PROSEDUR TERAKHIR
Jam di dinding menunjukkan pukul 22.43 ketika Nisya selesai melipat handuk terakhir.
Tiga handuk putih.
Dua handuk krem.
Satu sprei yang sudutnya selalu susah rapi.
Ia merapikan semuanya dengan gerakan yang sama seperti setiap malam. Sudut dilipat masuk, telapak tangan menekan permukaan kain, lalu ditumpuk sejajar di lemari kayu belakang. Tidak ada yang istimewa.
Justru itu yang ia suka.
Di spa, hal-hal kecil lebih bisa dipercaya daripada manusia.
“Syam udah pulang?”
Suara dari depan membuatnya menoleh.
Mbak Rani berdiri sambil membawa buku kas dan kalkulator kecil. Rambutnya sudah dilepas dari sanggul kerja. Wajahnya terlihat jauh lebih tua kalau tidak memakai seragam.
“Udah dari tadi.”
“Lo terakhir ya?”
Nisya mengangguk.
“Ya udah. Kunci belakang jangan lupa.”
“Siap.”
Mbak Rani menutup buku kas.
Lalu berhenti sebentar.
“Nis.”
“Hm?”
“Besok masuk jam sepuluh.”
“Iya.”
“Jangan telat. Ada member baru.”
“Yang cerewet?”
“Semua member baru cerewet.”
Mereka sama-sama tertawa kecil.
Pintu depan berbunyi pelan ketika Mbak Rani keluar. Bel kecil di atas kusen berdenting sekali, lalu sunyi lagi.
Spa itu langsung berubah suasana.
Tidak lagi terdengar musik instrumental yang diputar sepanjang hari. Speaker sudah dimatikan. Aroma lavender tinggal tipis di udara, bercampur bau minyak kayu putih dari ruang pijat nomor tiga.
Nisya berjalan menyusuri lorong sambil mematikan lampu satu per satu.
Klik.
Klik.
Klik.
Ruangan menjadi remang.
Ia hafal setiap suara bangunan itu.
Papan lantai dekat pantry selalu berbunyi sedikit kalau diinjak tumit kiri.
Engsel pintu ruang facial mengeluh dua kali sebelum menutup rapat.
AC ruang VIP menetes setiap dua puluh menit.
Hal-hal seperti itu lebih mudah diingat daripada ulang tahun orang.
Di meja resepsionis tinggal satu benda yang belum dibereskan.
Ponselnya.
Layar menyala.
Empat notifikasi.
Satu dari grup kampus.
Dua dari teman kelas.
Satu dari aplikasi pembayaran.
Ia membuka yang terakhir.
Pembayaran diterima.
Rp150.000.
Tip dari pelanggan tadi sore.
Sudah biasa sebenarnya.
Yang membuatnya tersenyum justru nama pengirimnya.
Om Hendra.
Orang yang sama setiap dua minggu sekali. Datang selalu hari Selasa. Minta terapis perempuan yang tangannya kecil karena katanya lebih enak buat pijat bahu.
Padahal tangan kecil bukan jaminan hidup lebih ringan.
Nisya memasukkan ponsel ke saku apron.
Ia mematikan lampu resepsionis.
Tinggal lampu taman depan yang masih menyala kekuningan.
Saat hendak mengambil tas, suara motor berhenti di depan ruko.
Bukan pelanggan.
Sudah terlalu malam.
Ia refleks menoleh ke kaca depan.
Seorang laki-laki berdiri di trotoar sambil melihat nomor bangunan.
Helm masih dipakai.
Tidak bergerak.
Nisya diam.
Lima detik.
Sepuluh.
Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponsel, melihat layar, lalu menatap papan nama spa.
Setelah itu pergi lagi.
Motor menjauh.
Suara knalpot menghilang di tikungan.
“Kurir nyasar kali.”
Nisya mengucapkannya pelan kepada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menjawab.
Ia mengambil tas, mengganti sandal kerja dengan sneakers lusuh, lalu melepas apron cokelat yang sejak pagi menempel di tubuhnya.
Di saku dalam apron terdapat kartu nama spa.
NISYA CIKA
Tulisan huruf kapital.
Ia memandangnya sebentar.
Lalu memasukkannya kembali ke loker.
Bukan karena lupa.
Memang tidak pernah dibawa pulang.
Nama itu tinggal di tempat ini.
Seperti seragam.
Seperti aroma lavender.
Seperti musik instrumental yang tidak pernah benar-benar didengarkan siapa pun.
Di luar, jalan raya Cikalong masih ramai oleh truk dan motor.
Warung nasi goreng seberang baru mulai menyalakan lampu.
Seorang bapak sedang menyusun galon air.
Dua anak SMA tertawa sambil berbagi satu gelas es teh.
Nisya berjalan ke arah gang kecil tempat kosnya berada sambil membuka ponsel lagi.
Grup kampus penuh pesan.
Presentasi besok jangan lupa.
Siapa bawa print?
Nisya jadi bagian teori ya.
Ia mengetik singkat.
Siap.
Lalu mengirim.
Selesai.
Hidup kadang memang cuma berpindah dari satu seragam ke seragam lain.
Besok pagi mahasiswa.
Besok siang terapis.
Besok malam kembali jadi perempuan yang menghitung uang receh sebelum membeli makan.
Sampai di mulut gang, ponselnya bergetar lagi.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada nama.
Tidak ada foto.
Hanya satu pesan.
Nisya berhenti berjalan.
Lampu jalan di atas kepalanya berkedip sekali.
Ia membaca lagi.
Jempolnya menggantung di atas layar.
Tidak membalas.
Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.
Nisya mengembuskan napas pendek.
Entah kenapa dadanya sempat menegang.
Padahal cuma salah kirim.
Ia memasukkan ponsel ke tas.
Melanjutkan langkah.
Di belakangnya, kota terus bergerak seperti biasa.
Motor lewat.
Anjing menggonggong dari halaman rumah.
Sendok beradu dengan piring di warung ujung jalan.
Tak ada satu pun yang memberi tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir seseorang memanggilnya dengan nama yang salah.
Dan jauh lebih berbahaya—
ada seseorang yang baru saja menemukan nama yang benar.

Tulis komentar