MESIN YANG MENGUBAH PERTANYAAN
AI itu apa? Tools? terlalu sederhana kalau bilang AI cuma alat seperti Canva atau CapCut. Seorang filsuf pongah bilang: AI itu episteme. Cara baru membentuk atau pengetahuan. Episteme? Bahkan kita masih berdiri di kamar dalam ruang yang coba kita definisikan itu. Epistemic shifting, boleh jadi benar. Atau epistemic rupture. Entahlah.
MESIN YANG MENGUBAH PERTANYAAN
Pukul sembilan lewat tujuh menit ketika Pak Arya menutup laptopnya.
Ia tidak membantingnya. Tidak juga menghela napas panjang seperti dosen-dosen dalam film yang ingin seluruh kelas tahu bahwa generasi di hadapannya telah mengecewakan peradaban. Ia hanya menurunkan layar laptop perlahan, lalu berdiri di belakang meja.
Gerakan itu justru membuat kelas berhenti berisik.
Di layar proyektor masih tertinggal halaman pertama sebuah makalah. Judulnya tampak meyakinkan. Huruf kapital, subjudul panjang, tiga istilah bahasa Inggris dalam kurung. Di bawahnya ada nama seorang mahasiswa yang sejak lima menit lalu menunduk, seolah permukaan meja menyimpan jalan keluar rahasia.
Pak Arya menunjuk satu kalimat pada layar.
“Konsili Vatikan Ketiga,” katanya.
Beberapa orang tertawa kecil.
“Saya juga menunggu,” lanjutnya. “Siapa tahu Gereja sudah menyelenggarakannya tadi malam dan saya tidak diundang.”
Tawa membesar. Mahasiswa yang namanya tercetak di halaman itu ikut tersenyum, tetapi hanya dengan bibir.
“Masalahnya bukan karena kamu memakai ChatGPT.”
Kelas mendadak lebih tenang.
Pak Arya mematikan proyektor. Kalimat itu hilang, menyisakan bidang putih kusam di dinding.
“Masalahnya, kamu tidak membaca apa yang ditulis atas namamu sendiri.”
Anton memutar tutup tumbler hitam di atas meja. Seperempat putaran ke kiri, lalu kembali ke kanan. Ia sudah melakukannya sejak Pak Arya mulai membedah makalah satu per satu.
Di dalam tumbler itu hanya ada air putih yang sudah tidak dingin. Dari jendela kelas di lantai tiga, ia dapat melihat papan minimarket di seberang jalan. Ia membayangkan kopi susu dalam gelas plastik: es yang beradu dengan dinding bening, embun menetes sampai ke pergelangan tangan, sedotan sekali pakai yang biasanya baru ia pikirkan setelah minuman habis.
Semalam, Nancy menyelipkan Laudato Si’ ke dalam tasnya sambil berkata, “Kalau tumbler cuma jadi aksesori orang yang merasa ramah lingkungan, mending bawa asbak.”
Anton tidak membawa asbak. Ia juga tidak membeli kopi.
Belum.
“Kalian mengira saya sedang mengeluhkan kecerdasan buatan,” kata Pak Arya. “Tidak. Saya sedang mengeluhkan motif kalian ketika menggunakannya.”
Ia keluar dari belakang meja dan berjalan di antara dua baris bangku.
“Tugas datang. Kalian panik. Kalian buka ChatGPT. Ketik perintah. Keluar jawaban. Salin. Kirim. Selesai.”
Ia menjentikkan jari.
“Sim salabim.”
Tak ada yang tertawa kali ini.
“AI akhirnya dipakai seperti mesin penghapus rasa bersalah. Bukan untuk memperluas pikiran, melainkan supaya kalian tidak perlu berpikir.”
Anton berhenti memutar tutup tumbler.
Makalahnya sudah terkirim pukul 07.42 pagi. Dua belas halaman. Ia menyusun kerangka sendiri, memasukkan tiga artikel, lalu meminta AI “mengembangkan secara akademis”. Setelah itu ia hanya mengganti beberapa kata yang terdengar terlalu Amerika.
Ia tidak membaca halaman delapan sampai dua belas.
Nancy, yang duduk dua kursi di sebelah kirinya, sedang menulis sesuatu. Bukan di laptop. Di buku catatan tipis dengan sampul abu-abu. Anton berusaha melihat, tetapi lengan Nancy menutupinya.
Pak Arya kembali ke depan kelas.
“Ada orang yang bilang AI bukan tools. Bukan sesuatu yang setara dengan Photoshop, kalkulator, atau mesin pencari, yang bisa kita pakai dengan tabiat lama untuk mengerjakan sesuatu lebih cepat.”
Ia mengambil spidol dan menulis dua kata di papan:
AI = EPISTEME
“Ada yang bilang AI adalah episteme.”
Ia mundur satu langkah, memandang tulisannya sendiri.
“Ini pernyataan yang terlalu berani menurut saya. Para pengikut Foucault mungkin akan ngakak.”
Kelas hening.
Entah karena tidak paham, atau karena merasa baru saja dipergoki menggunakan sebuah perubahan peradaban untuk menyelesaikan tugas hari Selasa.
Seorang mahasiswa di baris belakang mengangkat tangan. “Episteme itu cara pandang, Pak?”
“Itu jawaban yang cukup aman untuk ujian pilihan ganda.”
Beberapa kepala terangkat.
Pak Arya menghapus tanda sama dengan di papan.
“Bagi Foucault, episteme bukan sekadar cara pandang. Bukan juga kumpulan gagasan yang sedang populer. Episteme adalah susunan aturan yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan pengetahuan macam apa yang pada suatu zaman dianggap masuk akal.”
Di bawah kata EPISTEME, ia menulis:
Apa yang boleh ditanyakan.
Apa yang dapat disebut bukti.
Siapa yang dianggap berwenang menjawab.
Bagaimana sesuatu dapat diterima sebagai benar.
“Jadi episteme bukan isi perpustakaannya,” katanya. “Ia lebih mirip tata ruang perpustakaan itu. Rak apa yang tersedia. Buku mana yang masuk katalog. Siapa yang boleh menulis. Siapa yang cuma boleh menjadi objek tulisan.”
Nancy berhenti menulis.
“Kalau begitu,” katanya, “kenapa AI bukan episteme?”
Pak Arya menatapnya sejenak. Bukan tatapan dosen yang menemukan jawaban benar, melainkan seseorang yang akhirnya mendapat pertanyaan yang ia tunggu.
“Karena kita belum tahu.”
Jawaban itu membuat beberapa mahasiswa saling memandang.
“Pisau analisis Foucault bekerja dengan membongkar lapisan sejarah,” lanjut Pak Arya. “Ia melihat keteraturan yang muncul di banyak bidang sekaligus—bahasa, ilmu alam, ekonomi, kedokteran, hukum—lalu menunjukkan bahwa pada suatu masa, manusia ternyata mengetahui dunia dengan aturan tertentu.”
Ia mengetuk tulisan AI di papan.
“Sementara kita sedang berada di dalam peristiwanya. Kita terlalu dekat. Seperti mencoba menggambar bentuk rumah ketika kita masih berdiri di salah satu kamarnya.”
“Berarti pernyataan AI sebagai episteme salah?” tanya seseorang.
“Tidak sepenuhnya.”
Pak Arya menggambar sebuah panah:
AI → EPISTEMIC SHIFTING
“Saya lebih suka menyebutnya epistemic shifting. Pergeseran epistemik. Bukan karena mesin ini sudah menjadi episteme baru, tetapi karena ia mulai menggeser cara pengetahuan dibentuk.”
“Bukannya cuma mempercepat, Pak?”
“Kalau cuma mempercepat, ia kalkulator.”
“Bukannya cuma mengumpulkan informasi?”
“Kalau cuma mengumpulkan, ia mesin pencari.”
“Terus bedanya?”
Pak Arya meletakkan spidol.
“Kalian tidak hanya meminta AI menemukan sebuah halaman. Kalian memintanya membaca ribuan pola, mempertemukan hal-hal yang sebelumnya terpisah, mengubah bentuk pertanyaan, menawarkan struktur, bahkan menyusun bahasa yang kemudian kalian pakai untuk berpikir.”

Ia berhenti di depan meja Anton.
“Yang berubah bukan hanya kecepatan memperoleh jawaban. Yang berubah adalah hubungan antara orang yang bertanya, sumber pengetahuan, proses penalaran, dan bentuk jawaban.”
Anton merasa kalimat terakhir itu diarahkan kepadanya, meskipun mata Pak Arya sedang memandang seluruh kelas.
“Tetapi jangan buru-buru terpesona,” katanya. “Pergeseran epistemik tidak selalu dimulai oleh sesuatu yang spektakuler.”
Ia mengambil botol air mineral dari meja. Mengangkatnya setinggi dada.
“Helen Keller sudah menyentuh air jauh sebelum hari itu.”
Beberapa orang langsung mengenali nama tersebut. Sebagian lain membuka laptop, mungkin untuk mencari.
“Ia pernah mandi. Pernah minum. Pernah merasakan hujan. Air bukan pengalaman baru bagi tubuhnya. Tetapi pada suatu hari, Anne Sullivan menuntun tangannya ke pompa. Air mengalir di satu telapak, sementara di telapak yang lain Sullivan mengeja huruf demi huruf: w-a-t-e-r.”
Pak Arya menuangkan sedikit air ke telapak tangannya sendiri.
“Airnya sama. Yang berubah bukan air.”
Tetesan jatuh ke lantai.
“Yang lahir adalah hubungan antara benda, tanda, dan pikiran. Keller tidak sekadar memperoleh kata baru. Ia menemukan bahwa segala sesuatu memiliki nama. Bahwa pengalaman dapat diikat oleh lambang. Bahwa dunia dapat dimasuki melalui bahasa.”
Nancy menatap air yang tersisa di telapak tangan dosennya.
“Itu epistemic shift?” tanyanya.
“Dalam hidup Keller, ya. Bukan episteme dalam pengertian sejarah besar Foucault. Tetapi ada pergeseran pada syarat yang memungkinkan dirinya mengetahui. Sesudah peristiwa itu, ia tidak hanya tahu lebih banyak. Ia mengetahui dengan cara yang berbeda.”
Anton memandang tumblernya.
Air yang sama, pikirnya.
Kalimat itu terasa terlalu sederhana untuk menetap begitu lama di kepala.
Pak Arya mengeringkan tangan dengan saputangan.
“Galileo tidak sekadar memberi manusia informasi baru bahwa ada benda-benda langit tertentu. Teleskop mengganggu susunan lama tentang siapa yang berhak berbicara mengenai langit dan berdasarkan bukti macam apa. Pengamatan mulai menuntut tempat di hadapan otoritas.”
Ia kembali menulis satu nama di papan.
DARWIN
“Darwin juga tidak sekadar menambahkan satu teori ke dalam daftar teori. Evolusi memaksa manusia memikirkan kehidupan bukan sebagai bentuk-bentuk tetap yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sejarah panjang perubahan, variasi, pewarisan, dan seleksi.”
Di bawah tiga nama itu—Keller, Galileo, Darwin—Pak Arya menggambar satu garis patah.
“Epistemic rupture bukan berarti seseorang menemukan fakta yang mengejutkan lalu semua orang serentak berganti pikiran. Rupture adalah retakan pada aturan lama untuk mengetahui. Sesudah retakan itu, pertanyaan lama bisa kehilangan bentuknya. Bukti yang dulu diabaikan menjadi penting. Hal yang semula mustahil dipikirkan tiba-tiba dapat dibahas dengan serius.”
“Kayak revolusi?” tanya mahasiswa di belakang.
“Kadang-kadang. Tetapi jangan bayangkan selalu ada ledakan. Banyak keruntuhan cara berpikir berlangsung diam-diam. Satu istilah berubah. Satu metode menjadi kebiasaan. Satu generasi berhenti menanyakan pertanyaan yang dianggap sangat penting oleh generasi sebelumnya.”
Pak Arya memandang tulisan AI di papan.
“Karena itu saya tidak tahu apakah AI kelak akan dicatat sebagai alat dalam satu episteme, infrastruktur yang melahirkan episteme baru, atau hanya gejala paling bising dari perubahan yang penyebabnya jauh lebih luas.”
“Tapi sekarang sudah mengubah cara kita tahu, Pak,” kata Nancy.
“Betul. Ia mengubah apa yang kalian lakukan ketika tidak tahu.”
Kelas kembali diam.
Kali ini bukan diam karena tidak paham.
Anton tahu persis apa yang ia lakukan ketika tidak tahu. Ia mengetik. Ia menunggu. Ia menerima.
Pak Arya mengambil penghapus, tetapi tidak langsung menghapus papan.
“Ada satu orang lagi yang ingin saya ceritakan.”
Ia menulis nama terakhir:
DOSTOEVSKY
“Sebelum Siberia, Dostoevsky sudah tahu bahwa hidup itu berharga. Tentu saja. Hampir semua orang tahu kalimat itu.”
Suara Pak Arya berubah. Tidak lebih pelan, tetapi kehilangan nada mengejek yang sejak awal menahan kelas.
“Lalu ia ditangkap. Dibawa ke tempat eksekusi. Berdiri menghadapi kematian yang ia kira benar-benar akan datang. Hukuman itu dibatalkan pada saat terakhir. Setelahnya: penjara, kerja paksa, dingin, penyakit, penghinaan, bertahun-tahun hidup bersama orang-orang yang sebelumnya mungkin hanya hadir dalam pikirannya sebagai kategori.”
Tak ada yang membuka laptop sekarang.
“Ketika ia mengatakan hidup berharga sesudah itu, apakah maknanya hanya menjadi lebih dalam?”
Pak Arya menggeleng.
“Terlalu lemah kalau kita menyebutnya perubahan persepsi. Ia memperoleh pengetahuan baru mengenai hidup—pengetahuan yang dibentuk oleh tubuh yang hampir ditembak, waktu yang dirampas, penderitaan, dan perjumpaan dengan manusia yang tidak dapat diringkas menjadi teori.”
Ia menghapus sebagian kata DOSTOEVSKY, menyisakan jejak hitam yang samar.
“Ia tidak sekadar menemukan jawaban baru atas pertanyaan lama: apa arti hidup? Seluruh tempat dari mana pertanyaan itu diajukan telah berubah.”
Anton tiba-tiba teringat percakapannya dengan Nancy di Ragunan semalam. Tentang iman yang harus ditinggalkan di pintu. Tentang menjadi efektif di ruang publik. Tentang kata-kata besar—martabat, kebenaran, keadilan, kasih, kebaikan bersama, integritas—yang begitu mudah ditulis dan begitu sulit ditubuhkan.
Barangkali itu masalahnya, pikir Anton.
Ia memiliki semua kata. Ia belum tentu memiliki pengetahuan yang membuat kata-kata itu hidup.
“Jadi pengalaman lebih tinggi dari AI?” tanya seorang mahasiswi.
“Itu pertanyaan yang lahir dari kebiasaan kita membuat pertandingan.” Pak Arya tersenyum. “Pengalaman manusia tidak otomatis benar. AI juga tidak otomatis dangkal. Masalahnya bukan siapa yang menang.”
Ia menulis sebuah rangkaian baru:
PENGALAMAN → PERTANYAAN → AI → POLA → KONTEKS → KOREKSI → PENGETAHUAN BARU
“Kalian membawa pengalaman, intuisi, ingatan, bahkan prasangka. AI membantu menghubungkan, membandingkan, mengklasifikasikan, atau menggugatnya. Lalu kalian mengembalikannya kepada sejarah, teori, data, manusia lain, dan kenyataan. Kalian baca. Kalian periksa. Kalian koreksi. Kalian susun kembali.”
Ia memberi lingkaran pada kata KOREKSI.
“Kalau manusia menghilang dari bagian ini, yang lahir bukan pengetahuan. Hanya teks yang tampak seperti pengetahuan.”
Anton menunduk.
Dua belas halaman. Teks yang tampak seperti pengetahuan.
“Karena itu,” kata Pak Arya, “saya tidak akan melarang kalian memakai AI.”
Beberapa orang langsung mengangkat kepala.
“Malah untuk tugas berikutnya, kalian wajib memakainya.”
Suasana kelas bergerak. Kursi berderit. Seseorang di belakang berbisik, “Nah.”
Pak Arya mengangkat telunjuk.
“Tetapi saya tidak meminta jawaban.”
Ia menghapus seluruh papan, kecuali satu kata:
TANYA
“Bawa satu pengalaman yang sungguh kalian alami. Sesuatu yang kalian kira sudah kalian pahami. Gunakan AI untuk membongkar pemahaman itu. Minta ia menunjukkan konteks yang tidak kalian lihat, asumsi yang kalian sembunyikan, dan kemungkinan pertanyaan yang belum pernah kalian ajukan.”
Ia menambahkan tiga kata di bawahnya:
BACA. BANTAH. TANGGUNG.
“Kalian harus menunjukkan bagian mana yang dibuat AI, bagian mana yang kalian koreksi, sumber apa yang kalian periksa, dan keputusan apa yang akhirnya kalian ambil sendiri.”
“Temanya bebas, Pak?”
“Bebas. Tetapi jangan bersembunyi di balik tema besar. Jangan menulis ‘masa depan demokrasi’ kalau kalian bahkan tidak pernah menghadiri rapat RT. Jangan menulis ‘krisis ekologi’ kalau hubungan kalian dengan bumi hanya sebatas mengganti foto profil pada Hari Lingkungan Hidup.”
Nancy melirik tumbler Anton.
Anton tahu persis arti tatapan itu.
“Dan satu lagi,” kata Pak Arya. “Saya akan bertanya tentang setiap kalimat yang kalian tulis. Kalau kalian tidak dapat mempertanggungjawabkannya, saya anggap kalimat itu bukan milik kalian.”

Bel berbunyi.
Tak seorang pun langsung berdiri.
Pak Arya membuka laptopnya kembali. “Makalah minggu ini tetap saya nilai.”
Kelas serentak mengeluh.
“Termasuk Konsili Vatikan Ketiga.”
Tawa pecah. Ketegangan surut. Kursi-kursi bergeser, laptop ditutup, kabel pengisi daya dicabut.
Anton tetap duduk.
Nancy merobek selembar kertas dari buku catatannya, lalu mendorongnya ke meja Anton.
Di sana hanya ada satu kalimat:
Kalau AI mengubah apa yang kita lakukan ketika tidak tahu, apa yang ia lakukan pada orang yang tidak mau tahu?
Anton membacanya dua kali.
“Lo nulis ini dari tadi?”
Nancy memasukkan bukunya ke tas. “Enggak.”
“Terus?”
“Baru kepikiran waktu Pak Arya ngomong Dostoevsky.”
Anton menatap layar laptopnya. Notifikasi pengumpulan tugas masih terbuka. Di bawah judul makalahnya tertulis: Submitted.
“Makalah gue belum gue baca,” katanya.
Nancy mengangguk, seolah ia sudah tahu.
“Sama sekali?”
“Setengah.”
“Berarti setengahnya punya lo.”
“Setengah lagi?”
Nancy berdiri.
“Teks yang tampak seperti pengetahuan.”
Ia berjalan menuju pintu. Anton memasukkan laptop ke tas, menyelipkan kertas Nancy ke dalam Laudato Si’, lalu meraih tumblernya.
Di koridor, aroma kopi dari gelas plastik yang dibawa seseorang melintas tepat di depannya.
Anton berhenti.
Minimarket itu hanya di seberang jalan.
Nancy menoleh dari ujung koridor. “Kopi?”
Anton memandangi tumbler hitam di tangannya.
Air yang sama.
Yang berubah bukan air.
“Kopi,” jawabnya. “Tapi isi sini.”
Nancy menunggu sampai ia menyusul.
Di belakang mereka, dalam kelas yang mulai kosong, satu kata masih tertinggal di papan karena Pak Arya tidak menghapusnya sampai bersih.
TANYA.
