SEKOLAH KECIL TEMPAT PARA RAKSASA LAHIR
Siapa para raksasa itu waktu mereka kecil? Sekolah model apa yang menggemblengnya? Mungkin semacam Hogwarts atau didikan ala Jedi di Star Wars. Indonesia jaman itu mungkin sudah sampai pada pencapaian budaya dan teknologi gilang gemilangnya. Jadi, sekolah-sekolah model begini, pastilah lazim di jamannya... Lalu "boom". Dekadensi terjadi. Dan IQ kita sekarang selisih tipis dari gorila.
Nancy mengirim lokasi pukul 04.47.
Anton membalas tiga menit kemudian.
Ini terminal bus.
Balasan Nancy datang cepat.
Iya. Aku juga bisa baca peta.
Kenapa bukan sekolahnya?
Karena kita belum punya kendaraan dari sini.
Anton menatap layar ponselnya cukup lama untuk mempertimbangkan apakah percakapan itu layak diteruskan. Ia lalu memasukkan ponsel ke saku jaket dan mengangkat tumbler hitam dari sela kursi.
Bus malam dari Jakarta baru saja menurunkan mereka di Magelang. Udara pagi menggigit tipis. Di seberang jalan, sebuah warung mulai membuka pintu lipat. Uap dari panci besar naik ke bawah lampu putih yang membuat semua orang tampak kurang tidur.
Nancy berdiri di tepi trotoar dengan ransel kecil dan rambut yang diikat asal. Kemeja kotak-kotaknya kusut setelah delapan jam di bus. Ia memegang dua gelas kopi plastik.
Anton memandang gelas di tangan kirinya, lalu gelas di tangan kanannya.
“Aku sudah bawa tumbler.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa beli dua?”
“Karena waktu aku tanya kopinya bisa dimasukin ke tumbler, masnya bilang tutup botolnya sempit.”
Anton membuka tutup tumbler. Mulutnya hampir selebar telapak tangan Nancy.
Nancy melihatnya, lalu melihat warung.
“Mungkin dia belum siap menghadapi perubahan.”
Anton mengambil salah satu gelas.
“Kamu gampang sekali menyerah pada struktur.”
“Aku baru bangun, Ton.”
Mereka mendapat mobil sewaan setengah jam kemudian. Sopirnya seorang lelaki tua yang memperkenalkan diri sebagai Pak Narto, lalu menghabiskan perjalanan dengan menjelaskan bahwa semua jalan menuju Muntilan sedang diperbaiki, pernah diperbaiki, atau seharusnya diperbaiki sejak lama.
Merapi muncul perlahan di balik kaca depan. Puncaknya terpotong awan. Anton langsung duduk lebih tegak.
“Jangan,” kata Nancy.
“Jangan apa?”
“Jangan mulai cerita jalur pendakian.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu sudah.”
Pak Narto tertawa dari depan.
Mereka datang ke Muntilan bukan karena rencana besar. Dua hari setelah kelas Pak Arya tentang AI, Nancy mendatangi Anton di kantin dan meletakkan selembar kertas di samping makan siangnya.
Di bagian atas tertulis:
Kalau kita ingin membuktikan iman dan politik tidak harus saling meniadakan, jangan mulai dari teori. Cari manusianya.
Di bawahnya ada tiga nama.
Frans van Lith.
Albertus Soegijapranata.
I.J. Kasimo.
Anton membaca daftar itu sambil mengunyah.
“Kenapa tiga?”
“Karena empat kelihatan ambisius.”
“Jawaban serius.”
“Aku cuma tahu mereka ada hubungannya dengan Muntilan.”
Anton mencari nama pertama di ponsel. Beberapa detik kemudian, layar dipenuhi tanggal, artikel, foto hitam-putih, dan potongan biografi.
“Datanya banyak.”
“Persis. Makanya kita ke sana.”
Anton mengangkat mata.
“Logikanya kebalik.”
“Kalau semua yang banyak di internet otomatis cukup, tugasmu kemarin seharusnya bagus.”
Mereka memesan dua tiket bus malam itu juga.
Kini, berdiri di depan kompleks sekolah di kaki Merapi, Anton mulai curiga Nancy mungkin benar.
Bangunannya tidak tampak seperti tempat lahirnya gagasan besar. Tidak ada musik latar. Tidak ada cahaya yang turun dari langit tepat ke atas atap. Ada halaman yang baru disapu, suara kendaraan dari jalan, beberapa siswa yang berjalan terburu-buru, dan petugas yang meminta mereka menunggu karena orang yang akan menemui mereka belum datang.
Nancy duduk di bangku dekat taman.
“Raksasanya mana?”
Anton membuka ransel dan mengeluarkan laptop.
“Kita baru tujuh menit di sini.”
“Aku cuma menyesuaikan ekspektasi dengan judul pencarianmu.”
Di foldernya sudah ada dua puluh tiga artikel, empat makalah, sebuah peta waktu, dan lembar kerja dengan kolom: nama, tahun, institusi, jabatan, kontribusi.
Nancy melirik layar.
“Kamu bikin sensus?”
“Aku menghindari kita datang jauh-jauh lalu cuma bilang tempatnya terasa bersejarah.”
“Tempatnya memang terasa biasa.”
Anton menutup satu tab.
“Itu observasi yang sangat membantu.”
“Mungkin justru itu poinnya.”
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun menghampiri mereka. Namanya Ibu Ratih. Ia bekerja di lingkungan pendidikan itu dan bersedia menunjukkan beberapa ruang serta bahan sejarah yang dapat diakses pengunjung.
“Mau menulis tugas?” tanyanya.
“Belum tahu, Bu,” jawab Nancy.
Anton menoleh kepadanya.
Nancy memperbaiki jawaban. “Kami sedang mencari tahu kenapa tempat ini bisa melahirkan orang-orang seperti Soegijapranata dan Kasimo.”
Ibu Ratih tersenyum kecil.
“Kalau sudah ketemu jawabannya, saya juga mau baca.”
Anton menutup laptop.

Mereka berjalan melewati bangunan, halaman, dan lorong yang menyimpan umur dalam cara yang tidak dramatis: kusen yang telah dicat berulang kali, lantai yang mengilap karena ribuan pasang sepatu, serta foto-foto lama yang wajahnya tidak lagi dikenali semua orang.
Ibu Ratih bercerita bahwa Frans van Lith tiba di Hindia Belanda pada akhir abad kesembilan belas. Ia belajar bahasa Jawa, tinggal di tengah masyarakat Jawa, lalu membangun pendidikan guru di Muntilan. Sekolah itu tidak dirancang sekadar untuk menghasilkan orang yang pandai membaca buku agama. Para murid disiapkan menjadi guru, bekerja dalam pemerintahan, atau kembali ke desa dan mengambil tanggung jawab di sana.
Anton menulis cepat.
“Jadi dari awal memang kaderisasi?”
Ibu Ratih berhenti di depan sebuah foto lama.
“Istilah sekarang mungkin begitu.”
“Ada kurikulumnya?”
“Tentu ada pelajaran.”
“Maksud saya, kurikulum pembentukan pemimpinnya.”
Ibu Ratih memandangnya beberapa detik.
“Anak-anak tinggal bersama. Belajar bersama. Ada guru. Ada aturan. Ada tanggung jawab. Ada yang betah, ada yang tidak. Sama seperti sekolah.”
Nancy menahan senyum.
Anton belum menyerah. “Tapi pasti ada metode khusus yang membuat hasilnya berbeda.”
“Bisa jadi,” kata Ibu Ratih. “Atau mungkin orang zaman sekarang terlalu suka memberi nama khusus pada hal yang dulu dikerjakan setiap hari.”
Nancy gagal menahan senyum.
Setelah Ibu Ratih berjalan lebih dulu, ia berbisik, “Kurikulum kepemimpinan: bangun pagi, jangan telat, dan cuci piring sendiri.”
“Dia tidak bilang cuci piring.”
“Aku menambahkan modul pilihan.”
Mereka berhenti di depan foto beberapa murid. Nama Albertus Soegijapranata muncul dalam bahan yang mereka baca. Nama I.J. Kasimo menyusul. Dua pemuda yang pada masa itu belum memiliki jabatan, belum disebut negarawan, dan belum tahu bahwa nama mereka kelak dicetak dalam buku sejarah.
Di foto itu mereka hanya tampak seperti anak sekolah.
Anton memperbesar salinan fotonya di ponsel.
“Kalau tidak ada keterangan, aku tidak akan tahu yang mana.”
“Memangnya kamu berharap sejak muda Soegija sudah pakai papan nama uskup?”
“Maksudku, tidak ada tanda apa-apa.”
“Ya. Mereka belum jadi siapa-siapa.”
Kalimat itu membuat Anton menurunkan ponsel.
Beberapa siswa melewati mereka sambil bercanda. Salah satunya menendang botol plastik kosong yang tergeletak di dekat taman. Temannya mengambil botol itu dan memasukkannya ke tempat sampah tanpa menghentikan percakapan.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memberi nilai.
Nancy melihat ke arah Anton.
“Jangan dibikin teori.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu sudah.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Yang mengganggu Anton bukan lagi daftar orang hebat yang pernah bersinggungan dengan Muntilan. Justru sebaliknya. Ia mulai memikirkan ribuan murid lain yang tidak pernah masuk buku sejarah. Mereka yang menjadi guru, kembali ke desa, membesarkan keluarga, bekerja di kantor kecil, atau menghabiskan hidup tanpa satu pun jalan memakai nama mereka.
“Kalau ukuran keberhasilan sekolah ini cuma tokoh nasional,” katanya, “berarti sebagian besar muridnya gagal.”
Nancy mengangguk. “Dan itu kedengarannya bodoh.”
“Sangat bodoh.”
“Akhirnya kita sepakat sebelum makan siang.”
Di sebuah ruang baca sederhana, Ibu Ratih menunjukkan bahan mengenai gagasan van Lith. Salah satu bagian menarik perhatian Nancy: orang Jawa tidak diperlakukan sebagai objek yang harus dikosongkan lebih dahulu agar dapat diisi sesuatu yang baru. Bahasa, kebudayaan, dan martabat mereka menjadi titik berangkat.
Nancy membaca kembali kalimat itu.
“Dia orang Belanda,” katanya.
“Iya.”
“Datang saat negeri ini dijajah Belanda.”
“Iya.”
“Tapi dia bilang orang Belanda tidak seharusnya bertindak sebagai penguasa di tengah orang Jawa.”
Anton melihat sumber yang sama. “Sebagai sesama warga.”
“Berani juga.”
“Atau merepotkan.”
“Biasanya dua-duanya.”
Anton memotret halaman itu. Ia lalu membuka lembar kerjanya dan menambah kolom baru di sebelah kontribusi.
Cara melihat manusia.
Nancy memperhatikannya.
“Itu bukan data.”
“Belum.”
“Kamu bikin kolom untuk sesuatu yang belum bisa kamu ukur?”
“Jangan dibesar-besarkan.”
“Aku ingin menikmati momen ini.”
Menjelang siang, mereka pergi ke warung tidak jauh dari kompleks. Anton memesan nasi, telur, sayur, dan kopi hitam. Ketika kopi datang dalam gelas kaca, ia menuangkannya ke tumbler.
Nancy mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Supaya tetap panas.”
“Tentu.”
Anton membuka Laudato Si’ yang sejak tadi terjepit di sisi ranselnya dan meletakkannya di meja untuk menahan beberapa lembar fotokopi agar tidak diterbangkan angin.
Nancy tertawa.
“Akhirnya ensiklik itu punya pekerjaan konkret.”
“Buku itu berat.”
“Sangat ekologis.”
Mereka makan sambil membandingkan catatan.
Anton masih ingin menemukan rancangan yang dapat digambar. Ia membuat kotak pertama: bahasa dan budaya. Kotak kedua: pendidikan. Ketiga: asrama. Keempat: tanggung jawab sosial.
Ia menarik garis di antara semuanya.
Nancy memindahkan piring sambal agar tidak terkena ujung kertas.
“Kamu bikin mesin.”
“Pola.”
“Kelihatannya seperti mesin.”
“Karena tulisan tanganku rapi.”
“Kalau semua kotak itu diisi, keluar Soegijapranata?”
Anton berhenti menggambar.
“Tidak sesederhana itu.”
“Bagus.”
“Tapi tanpa semua ini, mungkin dia juga tidak menjadi orang yang sama.”
Nancy mengambil pulpen dan menulis satu kata di luar kotak-kotak Anton.
WAKTU.
“Ini tidak bisa dipercepat,” katanya.
Anton memandang kata itu. Ia tidak menyukainya. Bukan karena salah, melainkan karena tidak dapat diubah menjadi pekerjaan yang selesai Jumat sore.
“Berapa lama?”
“Nah, itu penyakitmu.”
“Kita tetap butuh target.”
“Pohon juga punya target tumbuh. Dia cuma tidak bikin presentasi triwulanan.”
Anton hendak membalas, tetapi Pak Narto menelepon. Mobil sudah menunggu.
Sebelum pulang, mereka kembali sebentar ke halaman sekolah. Matahari telah naik dan Merapi nyaris seluruhnya tertutup awan. Tempat itu masih tampak biasa. Siswa berpindah kelas. Seorang guru membawa tumpukan kertas. Petugas menyiram tanaman yang mungkin tidak akan pernah disebut dalam buku mana pun.
Anton berdiri dengan kedua tangan di saku jaket.
“Semalam aku pikir kita datang untuk melihat tempat yang menghasilkan orang-orang besar.”
“Sekarang?”
“Aku tidak tahu apakah tempat bisa menghasilkan orang.”
Nancy menunggu.
“Tapi seseorang di sini pernah memutuskan anak-anak Jawa itu layak diberi pendidikan terbaik. Sebelum ada bukti mereka akan jadi apa.”
Nancy mengangguk pelan.
Tidak ada kalimat besar setelah itu. Mereka sama-sama terlalu lelah untuk membuatnya.
Di mobil, Nancy langsung tertidur. Kepalanya beberapa kali membentur jendela sebelum akhirnya jatuh ke bahu Anton. Anton membiarkannya. Dengan satu tangan ia membuka laptop, lalu menghapus judul dokumen yang dibuatnya semalam:
TOKOH-TOKOH KATOLIK YANG MENGUBAH INDONESIA

Ia mengetik judul baru:
SEBELUM MEREKA MENJADI SIAPA-SIAPA
Di bawahnya ia menambahkan satu kalimat.
Kepemimpinan mungkin tidak dimulai ketika seseorang diberi kekuasaan. Mungkin ia dimulai ketika seseorang yang lain melihatnya sebagai manusia yang layak dibentuk.
Anton membaca kalimat itu dua kali.
Ia hampir menghapus kata mungkin, tetapi mengurungkan niat.
Dari kursi depan, Pak Narto menunjuk ke luar kaca.
“Kalau mau ke Yogyakarta, nanti lewat jalur yang dulu ramai waktu zaman revolusi,” katanya. “Banyak cerita di sana.”
Nancy membuka mata setengah.
“Cerita apa, Pak?”
“Soegijapranata. Katanya dulu pusat gerejanya dipindah ke Yogya.”
Anton berhenti mengetik.
Nancy mengangkat kepala dari bahunya. Bekas jahitan jaket tercetak samar di pipinya.
“Uskup bisa mindahin pusat gereja?” tanyanya.
Pak Narto mengangkat bahu.
“Kalau negaranya lagi perang, mungkin gereja juga tidak bisa duduk manis.”
Mobil berbelok ke jalan raya.
Muntilan perlahan tertinggal di belakang mereka.
Di layar laptop Anton, kursor masih berkedip setelah kata dibentuk.
