peralatannya?”
Tidak ada jawaban.
“Data pelanggan?”
Rani berjalan menuju laci di belakang kasir.
“Kasur?”
Laci dibuka.
“Handuk?”
Buku kas dimasukkan.
“Komputer?”
Laci ditutup.
Klik.
Dikunci.
Rani memasukkan kuncinya ke saku.
“Lo kalau penasaran emang nyebelin, ya.”
“Berarti ada.”
“Ada apaan?”
“Yang lo nggak mau bilang.”
Rani mengembuskan napas.
“Nggak semua hal lama harus dibongkar.”
“Kenapa?”
“Karena kadang udah selesai.”
“Kalau selesai, kenapa Mbak takut gue masuk ke sana?”
Rani menatap Nisya cukup lama.
Bukan marah.
Seperti sedang menghitung sesuatu.
“Gue nggak takut.”
“Terus?”
“Gue males ada masalah.”
“Masalah apa?”
“Kerja.”
Jawaban yang terlalu pendek.
Nisya menyandarkan pinggul ke meja kasir.
“Mbak kenal Syamsul.”
Rani diam.
“Mbak pernah di tempat itu.”
Diam lagi.
“Syam juga tahu sesuatu.”
“Jangan bawa-bawa Syam.”
“Kenapa?”
“Karena dia nggak ada hubungannya.”
Nisya hampir tertawa.
“Dia ada di foto.”
“Belum tentu dia.”
“Gelangnya sama.”
“Gelang begitu dijual di mana-mana.”
“Jawaban kalian sama.”
Rani menoleh cepat.
Nisya melihatnya.
Kena.
“Siapa yang ngajarin jawaban itu?”
“Nggak ada.”
“Syam bilang begitu. Mbak bilang begitu.”
“Nis.”
“Terus A.S. siapa?”
Wajah Rani berubah.
Tidak banyak.
Hanya otot kecil di dekat rahangnya.
Tapi cukup.
“A.S. siapa, Mbak?”
“Lo baca buku kas gue?”
“Tadi kebuka.”
“Gue tanya: lo baca?”
Nisya mengangkat bahu.
“Kelihatan.”
“Berapa halaman?”
“Nggak ngitung.”
Rani mendekat.
“Berapa halaman?”
Suara itu membuat dua terapis di belakang berhenti tertawa.
Sebentar.
Lalu video di ponsel mereka kembali berbunyi.
Nisya merendahkan suara.
“Kenapa emangnya?”
“Karena itu bukan urusan lo.”
“Penjagaan apaan?”
Rani menatapnya.
Nisya menunggu.
Lima detik.
Mungkin enam.
Kemudian Rani berkata,
“Keamanan.”
“Satpam?”
“Iya.”
“Spa kita nggak punya satpam.”
“Lingkungan.”
“Bayarnya tiap minggu?”
Rani tidak menjawab.
“Dan kenapa inisial?”
“Nisya.”
“Oke.”
Nisya mengangkat kedua tangan.
“Gue berhenti.”
“Bagus.”
“Untuk sekarang.”
Rani memejamkan mata.
“Ya Tuhan.”
Nisya tersenyum.
Lalu pintu depan terbuka.
Bel berdenting.
Seorang pelanggan masuk.
Percakapan selesai.
Begitu saja.
Pukul tiga lewat dua puluh, Nisya mendapat pelanggan pertama.
Laki-laki sekitar empat puluh tahun.
Kemeja biru muda.
Celana bahan.
Sepatu kantor yang terlalu mengilap untuk jalanan depan spa.
Ia memilih sembilan puluh menit.
“Medium aja, Mbak.”
“Siap.”
Nisya mencuci tangan.
Mengambil handuk.
Menyiapkan minyak.
Rutinitas.
Hal-hal yang ia kenal.
Hal-hal yang tidak punya rahasia.
Pelanggan berbaring tengkurap.
Nisya menutup punggung bawahnya dengan handuk.
“Kalau terlalu keras bilang, ya, Pak.”
“Iya.”
Telapak tangannya menyentuh bahu.
Menekan.
Melepas.
Menekan lagi.
Otot trapezius kaku.
Biasa.
Ia bergeser ke sisi kanan.
Ibu jari mengikuti garis di samping tulang belikat.
Pelanggan mengembuskan napas panjang.
“Pas.”
Nisya melanjutkan.
Tekan.
Putar.
Lepas.
Tubuh memiliki logikanya sendiri.
Otot tegang.
Sendi.
Tulang.
Kulit.
Tidak ada Syam.
Tidak ada Syamsul.
Tidak ada A.S.
Tidak ada bangunan lama.
Hanya punggung.
Ia menekan satu titik di bawah scapula.
Dan tangannya berhenti.
Bukan karena pelanggan bergerak.
Bukan karena ada sesuatu di kulitnya.
Tangannya saja yang berhenti.
Nisya menatap punggung di depannya.
Sebuah perasaan muncul.
Sangat cepat.
Salah.
Ia menarik tangan.
“Kenapa, Mbak?”
“Nggak apa-apa.”
Nisya menyentuh titik yang sama.
Sekali lagi.
Dan kali ini datang sesuatu yang lain.
Bau.
Bukan minyak pijat.
Bukan pendingin ruangan.
Bukan handuk.
Kopi.
Kopi hitam.
Kemudian suara kipas angin.
Kertas dibalik.
Suara pena menggores.
Seseorang berdeham.
Nisya berkedip.
Ruangan kembali.
Pendingin udara.
Musik instrumental murahan.
Punggung laki-laki berkemeja biru yang sekarang sedang telanjang sampai pinggang.
“Mbak?”
“Iya.”
“Gapapa?”
“Gapapa, Pak.”
Ia melanjutkan pijatan.
Lebih pelan.
Dua menit kemudian, semuanya normal.
Nisya mencoba menertawakan dirinya sendiri.
Kurang tidur.
Kebanyakan baca artikel.
Kebanyakan mikirin foto.
Otak capek memang bisa bikin macam-macam.
Ia pindah ke bahu kiri.
Menekan.
Pelanggan mengerang kecil.
“Yang situ enak.”
Nisya menekan lagi.
Kopi.
Kipas.
Kertas.
Kali ini lebih jelas.
Ada meja.
Bukan gambar.
Bukan mimpi.
Hanya kesan.
Seperti ketika seseorang menyebut rumah masa kecil dan kepala kita tahu bentuk ruangannya sebelum sempat membayangkan.
Nisya mengangkat tangan.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak pernah ke sini sebelumnya?”
“Sering.”
“Maksud saya…”
Nisya berhenti.
Pertanyaannya bodoh.
“Pernah saya pijat?”
Laki-laki itu berpikir.
“Kayaknya belum.”
“Yakin?”
Ia tertawa kecil.
“Kalau pernah harusnya saya ingat.”
Nisya tersenyum.
“Kenapa?”
“Nggak. Kayaknya pernah lihat Bapak.”
“Di mana?”
“Nggak tahu.”
“Jakarta kecil, Mbak.”
Nisya tertawa.
“Iya.”
Ia kembali bekerja.
Namun selama satu jam berikutnya, ia menghindari titik di bawah tulang belikat itu.
Setelah pelanggan pergi, Nisya masuk ke pantry.
Syam sedang duduk di atas meja.
Main ponsel.
“Sayaaaang.”
“Jangan panggil gue begitu.”
“Galak.”
Nisya mengambil air.
Tangannya masih dingin.
Syam memperhatikannya.
“Kenapa?”
“Apaan?”
“Muka lo.”
“Kenapa muka gue?”
“Kayak habis lihat tagihan.”
Nisya minum.
“Syam.”
“Hm?”
“Pernah nggak lo nyentuh orang terus tiba-tiba inget sesuatu?”
Syam berhenti menggulir layar.
Hanya sepersekian detik.
“Nyentuh orang gimana dulu?”
“Ya nyentuh.”
“Wah.”
“Jangan jorok.”
“Yang mulai lo.”
Nisya menendang ringan kaki meja.
“Serius.”
Syam menyimpan ponsel.
“Inget apa?”
“Nggak tahu.”
“Kalau nggak tahu, kok dibilang inget?”
Nisya hendak menjawab.
Tidak jadi.
Itu justru masalahnya.
Ia tahu apa yang dirasakannya.
Ingat.
Tapi tidak tahu apa yang diingat.
“Kayak déjà vu?”
tanya Syam.
“Mungkin.”
“Normal.”
“Normal dari mana?”
“Otak suka error.”
Nisya menatapnya.
“Kok lo tahu?”
“Internet.”
“Lo baca?”
“Semua orang pernah déjà vu.”
“Bukan tempat.”
“Terus?”
“Sentuhan.”
Syam tidak bercanda lagi.
Nisya melihat perubahan itu.
Kecil.
Tapi ada.
“Sentuhan gimana?”
“Pas gue mijat.”
“Siapa?”
“Pelanggan.”
“Siapa orangnya?”
Nisya mengernyit.
“Kenapa nanya siapa?”
Syam turun dari meja.
“Ya penasaran.”
“Pak Dedi.”
“Dedi mana?”
“Gue mana tahu. Di daftar cuma Dedi.”
“Sering datang?”
“Katanya.”
Syam mengambil ponselnya.
“Lo kenal?”
“Nggak.”
Terlalu cepat.
Nisya tertawa pendek.
“Nah.”
“Nah apaan?”
“Lo kalau bohong kecepetan.”
Syam memasukkan ponsel ke saku.
“Gue nggak bohong.”
“Gue belum bilang lo bohong soal apa.”
Syam menatapnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, Nisya merasa menang.
Sedikit.
“Cika.”
“Apa?”
“Kalau lo ngerasa aneh waktu mijat orang…”
Ia berhenti.
Nisya menunggu.
“Kenapa?”
Syam melihat ke arah pintu pantry.
Kosong.
Lalu kembali kepada Nisya.
“Jangan dicari.”
Nisya hampir tertawa.
“Kenapa semua orang di tempat ini hobi banget bilang jangan?”
“Karena lo hobi banget nyari.”
“Nyari apa?”
Syam tidak menjawab.
Nisya mendekat.
“Nyari apa, Syam?”
Pintu pantry terbuka.
Rani masuk membawa tumpukan handuk.
Percakapan putus.
Syam mengambil dua handuk paling atas.
“Mau bantu.”
“Tumben.”
“Anak baik.”
Ia keluar.
Rani meletakkan sisanya.
Nisya memperhatikannya.
“Mbak.”
“Apalagi?”
“Tadi gue aneh pas mijat.”
Rani tidak berhenti bekerja.
“Aneh gimana?”
“Kayak inget sesuatu.”
Handuk di tangan Rani berhenti.
Hanya sebentar.
Nisya melihatnya.
Lagi.
Gerakan kecil itu.
Sama seperti tadi ketika nama A.S. disebut.
“Kurang tidur,” kata Rani.
“Syam juga bilang normal.”
“Ya memang.”
“Gue belum cerita ke Mbak rasanya kayak apa.”
Rani menumpuk handuk.
Putih.
Krem.
Putih.
“Nggak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena gue tahu.”
Sunyi.
Nisya tidak yakin mendengar dengan benar.
“Apa?”
Rani mengangkat tumpukan handuk.
“Gue tahu.”
“Maksudnya?”
Rani berjalan ke pintu.
Nisya menahan lengannya.
Tidak keras.
Cuma cukup untuk membuatnya berhenti.
“Mbak.”
Rani melihat tangan Nisya di lengannya.
Nisya melepaskan.
“Apa yang lo tahu?”
Rani menatap wajahnya.
Lama.
Kemudian bertanya,
“Waktu lo kerja di Cikalong, pernah kejadian juga?”
Nisya hendak menjawab tidak.
Tapi mulutnya tidak jadi terbuka.
Ada sesuatu.
Bukan ingatan.
Lebih kecil.
Seorang perempuan tua.
Punggung kurus.
Tulang belikat menonjol.
Tangannya sendiri menekan satu titik.
Lalu—
Ayah.
Nisya mundur setengah langkah.
Rani melihatnya.
“Pernah?”
“Gue nggak tahu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Gue memang nggak tahu.”
Rani menurunkan tumpukan handuk ke meja.
“Coba ingat.”
“Apaan yang harus gue ingat?”
“Pelanggan.”
“Pelanggan banyak.”
“Yang bikin tangan lo berhenti.”
Nisya menatap Rani.
Dingin merambat dari tengkuk ke punggung.
“Kenapa Mbak tahu tangan gue berhenti?”
Rani tidak menjawab.
“Gue nggak bilang itu.”
Sunyi.
Dari luar terdengar bel pintu.
Seseorang datang.
Tidak ada yang bergerak.
“Mbak.”
Rani mengambil handuknya lagi.
“Ganti room tiga. Lima menit lagi ada tamu.”
“Jangan kabur.”
“Gue kerja.”
“Kenapa lo tahu?”
Rani berjalan keluar.
Nisya mengikutinya sampai ambang pintu.
“Mbak Rani.”
Rani berhenti.
Tidak menoleh.
Nisya menunggu.
Akhirnya Rani berkata,
“Karena dulu bukan cuma lo.”
Ia melangkah.
Nisya tetap berdiri.
“Siapa?”
Rani terus berjalan.
“Siapa, Mbak?”
Tidak ada jawaban.
Nisya memandang kedua tangannya.
Telapak.
Jari.
Garis-garis kecil di kulit.
Tangan yang sama yang selama bertahun-tahun ia gunakan untuk bekerja.
Menyentuh ratusan tubuh.
Mengenali otot yang kaku.
Mencari titik yang sakit.
Membuat orang tidur.
Membuat orang merasa lebih ringan.
Untuk pertama kalinya Nisya bertanya sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya.
Bagaimana kalau selama ini tangannya bukan cuma mengenali tubuh orang lain?
Bagaimana kalau—
sesekali—
tubuh orang lain mengenali sesuatu di dalam dirinya?
