
PEMIMPIN SEKARANG
Anton yakin, pemimpin dibentuk oleh gagasan yang kokoh. Nancy percaya manusia tidak pernah bisa dibentuk seperti sebuah sistem. Ketika mereka mencoba melahirkan generasi pemimpin Katolik bagi Indonesia, kegagalan pertama justru membongkar iman, ambisi, dan hubungan mereka sendiri.
Daftar bab

Anton cuma pengin segelas kopi. Namun, setelah sebuah rapat meminta mereka meninggalkan iman di depan pintu, kompromi sekecil gelas plastik itu tidak lagi terasa sederhana.

AI itu apa? Tools? terlalu sederhana kalau bilang AI cuma alat seperti Canva atau CapCut. Seorang filsuf pongah bilang: AI itu episteme. Cara baru membentuk atau pengetahuan. Episteme? Bahkan kita masih berdiri di kamar dalam ruang yang coba kita definisikan itu. Epistemic shifting, boleh jadi benar. Atau epistemic rupture. Entahlah.

Siapa para raksasa itu waktu mereka kecil? Sekolah model apa yang menggemblengnya? Mungkin semacam Hogwarts atau didikan ala Jedi di Star Wars. Indonesia jaman itu mungkin sudah sampai pada pencapaian budaya dan teknologi gilang gemilangnya. Jadi, sekolah-sekolah model begini, pastilah lazim di jamannya... Lalu "boom". Dekadensi terjadi. Dan IQ kita sekarang selisih tipis dari gorila.

Seorang uskup memilih berdiri bersama Republik ketika posisi paling aman adalah menjaga jarak. Dari Yogyakarta, Soegijapranata bukan hanya menegaskan bahwa orang Katolik mempunyai tanah air bernama Indonesia; ia ikut membuka jembatan Republik dengan Vatikan. Bertahun-tahun kemudian, sahabatnya, Bung Karno, datang tiga kali ke Vatikan dan diterima tiga Paus berbeda. Anton mulai mengerti: cinta tanah air bukan slogan identitas. Ia adalah keberanian memilih di mana kita berdiri ketika kebaikan bersama dipertaruhkan.