BAB 8 — AHLI WARIS
Orang waras punya pilihan sederhana ketika menerima kabar bahwa perempuan yang menghilang empat puluh tahun lalu pernah mengirim surat tentang lukisan milik ayahnya. Mengabaikan. Tidur. Sarapan. Melanjutkan hidup. Aku memilih pilihan keempat. Mencari masalah. Dokumen datang sore itu.…
Orang waras punya pilihan sederhana ketika menerima kabar bahwa
perempuan yang menghilang empat puluh tahun lalu pernah mengirim surat
tentang lukisan milik ayahnya.
Mengabaikan.
Tidur.
Sarapan.
Melanjutkan hidup.
Aku memilih pilihan keempat.
Mencari masalah.
Dokumen datang sore itu.
Tujuh belas halaman.
Invoice.
Foto.
Korespondensi.
Catatan pengiriman.
Surat terakhir hanya satu halaman.
Tanggalnya membuatku berhenti.
12 Oktober 1983.
Beberapa minggu sebelum Ayah meninggal.
Pengirim:
A. Sienna.
Tidak mungkin.
Sina masih remaja waktu itu.
Aku juga.
Suratnya dalam bahasa Belanda.
Pendek.
Formal.
Barang yang dimaksud tidak termasuk transaksi.
Batu harus tetap bersama ahli waris.
Lukisan boleh berpindah.
Penanda tidak.
Aku membaca lagi.
Batu harus tetap bersama ahli waris.
Tanda tangan di bawahnya:
A. Sienna
Aku mengambil napas.
Kemungkinan pertama:
Sina menulis surat dalam bahasa Belanda kepada kolektor Eropa ketika
kami masih sekolah dan tidak pernah menceritakannya.
Konyol.
Kemungkinan kedua:
Ada Alexandria Sienna lain.
Lebih masuk akal.
Kemungkinan ketiga:
Aku mulai pikun.
Paling masuk akal menurut statistik umur.
Aku memindai tanda tangan.
Lalu membuka kotak.
Ada satu surat lama Sina.
Tahun 1984.
Tulisan tangan remaja.
Aku letakkan berdampingan.
Tidak sama.
Bagus.
Sedikit kewarasan kembali.
Lalu aku melihat huruf S.
Cara ekornya turun.
Berputar kecil.
Naik lagi.
Sama.
Aku memperbesar.
Tidak mungkin.
Kuambil kertas kosong.
Menyalin.
Satu.
Dua.
Tiga.
Semakin kulihat semakin mirip.
Aku berhenti.
“Jangan goblok, Solo.”
Kalimat itu kuucapkan keras.
Kadang kita perlu saksi ketika sedang menasihati diri sendiri.
Aku menelepon notaris yang mengurus sebagian dokumen lama
keluarga.
Sudah pensiun.
Anaknya yang menjawab.
Butuh dua jam sebelum aku mendapatkan nomor baru.
Aku menelepon.
“Pak Hadi?”
“Ya?”
“Solo.”
Diam.
“Solowatu?”
Aku tersenyum.
Sudah lama tidak ada orang memanggil lengkap.
“Iya.”
“Anaknya Pak—”
“Iya.”
Nada suaranya berubah.
“Kok tumben?”
“Saya mau tanya warisan Bapak.”
“Wah. Sudah berapa puluh tahun?”
“Makanya.”
Ia tertawa.
Aku tidak.
“Pak Hadi masih simpan salinan dokumen?”
“Sebagian.”
“Ada daftar benda?”
“Harusnya.”
“Batu?”
Hening.
“Batu apa?”
Nah.
Aku mengenali nada itu.
Nada orang yang tahu sesuatu lalu berharap pertanyaan berikutnya
tidak datang.
“Batu bertuliskan nama saya.”
Tidak ada jawaban.
“Pak Hadi?”
“Solo.”
“Iya.”
“Batu itu masih ada?”
Aku bersandar.
“Kenapa semua orang selalu tanya itu dulu?”
“Jawab.”
“Masih.”
Ia mengembuskan napas.
Bukan lega.
Lebih seperti orang yang baru memastikan granat belum meledak.
“Jangan dibawa keluar.”
Aku tertawa pendek.
“Bapak juga?”
“Apa?”
“Tidak apa.”
Aku menatap batu.
“Kenapa?”
“Bapakmu tidak cerita?”
“Kalau cerita, saya nggak telepon.”
Hening.
“Pak Hadi.”
“Ada satu dokumen.”
“Apa?”
“Bukan surat wasiat.”
“Terus?”
“Titipan.”
“Dari Bapak?”
“Ya.”
“Untuk saya?”
“Harusnya diberikan kalau ada orang menanyakan batu itu.”
Aku berdiri.
“Kenapa belum pernah diberikan?”
“Karena belum ada yang tanya.”
Aku melihat email dari Rotterdam.
“Ada sekarang.”
Diam.
“Siapa?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Alexandria Sienna.”
Suara di ujung sana hilang.
“Pak Hadi?”
“Jangan ke mana-mana.”
“Kenapa?”
“Saya cari dokumennya.”
Telepon ditutup.
Tidak sopan.
Tapi efektif.
Dua jam kemudian sebuah foto masuk.
Kertas tua.
Tulisan tangan Ayah.
Aku mengenalnya.
Untuk Solo.
Baris berikutnya:
Jika batu itu kembali dicari, berarti waktunya sudah dekat.
Aku membaca terus.
Jangan serahkan kepada negara.
Jangan serahkan kepada orang asing.
Jangan serahkan kepada siapa pun yang mengaku sebagai pemilik.
Lalu satu kalimat.
Kita bukan pemiliknya. Kita hanya ahli waris.
Aku berhenti.
Kalimat terakhir lebih aneh.
Dan ahli waris tidak selalu berasal dari keturunan.
Aku membaca lagi.
Apa maksudnya?
Di bawah tulisan ada delapan nama.
Sebagian tidak kukenal.
Satu membuatku membeku.
Abdi.
Aku pernah mendengar nama itu.
Tapi tidak tahu di mana.
Nama kedua:
Pranoto.
Ketiga:
Regas.
Keempat:
Sirus.
Kelima:
Nuswantoro.
Keenam:
Budi.
Ketujuh:
Batara.
Nama kedelapan tidak ada.
Hanya satu kata.
Solowatu.
Di bawahnya Ayah menulis:
Jika mereka berkumpul, jangan berdiri di tengah.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu tertawa.
“Pak, mati aja masih nyuruh-nyuruh.”
Telepon bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Pesan.
Anda sudah membaca daftar itu.
Aku membeku.
Pesan kedua masuk.
Jangan hubungi tujuh nama tersebut.
Ketiga.
Salah satu dari mereka sudah menemukan Anda.
Aku berdiri.
Rumah sunyi.
Aku melihat jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
Pintu depan.
Terkunci.
Lalu bel berbunyi.
Satu kali.
Aku tidak bergerak.
Bel kedua.
Aku mengambil apa pun yang paling dekat.
Payung.
Bagus.
Enam puluh tahun hidup, menghadapi konspirasi internasional dengan
payung.
Ayah pasti bangga.
Aku mendekati pintu.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
“Siapa?”
Suara laki-laki.
Tenang.
“Abdi.”
Tanganku berhenti di gagang.

Tulis komentar