S SAMODRO STORIESWEBSERIES
BAB 1 — MALAM KETIKA IMAN HARUS DITINGGALKAN DI PINTU
PEMIMPIN SEKARANG
BAB 1

BAB 1 — MALAM KETIKA IMAN HARUS DITINGGALKAN DI PINTU

Anton cuma pengin segelas kopi. Namun, setelah sebuah rapat meminta mereka meninggalkan iman di depan pintu, kompromi sekecil gelas plastik itu tidak lagi terasa sederhana.

August 29, 2026

Anton memutar tutup tumblernya untuk ketujuh kali.

Buka.

Tutup.

Buka lagi.

Bunyinya kecil, tetapi cukup membuat Nancy menoleh.

“Kalau diterusin, dratnya dol.”

Anton berhenti.

Ia meletakkan tumbler hitam itu di antara kedua kakinya. Telapak tangannya masih menempel pada tutupnya, seolah benda itu bisa kabur kalau dilepas.

Pada badan tumbler itu tertempel stiker hijau yang mulai mengelupas.

LAUDATO SI’.

Anton mendapatkannya setelah mengikuti diskusi lingkungan hidup di kampus. Sejak itu ia membawa tumbler tersebut hampir ke mana-mana—sebagian karena percaya, sebagian lagi karena tidak enak kalau terlihat lupa.

Di seberang jalan, minimarket masih terang.

Pintu kacanya terbuka dan menutup setiap kali orang keluar masuk. Seorang pengemudi ojek daring muncul membawa dua gelas kopi dalam kantong plastik. Embun menempel pada dinding gelas. Es batu beradu ketika kantong itu berayun di tangannya.

Anton mengikuti gelas-gelas itu dengan mata.

Nancy melihatnya.

“Beli aja.”

“Enggak.”

“Pengen, kan?”

“Enggak.”

“Kamu ngeliatin sampai kopinya masuk motor.”

Anton membuka tumblernya. Mengangkatnya. Meneguk air putih yang sudah kehilangan dingin sejak sore.

Rasanya seperti kewajiban.

“Ini masih ada.”

“Itu air.”

“Air juga minuman.”

Nancy mendengus.

Bangku kayu di tepi jalan itu masih lembap oleh hujan. Mereka duduk berjauhan, dipisahkan sebuah tas kain dan map berisi kertas hasil rapat. Dari balik pagar, pepohonan Ragunan berdiri sebagai bayangan hitam. Bau tanah basah bercampur asap kendaraan dan aroma ayam goreng dari warung dekat lampu merah.

Sudah hampir pukul sepuluh.

Mereka seharusnya pulang.

Namun sejak keluar dari ruang rapat empat puluh menit lalu, tidak satu pun dari mereka benar-benar bergerak menuju halte.

Anton kembali memutar tutup tumbler.

Klik.

Nancy mengambil map di antara mereka.

“Lo nyatet kalimatnya?”

“Kalimat apa?”

Nancy membuka lembar pertama. Beberapa poin rapat tertulis rapi dengan tinta biru. Target peserta. Jadwal konsolidasi. Pembagian wilayah. Nama calon pembicara. Perkiraan biaya.

Di sudut bawah ada satu kalimat yang dilingkari dua kali.

Nancy membacanya keras-keras.

“Kalau masuk ruang politik, iman ditinggal dulu di pintu.”

Anton merebut map itu.

“Pelan-pelan.”

“Kenapa? Takut pohon dengar?”

“Nans.”

“Dia ngomong begitu, Ton.”

“Aku dengar.”

“Semua orang dengar.”

Anton memasukkan lembar itu kembali ke map, lalu menekannya sampai rata.

Terlalu rata.

“Dia mungkin cuma bikin perumpamaan.”

“Kamu serius?”

“Aku bilang mungkin.”

“Dan semua orang ketawa.”

“Karena cara ngomongnya memang—”

“Lucu?”

Anton tidak menjawab.

Nancy menyandarkan punggung. Ujung sepatunya mengetuk aspal dua kali.

“Tadi gue pengin nanya,” katanya.

“Kenapa enggak?”

Nancy menatapnya.

Anton langsung tahu itu pertanyaan yang salah.

“Karena lo nyenggol kaki gue dari bawah meja.”

“Aku cuma—”

“Nyenggol.”

“Situasinya lagi panas.”

“Makanya.”

“Kalau kamu langsung serang dia di depan semua orang, rapatnya bubar.”

“Rapatnya memang harus bubar kalau fondasinya kayak begitu.”

Anton menarik napas, lalu membuangnya perlahan.

Di seberang jalan, poster kopi susu menempel besar pada kaca minimarket.

Paket hemat.

Beli dua lebih murah.

Sedotan dibungkus plastik. Gelas plastik. Tutup plastik. Kantong plastik. Empat lapis benda yang akan dipakai kurang dari setengah jam, lalu tinggal di bumi jauh lebih lama daripada orang yang membelinya.

Anton pernah menulis semua itu dalam bahan diskusi lingkungan hidup di kampus.

Ibu jarinya menggosok ujung stiker Laudato Si’ yang terangkat.

Ia menekannya kembali.

Stiker itu menempel beberapa detik, lalu mengelupas lagi.

Malam ini ia cuma ingin kopinya.

Tumbler di tangannya seperti sedang mengejek.

Bukan karena benda itu suci.

Justru karena ia tahu persis alasan membawanya.

Satu gelas.

Satu kompromi kecil.

Tidak ada negara yang runtuh karena Anton membeli kopi susu pukul sepuluh malam.

Ia membuka tumbler.

Air putih.

Menutupnya lagi.

Klik.

“Kenapa lo diem?” tanya Nancy.

“Aku sedang mikir.”

“Nah, itu masalahnya.”

Anton menoleh.

“Kalau ada orang mukul, lo mikir dulu bentuk kepalan tangannya.”

“Aku cuma enggak mau bereaksi bodoh.”

“Dan gue bodoh karena marah?”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Tapi kedengarannya begitu.”

Sebuah bus lewat terlalu dekat. Angin yang dibawanya menghamburkan percikan air dari tepi jalan. Nancy mengangkat kedua kakinya tepat waktu. Anton terlambat.

Ujung celananya terkena air kotor.

Nancy melihatnya.

Anton melihat bekas cipratan itu.

Mereka sama-sama hampir tertawa.

Hampir.

Nancy memalingkan wajah lebih dulu.

Tadi sore ia masih bersemangat.

Ia datang ke rapat membawa dua kotak roti dan sebuah gagasan untuk membuat malam kesenian sebagai bagian dari program kaderisasi. Bukan pertunjukan besar. Hanya tari, musik, pembacaan puisi, dan percakapan dengan anak-anak muda dari beberapa komunitas.

Menurut Nancy, orang harus belajar berdiri di depan manusia sebelum bermimpi memimpin mereka.

Usul itu bahkan belum selesai dipresentasikan ketika seorang senior memotong.

“Ini organisasi kader, bukan sanggar.”

Beberapa orang tertawa.

Nancy masih mencoba menjelaskan.

Senior itu kembali memotong.

“Kita butuh orang efektif. Politik itu soal kekuasaan, bukan perasaan.”

Lalu kalimat tersebut keluar.

Kalimat yang sekarang dilingkari Anton dua kali.

Kalau masuk ruang politik, iman ditinggal dulu di pintu.

Anton ingat persis suasana sesudahnya.

Tawa.

Ada yang mengetuk meja tanda setuju.

Ada yang berkata, “Nah, ini baru realistis.”

Dan Anton—

Anton tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menyenggol kaki Nancy dari bawah meja ketika perempuan itu hendak berdiri.

Saat itu ia merasa sedang menyelamatkan keadaan.

Sekarang ia tidak terlalu yakin.

“Aku bukan melarang kamu bicara,” katanya.

“Lo menghentikan gue.”

“Aku mencegah kita dipermalukan.”

“Kita?”

Nancy mengucapkan kata itu pelan.

Anton menatapnya.

“Ya. Kita.”

“Yang dipermalukan tadi gue, Ton.”

“Aku tahu.”

“Enggak. Lo enggak tahu.”

Nancy menarik tas kain ke pangkuannya.

“Kalau lo tahu, lo enggak akan duduk manis sambil nyatet.”

“Aku perlu tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.”

“Sudah jelas.”

“Belum.”

“Jelas banget.”

“Mereka punya jaringan. Mereka punya akses. Kalau kita langsung pergi setiap kali ada kalimat yang enggak kita suka, kita enggak akan pernah—”

“Punya akses?”

Anton berhenti.

Nancy menunggu.

Satu mobil berbelok ke minimarket. Lampunya menyapu wajah mereka, lalu menghilang.

“Lo mau jadi seperti mereka?” tanya Nancy.

“Jangan ngawur.”

“Gue nanya.”

“Ya enggak.”

“Tapi lo mau tetap di dalam lingkarannya.”

“Karena dari luar kita enggak bisa mengubah apa-apa.”

Nancy tertawa pendek. Tidak ada bagian yang lucu.

“Kalimat itu juga tadi diucapkan.”

Anton tahu.

Ia ingat siapa yang mengatakannya.

Ia juga ingat dirinya mengangguk.

Bukan karena setuju sepenuhnya.

Hanya karena sebagian terdengar masuk akal.

Dan kadang bagian yang masuk akal jauh lebih berbahaya daripada kebohongan terang-terangan.

Anton mengambil tumblernya.

Buka.

Tutup.

Tangannya mulai berkeringat.

“Waktu di kapel tadi,” kata Nancy, “gue baik-baik aja.”

Anton diam.

“Gue nyanyi, gue doa, gue bahkan sempat mikir program ini mungkin bakal jadi sesuatu yang bagus. Terus kita pindah ke ruang rapat. Cuma beda gedung. Lima menit jalan kaki.”

Ia menatap jari-jarinya sendiri.

“Tapi rasanya kayak gue harus jadi orang lain.”

Anton ingin menjawab.

Tidak menemukan kalimat yang tidak terdengar seperti kutipan buku.

Maka ia diam.

Itu lebih jujur.

Nancy melanjutkan, “Kalau iman memang harus ditinggal di pintu, kita ambil lagi kapan?”

Anton menatapnya.

“Apa?”

“Pulang rapat?”

Nancy menunjuk map di tangannya.

“Atau setelah menang pemilu? Setelah dapat jabatan? Setelah program selesai? Setelah semua kompromi beres?”

Ia mengangkat bahu.

“Pintunya yang mana?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Sederhana.

Tidak terdengar seperti filsafat.

Justru karena itu Anton tidak bisa segera menjawab.

Tumblernya terasa makin berat.

Di seberang jalan, pegawai minimarket membawa tumpukan kardus ke luar. Pintu terbuka lebih lama. Udara dingin dari dalam toko seperti menyeberang bersama cahaya putihnya.

Anton membayangkan dirinya berdiri.

Menyeberang.

Membeli kopi.

Meminta es lebih banyak.

Menerima gelas plastik, tutup plastik, sedotan plastik, lalu kembali ke bangku ini dan melanjutkan pembicaraan tentang prinsip.

Ia hampir tertawa.

“Kita beli kopi, yuk,” kata Nancy.

Anton menoleh cepat.

“Tadi katanya—”

“Gue tahu.”

Nancy berdiri dan merapikan celananya.

Anton melihat tumbler di tangannya.

Nancy mengikuti arah pandang itu.

“Bawa ke sana.”

“Buat apa?”

“Minta kopinya masuk tumbler.”

“Bisa?”

“Ya tanya.”

“Kalau enggak boleh?”

“Ya enggak jadi beli.”

Anton memandang minimarket.

Begitu sederhana bagi Nancy.

Menyeberang.

Bertanya.

Kalau ditolak, memilih.

Tidak menyusun enam skenario sebelum berdiri.

Tidak membuat tabel untung-rugi untuk segelas kopi.

Nancy sudah melangkah ketika menyadari Anton belum mengikutinya.

“Ton.”

Anton memasukkan map ke tas.

“Aku ikut.”

Mereka menunggu lalu lintas sedikit lengang.

Ketika hendak menyeberang, sebuah motor melaju cepat dari tikungan. Nancy yang berdiri setengah langkah di depan tidak melihatnya.

Anton menarik lengannya.

Tubuh Nancy terhuyung ke belakang dan membentur dada Anton.

Motor itu lewat sambil membunyikan klakson panjang.

“Kalau nyebrang lihat kanan-kiri,” kata Anton.

Tangannya masih menggenggam lengan Nancy.

“Kalau rapat juga,” jawab Nancy.

Anton melepasnya.

Nancy tersenyum tipis.

Retakan di antara mereka belum hilang.

Namun setidaknya mereka sedang bergerak.

Di tengah jalan, Nancy bertanya, “Lo sebenarnya takut apa?”

Anton terus berjalan.

“Ditendang dari organisasi?”

“Bukan.”

“Dibilang sok suci?”

“Bukan.”

“Terus?”

Mereka sampai di depan minimarket.

Anton berhenti di bawah cahaya putih papan nama. Dari balik kaca, seorang kasir melihat tumbler yang dibawanya.

“Aku takut mereka benar,” katanya.

Nancy tidak segera menanggapi.

“Tentang apa?”

Anton memandang orang-orang di dalam toko. Seseorang menghitung uang receh. Dua anak berseragam kampus memilih mi instan. Pengemudi ojek tadi masih menunggu pesanan berikutnya.

“Bahwa kalau kita terlalu sibuk menjaga semuanya tetap bersih, kita enggak akan pernah melakukan apa-apa.”

Nancy mendekat satu langkah.

“Dan kalau kita mengotori diri sedikit demi sedikit?”

Anton menatap pantulannya pada pintu kaca.

“Ya.”

Pintu otomatis terbuka.

Udara dingin menyentuh wajah mereka.

Anton belum masuk.

Nancy berdiri di sampingnya, menunggu tanpa mendesak.

Di dalam, kasir mengangkat tangan.

“Mau pesan kopi, Kak?”

Anton mengangkat tumbler.

“Mas, kalau pakai ini boleh?”

Kasir melihat tumbler itu, kemudian mesin kopi di belakangnya.

“Boleh, Kak. Nanti gelas plastiknya enggak usah.”

Anton mengangguk.

Kasir mengambil tumbler itu. Stiker Laudato Si’ yang mengelupas berputar menjauh dari Anton, lalu menghadap kepadanya lagi ketika tumbler diletakkan di bawah mesin.

Ternyata tidak sulit.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada rapat.

Tidak ada orang yang menertawakan.

Cuma satu pertanyaan dan satu jawaban.

Nancy masuk lebih dulu.

Anton mengikuti.

Sebelum pintu menutup, matanya sempat menangkap bayangan bangku kosong di seberang jalan.

Map rapat berada di dalam tasnya.

Kalimat itu masih ada di sana, dilingkari dua kali.

Kalau masuk ruang politik, iman ditinggal dulu di pintu.

Anton memandang pintu minimarket yang menutup di belakangnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia bertanya kepada dirinya sendiri:

kalau suatu hari ia benar-benar meninggalkan sesuatu di depan pintu—

apakah ketika pulang nanti benda itu masih akan berada di sana?

Atau seseorang sudah mengambilnya,

dan ia telah berubah menjadi orang yang dulu ingin dilawannya?

5 dibaca◌ 0 diskusi
WhatsAppFacebookThreads