S SAMODRO STORIESWEBSERIES
YANG TIDAK TERJADI
RESONANSI atau Nisya Cika
BAB 14

YANG TIDAK TERJADI

September 11, 2026

Tiga hari berikutnya, Nisya menyentuh sebelas punggung.

Tidak terjadi apa-apa.

Punggung pertama milik laki-laki muda yang datang sambil terus membalas pesan.

Punggung kedua milik laki-laki bertubuh besar dengan bekas kerokan di sepanjang bahu.

Punggung ketiga terlalu kurus.

Punggung keempat dipenuhi jerawat kecil.

Punggung kelima berkeringat bahkan sebelum disentuh.

Semua normal.

Otot.

Tulang.

Kulit.

Keluhan yang sama.

Kurang keras.

Lebih ke kanan.

Bagian pinggang jangan ditekan.

Lehernya sekalian.

Nisya mengerjakan semuanya seperti biasa.

Namun sekarang ia menghitung.

Satu pelanggan.

Dua.

Tiga.

Setiap kali tangannya mendekati bagian bawah tulang belikat, ia menahan napas.

Menunggu kopi.

Kipas angin.

Kertas.

Apa saja.

Tidak ada.

Hanya musik instrumental dari pengeras suara di sudut ruangan.

Hanya pendingin udara yang kadang berbunyi kasar.

Hanya suara motor dari jalan.

Pada pelanggan ketujuh, Nisya sengaja menekan titik yang sama tiga kali.

“Yang itu sakit, Mbak.”

“Maaf.”

Ia mengurangi tekanan.

Pelanggan kedelapan tertidur setelah dua puluh menit.

Pelanggan kesembilan mendengkur.

Pelanggan kesepuluh meminta minyak ditambah.

Pelanggan kesebelas mengeluh pijatannya kurang kuat.

Tidak ada yang berhenti.

Tidak ada yang salah.

Justru itu yang membuat Nisya semakin tidak tenang.

Ia mulai membawa buku kecil.

Sampulnya cokelat.

Ukurannya cukup untuk diselipkan ke saku seragam.

Setelah setiap sesi, ia masuk ke toilet dan menulis.

Laki-laki. Sekitar 30. Bahu kanan kaku. Tidak ada.

Laki-laki. Sekitar 50. Bekas luka di pinggang. Tidak ada.

Laki-laki. Sekitar 40. Mengaku pernah datang tahun lalu. Tidak ada.

Dua kata itu terus muncul.

Tidak ada.

Menjelang sore hari ketiga, Nisya duduk di pantry sambil membuka catatannya.

Syam masuk membawa dua gelas minuman kemasan.

Satu diletakkan di depan Nisya.

“Apaan?”

“Teh.”

“Kenapa?”

“Karena kalau racun gue rugi belinya.”

Nisya mendorong gelas itu sedikit.

“Gue nggak pesen.”

“Gue juga nggak bilang gratis.”

Syam duduk di seberangnya.

Matanya turun ke buku kecil.

“Novel?”

Nisya menutupnya.

“Utang.”

“Banyak amat dicatat.”

“Biar nggak lupa.”

Syam menusukkan sedotan ke gelasnya.

Plastik penutupnya mengeluarkan bunyi pendek.

Nisya teringat bungkus gula.

Foto lama.

Gelang.

Syamsul.

“Ada berapa Syam yang pernah kerja di tempat Cikalong?”

Syam tidak langsung minum.

“Kenapa nanya gue?”

“Karena nama lo Syam.”

“Nama orang satu Indonesia juga banyak yang Syam.”

“Berapa?”

“Nggak tahu.”

“Lo pernah kerja di sana?”

“Udah gue jawab.”

“Jawaban lo nggak jelas.”

“Berarti cocok sama pertanyaannya.”

Nisya menatapnya.

Syam akhirnya minum.

Tenang sekali.

Terlalu tenang.

“Pak Dedi datang lagi nggak?”

Sedotan berhenti di bibirnya.

“Nanya gue lagi.”

“Lo kenal dia.”

“Nggak.”

“Setiap gue sebut dia, muka lo berubah.”

“Muka gue begini dari lahir.”

“Nomornya ada di buku pelanggan?”

“Cari sendiri.”

Nisya berdiri.

Syam ikut berdiri.

Gerakannya terlalu cepat.

Mereka sama-sama menyadarinya.

Nisya tersenyum kecil.

“Kenapa?”

“Kenapa apaan?”

“Gue cuma mau lihat buku pelanggan.”

“Terus?”

“Kenapa lo berdiri?”

“Mau keluar.”

“Bareng gue?”

“Pantry cuma punya satu pintu.”

Nisya berjalan lebih dahulu.

Syam mengikutinya sampai lorong, lalu berbelok menuju ruang belakang.

Nisya berhenti di meja kasir.

Buku pelanggan ada di samping telepon.

Rani sedang menghitung uang pecahan lima puluh ribu.

“Cari apa?”

“Jadwal.”

“Jadwal lo di papan.”

“Jadwal pelanggan.”

Rani tetap menghitung.

“Nggak boleh?”

“Sejak kapan lo peduli administrasi?”

“Sejak administrasi lebih jujur daripada orang.”

Hitungan Rani berhenti.

Nisya membuka buku itu.

Tanggal tiga hari lalu.

Ia mengikuti daftar nama dengan ujung jari.

Beberapa pelanggan hanya ditulis nama depan.

Beberapa memakai nomor telepon.

Beberapa diberi tanda bintang.

Ia menemukan namanya.

15.20 — DEDI — 90 — CIKA — CASH

Tidak ada nomor telepon.

Nisya membalik halaman sebelumnya.

Lalu halaman sebelumnya lagi.

“Kalau pelanggan datang tanpa reservasi, nggak ditulis nomor?”

“Kadang.”

“Kadang kapan?”

“Kalau lagi ramai.”

“Hari itu nggak ramai.”

Rani melanjutkan menghitung.

“Terus?”

“Dia bilang sering datang.”

“Banyak yang sering datang.”

“Tapi nomornya nggak ada.”

“Bayar tunai.”

“Apa hubungannya?”

Rani mengikat uang dengan karet gelang.

“Lo sebenarnya nyari apa?”

Nisya memandang tulisan DEDI.

Huruf kapital.

Tinta hitam.

Tidak ada yang aneh.

Ia membuka halaman beberapa bulan sebelumnya.

Nama Dedi muncul lagi.

Dua kali.

Kemudian satu kali pada bulan yang lebih lama.

Selalu tanpa nomor.

Selalu tunai.

Kolom terapis berbeda-beda.

MAYA.

NISYA.

RARA.

Jarinya berhenti.

“Nisya yang ini siapa?”

Rani melihat sekilas.

“Nisya lama.”

“Yang bikin gue dipanggil Cika?”

“Iya.”

“Dia masih kerja waktu Pak Dedi datang?”

“Kelihatan dari tanggalnya.”

“Sekarang dia di mana?”

“Nggak tahu.”

“Kenapa berhenti?”

“Orang berhenti kerja harus pakai alasan?”

“Biasanya.”

“Dapat tempat lain.”

“Di mana?”

Rani menatapnya.

“Gue bukan kantor pajak.”

Nisya kembali melihat buku.

Nama Dedi.

Nama Nisya.

Tanggal yang sudah lewat.

Tiga baris biasa di antara ratusan nama lain.

“Pak Dedi pernah kerja di tempat Cikalong?”

Rani menghela napas.

“Nis.”

“Pernah?”

“Gue nggak tahu.”

“Kalau gue minta nomor teleponnya?”

“Nggak ada.”

“Alamat?”

“Ini tempat pijat, bukan kelurahan.”

Nisya menutup buku.

“Kalau dia datang lagi, bilang gue yang pegang.”

“Kalau dia minta terapis lain?”

“Bilang gue kosong.”

“Kalau lo nggak kosong?”

“Bikin kosong.”

Rani menatapnya cukup lama.

“Lo sedang nyoba sesuatu?”

Nisya memasukkan kedua tangan ke saku.

Ujung jarinya menyentuh buku catatan kecil.

“Nggak.”

“Bohong.”

Nisya berbalik.

“Mbak juga.”

Ia baru berjalan dua langkah ketika Rani berkata dari belakang.

“Jangan main-main sama tubuh orang.”

Nisya berhenti.

Tidak menoleh.

“Gue kerja.”

“Lo tahu maksud gue.”

“Justru gue nggak pernah tahu maksud Mbak.”

Bel pintu berbunyi.

Seorang laki-laki masuk.

Bukan Pak Dedi.

Usianya mungkin lebih dari lima puluh.

Kemeja batik.

Tas kulit tipis dijepit di bawah lengan.

Ia melihat ke kanan dan kiri seperti orang yang baru pertama datang.

“Bisa langsung?”

Rani kembali menjadi kasir.

Suaranya ramah.

“Bisa, Pak. Enam puluh atau sembilan puluh menit?”

“Enam puluh saja.”

“Tekanannya?”

“Sedang.”

Rani melihat daftar terapis.

Nisya masih berdiri di dekat lorong.

“Cika kosong.”

Laki-laki itu mengangguk.

“Boleh.”

Nisya hampir mengatakan tidak.

Tangannya lelah.

Kepalanya lebih lelah.

Namun ia mengambil handuk.

“Silakan, Pak.”

Di dalam ruangan, laki-laki itu meletakkan tasnya di kursi.

Ponselnya dimatikan.

Bukan dibuat senyap.

Dimatikan.

Lalu dimasukkan ke dalam tas.

Nisya memperhatikannya.

Jarang ada pelanggan melakukan itu.

“Takut mengganggu,” katanya, seolah membaca pikiran Nisya.

“Oh.”

“Seharian bunyi terus.”

“Kerjaan, Pak?”

Laki-laki itu tersenyum tipis.

“Dulu.”

Ia melepas kemeja dan berbaring tengkurap.

Nisya mencuci tangan.

Meneteskan minyak.

Mengusap kedua telapak sampai hangat.

Ia memulai dari bahu.

Tekan.

Putar.

Lepas.

Punggung itu menyimpan ketegangan yang dalam.

Bukan kaku karena olahraga.

Bukan salah tidur.

Seperti tubuh yang terlalu lama duduk sambil menahan sesuatu.

Nisya bekerja perlahan.

Lima menit.

Sepuluh.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia sedikit lega.

Sedikit kecewa.

Tangannya turun mengikuti sisi tulang belakang.

Laki-laki itu mengembuskan napas.

“Pas.”

Nisya bergeser ke kanan.

Ibu jarinya mendekati bagian bawah tulang belikat.

Titik yang sama.

Ia berhenti sebelum menyentuhnya.

Rani terbayang di kepalanya.

Jangan main-main sama tubuh orang.

Nisya memindahkan tangan.

Ia mengambil jalur lain.

Bahu.

Lengan.

Pinggang.

Semua normal.

Laki-laki itu mulai tertidur.

Napasnya melambat.

Nisya melihat jam.

Masih tiga puluh menit.

Ia kembali ke punggung atas.

Telapak kirinya menahan bahu.

Tangan kanan menekan perlahan.

Tubuh di bawahnya bergerak kecil.

Bukan menolak.

Seperti mengenali tekanan itu.

Nisya membeku.

Tidak ada bau kopi.

Tidak ada kipas.

Tidak ada kertas.

Kosong.

Ia menunggu.

Lima detik.

Sepuluh.

Laki-laki itu tetap diam.

Nisya hampir melanjutkan ketika tangan pelanggan terangkat dari sisi kasur.

Bergerak pelan.

Masih setengah tidur.

Jemarinya menyentuh pergelangan tangan Nisya.

Hanya sebentar.

Namun tubuh Nisya kehilangan udara.

Sebuah meja muncul.

Cangkir putih.

Asbak penuh.

Kertas koran terlipat.

Suara orang berdebat dari ruangan lain.

Lalu hilang.

Nisya menarik tangannya.

Laki-laki itu membuka mata.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Saya ketiduran?”

“Sebentar.”

Ia menurunkan tangannya kembali.

Nisya berdiri tanpa bergerak.

Kopi.

Meja.

Kertas.

Sama.

Tetapi kali ini sentuhan datang dari arah sebaliknya.

Pelanggan yang menyentuh dia.

Nisya menelan ludah.

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak pernah kenal wartawan?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

Mungkin sudah tertidur lagi.

Nisya mendekat.

“Pak?”

Bibir laki-laki itu bergerak.

Suaranya kecil.

Tidak jelas.

“Apa, Pak?”

Ia bergumam sekali lagi.

Kali ini Nisya mendengarnya.

“Kopinya keburu dingin, Man.”

Seluruh tubuh Nisya kaku.

Man.

Bisa siapa saja.

Herman.

Sulaiman.

Rahman.

Firman.

Nisya mundur.

Tumitnya menyentuh kaki kursi.

Tas kulit pelanggan jatuh.

Isinya tumpah ke lantai.

Dompet.

Kunci.

Kacamata.

Sebuah pulpen hitam.

Dan kartu identitas lama dengan sudut yang mulai mengelupas.

Nisya berjongkok.

Tangannya bergerak hendak merapikan.

Lalu berhenti.

Di bagian bawah kartu itu ada satu baris tulisan.

Nama sebuah kantor.

Nisya pernah melihat nama itu.

Bukan di internet.

Bukan di buku Shelley.

Di rumah Bude.

Pada sebuah amplop cokelat yang bertahun-tahun disimpan di bawah tumpukan kain.

Amplop milik Ayah.

◉ 2 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads